Guru Besar IPB: Bangka Belitung Berpotensi jadi Penghasil Blue Carbon dengan Nilai Ekonomi Tinggi

Menurut Guru Besar IPB University, Bangka Belitung memiliki ekosistem mangrove, padang lamun, dan hutan bakau yang luas sehingga berpotensi menjadi penghasil “blue carbon”.

Diterbitkan 16 Januari 2026, 10:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Bangka Belitung berpotensi besar sebagai penghasil karbon biru dari ekosistem pesisir.
  • Potensi ini tawarkan nilai ekonomi tinggi dari kredit karbon dan jaga lingkungan.
  • Pengelolaan terencana melibatkan semua pihak penting untuk manfaat maksimal.

Liputan6.com, Jakarta - Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu penghasil karbon biru atau 'blue carbon' di Indonesia. 

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University Profesor Luky Adrianto menyatakan, potensi ini berasal dari kekayaan ekosistem pesisir dan laut yang luas di daerah tersebut. 

Ekosistem mangrove, padang lamun, dan hutan bakau yang ada tidak hanya berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang signifikan melalui mekanisme perdagangan kredit karbon.

"Kekayaan ekosistem pesisir dan laut daerah ini memiliki potensi ekonomi besar melalui perdagangan kredit karbon," ujar Luky, melansir Antara, Jumat (16/1/2026).  

Dengan pengelolaan yang tepat, daerah ini dapat memanfaatkan ekosistemnya untuk menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat. 

"Pengembangan potensi 'blue carbon' harus dilakukan secara terencana, melibatkan pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas lokal agar manfaat ekologis dan ekonomi dapat dirasakan secara maksimal," papar Luky.

Bangka Belitung Dikembangkan sebagai Blue Carbon Island

Luky mengatakan, wilayah ini memiliki pulau-pulau kecil yang tersebar, ekosistem mangrove yang luas, serta padang lamun yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. 

Pemeliharaan ekosistem ini tidak hanya berfungsi ekologis, tetapi juga memiliki manfaat ekonomi melalui penyerapan karbon.

"Memilihara ekosistem mangrove yang nantinya ada blue carbon free diserap dan kemampuan penyerapan tersebut dapat meningkatkan perekonomian Kepulauan Babel," terang Luky.

Ekosistem mangrove yang sehat mampu menyerap karbon dari atmosfer, yang kemudian dapat dikonversi menjadi kredit karbon atau 'carbon credit' yang dapat diperdagangkan. 

"Upaya pemeliharaan dan pengelolaan mangrove secara berkelanjutan akan menjadikan Bangka Belitung sebagai wilayah strategis dalam program pengembangan karbon biru, sekaligus memperkuat kontribusi daerah terhadap mitigasi perubahan iklim," papar Luky.

Potensi Ekonomi dan Manfaat Lingkungan dari Blue Carbon

Setiap satu ton karbon yang terserap dapat diperdagangkan, dengan nilai mencapai 358 Dolar Amerika Serikat per ton seperti lelang karbon yang terjadi di Jakarta.

Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan ekosistem pesisir tidak hanya berperan ekologis, tetapi juga memiliki manfaat ekonomi nyata bagi daerah.

Selain itu, pemanfaatan potensi ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat setempat. Sebagaimana ditegaskan, 

"Kalau potensi ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan pemerintah daerah ini tentunya kemajuan perekonomian daerah ini semakin baik," ucap Luky.

Upaya ini juga membutuhkan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah agar potensi karbon hijau bisa dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem. 

"Blue carbon ini tidak hanya memiliki potensi ekonomi tinggi, tetapi secara tidak langsung kita sudah menjaga dan memelihara ekosistem serta lingkungan pesisir dan laut di daerah kepulauan ini," jelas Luky.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6