Lebih Tua dari Seni Gua Eropa, Cap Tangan Purba Ditemukan di Sulawesi Tenggara

Seni cadas ini berusia 67.800 tahun.

Diterbitkan 22 Januari 2026, 13:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Tim BRIN menemukan seni cadas cap tangan berusia 67.800 tahun di Pulau Muna.
  • Ini adalah seni cadas tertua di dunia, mengalahkan temuan di Maros dan Spanyol.
  • Temuan ini membuktikan migrasi laut manusia modern ke Sahul 70.000 tahun lalu.

Liputan6.com, Jakarta - Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University dan Southern Cross University (Australia), menemukan seni cadas berupa cap tangan manusia di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Seni cadas ini berusia 67.800 tahun.

Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Oktaviana mengungkapkan, usia minimum seni cadas Pulau Muna ini lebih tua 16,6 ribu tahun dibandingkan seni cadas dari Maros, Pangkep yang ditemukan sebelumnya.

"Seni cadas ini juga 1,1 ribu tahun lebih tua dibandingkan cap tangan dari Spanyol yang sebelumnya dikaitkan dengan Neanderthal dan selama ini dianggap sebagai seni gua tertua di dunia," kata Oktaviana melalui keterangan tertulis, Kamis (22/1/2026).

Oktaviana menjelaskan, tim peneliti menerapkan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua. Hasil analisis menunjukkan umur 71,6 ± 3,8 ribu tahun, yang memberikan batas usia minimum sebesar 67,8 ribu tahun bagi cap tangan di Liang Metanduno, Pulau Muna.

Dia menekankan, penemuan cap tangan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat terpenting dalam sejarah awal seni simbolik dan penjelajahan laut manusia modern di dunia.

Temuan ini merupakan seni cadas tertua yang pernah tertanggal secara andal, sekaligus memberikan bukti langsung bahwa manusia telah menyeberangi laut secara sengaja sejak hampir 70.000 tahun lalu.

"Sangat mungkin bahwa pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur dan akhirnya mencapai Australia," ujar Oktaviana.

Ungkap Jalur Migrasi Kuno

Oktaviana menyatakan temuan ini juga sekaligus memperkuat model kronologi panjang, yang menyatakan bahwa manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia-Papua), setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu.

Menurutnya, temuan ini menjadi bukti langsung tertua keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul, yang menandai keberanian nenek moyang menyeberangi laut dari Kalimantan (Borneo) ke Papua. Wilayah lintasan bersejarah ini pun dinilai masih menyimpan banyak misteri karena hingga kini relatif jarang tersentuh penelitian arkeologis.'

Periset Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE) Griffith University, Adam Brumm menyampaikan cap tangan yang ditemukan dalam seni cadas di Pulau Muna ini juga memiliki ciri unik secara global, dengan modifikasi yang mempersempit bentuk jari, sehingga menyerupai cakar (narrow finger), mencerminkan ekspresi simbolik yang matang.

"Namun, seni ini bisa saja melambangkan gagasan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan yang sangat erat. Hal tersebut sudah terlihat dalam seni lukis paling awal di Sulawesi, termasuk setidaknya satu adegan yang kami tafsirkan sebagai representasi makhluk setengah manusia dan setengah hewan," ucap Adam, dilansir Antara.

Dengan ditemukannya sebaran situs seni cadas Pleistosen di kawasan karst wilayah Sulawesi, hal ini membawa tanggung jawab besar dalam pelestarian warisan budaya tak tergantikan.

Para peneliti menyerukan agar perlindungan kawasan karst yang mengandung situs seni cadas purba menjadi bagian integral dari perencanaan tata ruang dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6