Anak Bercita-cita Mulia, Jualan Sejak Belia Bantu Ibu dan Perekonomian Keluarga

Seorang anak bernama Jeni Adilasari belajar bersama ibu-ibu untuk mengelola usaha, keuangan, dan harapan.

Diterbitkan 01 Februari 2026, 14:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seorang anak bernama Jeni Adilasari, setiap harinya pada pukul 03.00 WIB dini hari sudah bangun. Ketika sebagian besar anak seusianya masih terlelap, Jeni sudah terbiasa terjaga.

Di sebuah rumah sederhana di Bojonegoro, Jawa Timur, sejak duduk di bangku SMP ia membantu ibunya membungkus nasi untuk dijual. Beberapa bungkus tak hanya dititipkan ke warung, tetapi juga ia bawa sendiri ke sekolah untuk ditawarkan ke teman-temannya.

Hari-hari Jeni diwarnai perjuangan. Hidup tak pernah benar-benar memberi ruang untuk pilihan lain selain membantu. Sepulang sekolah, ia kerap tak menemukan ibunya di rumah.

Hingga suatu sore, rasa penasaran membawanya bertanya pada tetangga. Jawabannya sederhana, namun membekas kuat di ingatannya, ibunya sedang 'sekolah' di Mekaar.

Di lingkungan tempat tinggalnya, 'sekolah' bukan berarti ruang kelas dengan papan tulis. Itulah istilah warga untuk menyebut Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM) para nasabah PNM Mekaar, ruang belajar bersama ibu-ibu untuk mengelola usaha, keuangan, dan harapan. Dari situlah Jeni mulai memahami bahwa ibunya bukan sekadar berjualan, tetapi sedang berjuang membangun masa depan keluarga.

"Sejak itu saya punya tekad. Kalau ibu-ibu seperti ibu saya saja mau belajar dan berani bermimpi, saya ingin suatu hari bisa berdiri di samping mereka," ujar Jeni, melalui keterangan tertulis, Minggu (1/2/2026).

Niat itu tak pernah surut. Setelah lulus SMA, Jeni tak ragu melangkah mendaftar sebagai Account Officer (AO) PNM Mekaar.

"Mekaar bukan sekadar tempat bekerja. Program itulah yang membantu ibu mendapatkan modal, belajar mengelola usaha, dan perlahan menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi keluarga mereka," cerita Jeni.

 

Mendampingi yang Lain

Lima tahun bergabung, Jeni bukan hanya menyaksikan perubahan pada nasabah-nasabah yang didampingi, tetapi juga pada dirinya sendiri. Ia menyimpan daftar impian, hal-hal yang dulu terasa mustahil dan satu per satu mulai tercentang.

"Dari membantu ekonomi keluarga, menjadi tumpuan bagi adik-adik, hingga mimpi yang paling disimpan rapat yaitu menginjakkan kaki di Tanah Suci," ucap Jeni.

Impian itu akhirnya terwujud pada Januari 2026. Melalui program Employee Reward PNM, sebagai bentuk apresiasi kinerja terbaik, Jeni mendapatkan kesempatan umrah gratis, sebuah hadiah yang tak pernah ia bayangkan saat masih membungkus nasi dini hari.

"Dari dulu saya selalu percaya, kalau kita menanam niat baik hal-hal baik semesta akan menemukan jalannya sendiri. Tugas kita cuma satu, konsisten berbuat baik walau perlahan," ucap Jeni.

Kini, setiap kali mendampingi para ibu dalam pertemuan mingguan, Jeni seperti melihat ulang potongan hidupnya sendiri.

"Di antara tawa, catatan kecil, dan cerita perjuangan, saya tahu satu hal, apa yang dulu dilihat dari ibu di bangku 'sekolah' Mekaar, kini dilanjutkan dengan membantu lebih banyak keluarga bertahan, tumbuh, dan berani bermimpi," tutup Jeni.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6