Tambah Lima Profesor, UMS Perkokoh Fondasi Riset Teknologi dan Pembangunan Berkelanjutan

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi mengukuhkan lima guru besar baru lintas disiplin ilmu sebagai langkah strategis untuk mengakselerasi inovasi riset teknologi serta mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.

Diterbitkan 22 Januari 2026, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jawa Tengah (Jateng) memperkuat riset teknologi dan pembangunan berkelanjutan dengan tambahan lima guru besar.

Penambahan lima guru besar tersebut juga dalam rangka memperkuat kualitas untuk akademik yang inovatif dan relevan dengan tantangan dari industri global.

Dengan adanya penambahan tersebut, saat ini UMS mencatatkan sebanyak 70 guru besar. Pada jumpa pers berlangsung dengan khidmat menghadirkan para calon guru besar yang memaparkan hasil dari kontribusi keilmuan mereka di berbagai strategis kepada publik.

Petemuan tersebut dihadiri oleh Seketaris UMS Andy Dwi Bayu Bawono. Dalam sambutannya yang dikutip dari Antara, Kamis (22/1/2026), ia menyampaikan rasa syukurnya terhadap para guru besar yang akan dikukuhkan.

"Alhamdulillah nanti lima orang guru besar baru ini yang akan nanti menyampaikan beberapa hal," ujar Andy.

Kemudian, guru besar ke-66 dari Prodi Teknik Industri, Fakultas Teknik Suranto mengusung gagasan inovatif tentang Technopreneurship.

Sebuah wadah pemberdayaan untuk calon lulusan yang memadukan perkembangan Artifical Intelligence (AI) dan kewirausahaan.

Inkubator tersebut bertujuan menyelaraskan program pembangunan berkelanjutan dalam menjawab dalam permasalahan pengangguran terdidik.

"Hal ini digunakan sebagai metode pembelajaran, sebagai tempat melakukan pemberdayaan. Metode digunakan sebagai skenario pembelajaran, dan sarana sebagai model digunakan penguatan kepada masyarakat dalam pembelajaran," jelas Suranto.

Ia berharap technopreneurship dapat melahirkan lulusan-lulusan yang mandiri, inovatif, dan juga berkarakter islami, serta berdampak pada penurunan pengangguran dan penguatan ekonomi digital.

Integrasi Teknologi IoT dan Instrumentasi Dukung Pembangunan Berkelanjutan

Menurut catatan Emergency Event Database (EM-DAT),  pada tahun 2024 lalu telah terjadi 393 bencan alam yang mengakibatkan kerugiannya terhadap material dan psikologis.

Dalam situasi demikian, konsep masyarakat tangguh terhadap berbagai bencana yang dapat menekankan angka risiko negatif sebuah bencana.

Guru besar ke-68 dari Prodi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Heru Supriyono menyebut, pihaknya mengembangkan instrumentasi dan kendali yang terintegrasi dengan teknologi Internet of Things (IoT) yang tujuannya untuk memperkuat pembangunan dalam bidang sains dan juga teknologi.

Instrumen elektronik merupakan gabungan dari komponen elektronika, berfungsi untuk mengelola sumber daya listrik, yang dapat membantu aktivitas manusia dengan waktu yang singkat dan pada kegiatan yang membutuhkan pemantauan dan pengendalian jarak jauh ataupun proses yang berpotensi membahayakan kesehatan dan keselamatan manusia.

Heru menegaskan pengembangan instrumentasi elektronik dan teknologi IoT berpotensi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam memperkuat sains, teknologi, dan hilirisasi riset.

Integrasi Ilmu Tafsir dan Kebijakan Publik sebagai Solusi Krisis Moral Bangsa

Pengukuhan Guru Besar ke-70 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi momentum penting bagi pembaruan diskursus keagamaan di Indonesia. 

Akademisi dari Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Fakultas Agama Islam Andri Nirwana hadir membawa gagasan segar di tengah tantangan moralitas bangsa. 

Dalam pidato pengukuhannya, Andri menyoroti persoalan mendasar yang paradoksal dalam masyarakat Indonesia, tingginya semangat keberagamaan yang belum berbanding lurus dengan kedewasaan etika publik.

Menurutnya, fenomena lemahnya etika publik seperti korupsi, ketidaktertiban sosial, hingga pelanggaran hukum dapat menyebabkan berbagai permasalahan sistemik, meskipun secara formal peraturan beragama dan undang-undang telah ditetapkan.

Ia menilai adanya keterputusan (gap) antara nilai teologis yang dipelajari di ruang ibadah dengan implementasi perilaku di ruang publik.

"Pendekatan ini menempatkan ilmu tafsir sebagai disiplin interdisipliner yang berdialog dengan ilmu sosial kebijakan publik dan studi kebangsaan tanpa kehilangan akar metodologisnya," terangA ndri.

Melalui kajian Ilmu Tafsir, ia berharap bisa berkontribusi untuk memperkuat fondasi etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6