43,5 Persen Warga Tak Mampu Beli Pangan Sehat, Pakar Dorong MBG Tepat Sasaran

Asupan bernutrisi yang tidak konsisten berisiko menghambat pembentukan struktur otak dan menentukan kualitas manusia Indonesia di masa depan.

Diterbitkan 09 Januari 2026, 22:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter Spesialis Anak sekaligus Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, SpA (K) menegaskan bahwa pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun tidak boleh terputus.

Menurutnya, asupan bernutrisi yang tidak konsisten berisiko menghambat pembentukan struktur otak dan menentukan kualitas manusia Indonesia di masa depan.

“Sejak di dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun—periode 1.000 hari pertama kehidupan—struktur makro dan mikro otak sedang dibentuk secara masif. Proses ini membutuhkan asupan nutrisi lengkap tanpa jeda. Jika tidak diberikan setiap hari, pertumbuhan otak berisiko tidak optimal,” ujar Soedjatmiko.

Pernyataan itu menjadi pengingat keras di tengah kondisi ketahanan pangan nasional yang belum sepenuhnya aman. Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) dalam The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) 2025 mencatat 43,5 persen penduduk Indonesia tidak mampu membeli pangan sehat.

Sementara itu, Global Hunger Index (GHI) 2025 menempatkan Indonesia di peringkat 70 dari 123 negara, dengan tingkat kelaparan masih berada pada kategori moderat.

Bagi keluarga prasejahtera, persoalan pangan bukan sekadar pilihan menu, melainkan soal bertahan hidup. Sebagian besar pendapatan mereka habis untuk kebutuhan makan. Kenaikan harga sekecil apa pun di pasar dapat langsung memangkas akses terhadap pangan bergizi, menjadikannya barang mewah yang sulit dijangkau.

Kondisi itu tergambar dari kisah Kasmi Harasti, relawan di dua dapur SPPG di Kabupaten Kaur, Bengkulu. Saat bertugas di Desa Suka Bandung dan Desa Tanjung Iman, ia mendapati seorang siswa menyimpan telur rebus—menu yang dibagikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Ketika ditanya apakah tidak suka telurnya, anak itu bilang sangat suka. Tapi ia ingin membawanya pulang untuk ayahnya, karena di rumah mereka jarang makan telur,” tutur Kasmi.

Kisah sederhana itu memperlihatkan betapa akses terhadap protein hewani masih menjadi kemewahan bagi sebagian keluarga. Di banyak daerah terpencil, telur, ayam, daging, atau ikan bukan konsumsi harian. Di titik inilah kehadiran negara menjadi krusial.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2025, jumlah keluarga miskin dan prasejahtera mencapai 8,47 persen. Dari kelompok ini, diperkirakan terdapat 2,16 juta ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan baduta, serta 3,33 juta siswa SD hingga SMA yang berasal dari keluarga prasejahtera. Kelompok-kelompok inilah yang paling rentan mengalami kekurangan gizi.

 

 

Instrumen Penting Buka Akses Pangan Bergizi

Prof Soedjatmiko menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi instrumen penting untuk membuka akses pangan bergizi bagi jutaan warga, terutama pada fase kehidupan paling menentukan.

Namun ia mengingatkan bahwa pemberian MBG untuk ibu hamil, menyusui, bayi, dan balita jauh lebih kompleks dibandingkan untuk anak usia sekolah.

“Bagaimana memastikan ibu hamil di pelosok mendapatkan asupan setiap hari jika mereka tidak bisa ke Puskesmas? Sistem pengantaran ke rumah menjadi kunci, tapi itu membutuhkan manajemen yang jelas dan terukur,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya ketepatan sasaran. Menurutnya, manfaat jangka panjang MBG akan jauh lebih besar jika difokuskan pada keluarga miskin, sementara keluarga yang mampu dapat memenuhi kebutuhan gizinya secara mandiri. Efisiensi anggaran pun akan lebih optimal.

Selain itu, Soedjatmiko mendorong agar MBG dibarengi dengan program percontohan pengolahan pangan lokal.

“Agar keluarga mampu menyiapkan makanan bergizi secara mandiri dan tidak selamanya bergantung pada bantuan,” katanya.

Dari sisi ekonomi, MBG juga dipandang sebagai investasi jangka panjang pembangunan manusia. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mencatat program MBG berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa berdasarkan pemodelan Overlapping Generation Indonesia (OG IDN), dampak MBG terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) akan terlihat dalam jangka menengah hingga panjang.

“PDB diproyeksikan meningkat secara moderat, dengan puncaknya di kisaran 0,15 hingga 0,17 persen pada awal 2040-an,” ujar Rizal.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6