Cerita Haru Tanti Pegawai SPPG Paseban, Bujuk Orang Tua yang Tolak MBG untuk Anak

Cerita pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berhasil bujuk orang tua siswa yang sempat larang anaknya mengonsumsi MBG di sekolah.

Diterbitkan 19 Januari 2026, 19:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Tanti membujuk orang tua agar anak-anak ikut Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
  • Orang tua khawatir keamanan MBG, Tanti jelaskan proses masak dan kebersihan.
  • Pendekatan Tanti berhasil, anak-anak akhirnya diizinkan makan MBG.

Liputan6.com, Jakarta - Tanti Suhermayani (55) tahu ia hanya pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Paseban, Jakarta Pusat, yang kesehariannya mencuci ompreng (wadah makan) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, ia tak tega melihat ada sejumlah siswa yang juga merupakan teman sekolah anaknya, Amel, tidak ikut menikmati makan siang gratis karena kekhawatiran orang tua mereka.

Tanti, yang akrab disapa Mama Amel, pun membujuk orang tua siswa tersebut agar mengizinkan anaknya menyantap MBG. Selain itu, si anak pun meminta tolong secara langsung kepadanya agar berbicara ke orang tuanya. Hal tersebut diungkap Tanti saat mengikuti sesi wawancara “Sinergi Indonesia” Badan Komunikasi Pemerintah RI, dikutip Senin (19/1).

“Waktu saya ke sekolahan tuh, anak-anak saya tuh semua pada makan ya. Terus ada tiga orang anak di luar. Terus saya tanya, ‘kenapa nggak masuk, nggak ikut makan?’ Terus anaknya geleng kepala. Katanya, ‘saya nggak boleh sama mama',” ucap Tanti.

Tanti mengaku peristiwa itu membuat hatinya terenyuh. Salah satu anak bahkan menangis dan memeluknya erat, meminta agar Tanti menyampaikan kepada orang tuanya supaya ia diperbolehkan ikut menyantap MBG bersama teman-temannya.

“Dia bilang, ‘tolong Mama Amel, saya pengin banget makan MBG.’ Terus dia nangis di pelukan saya,” ujar Tanti.

Di balik layar program MBG

Keesokan harinya, Tanti berusaha menemui orang tua siswa tersebut. Upaya itu tidak langsung berhasil. Ia bahkan sempat menyampaikan kegundahannya kepada guru di sekolah. Dari sana, Tanti mengetahui bahwa larangan tersebut berasal dari kekhawatiran orang tua terhadap keamanan makanan MBG.

Tak menyerah, Tanti akhirnya bertemu langsung dengan salah satu orang tua. Ia berbicara dengan tenang dan menjelaskan proses masak hingga distribusi MBG, termasuk soal kebersihan, kandungan gizi, serta berbagai faktor yang kerap disalahpahami sebagai penyebab keracunan makanan.

“Saya coba jelasin kalau kejadian keracunan itu banyak faktornya. Ya, memang sih bisa dari makanan. Tapi kan bisa juga dari wadah omprengnya, mungkin dicucinya nggak bersih atau nggak kering. Kalau basah, makanan bisa terkontaminasi bakteri,” jelasnya.

Sebagai pegawai SPPG yang tidak hanya terlibat dalam pencucian ompreng, Tanti juga ikut andil dalam proses memasak dan pengantaran makanan. Karena itu, ia yakin proses penyajian MBG selalu dilakukan dengan standar kesehatan dan kebersihan yang terukur sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN).

Pendekatan personal tersebut akhirnya membuahkan hasil. Keesokan harinya, anak tersebut diizinkan makan paket MBG di sekolah. Anak itu bahkan menghampiri Tanti dan mengucapkan terima kasih.

“Dia bilang, ‘Mama Amel, makasih.’ Saya terharu banget,” katanya.

Bagi Tanti, kejadian tersebut menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Meski bekerja di balik layar program MBG, ia merasa terpanggil untuk memastikan tidak ada anak yang merasa tersisih hanya karena kekhawatiran yang belum terjawab.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6