Trump Banjir Sorakan Penonton di Final Piala Dunia 2026

Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut mencuri perhatian dalam final Piala Dunia 2026.

Diterbitkan 20 Juli 2026, 13:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, New York - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ikut mencuri perhatian dalam final Piala Dunia pada Minggu (19/7/2026), setelah tetap berada di atas panggung bersama tim juara Spanyol saat mereka mengangkat trofi usai mengalahkan Argentina.

Dikutip dari Channel News Asia, meski mendapat sorakan keras ketika memasuki lapangan bersama Presiden FIFA Gianni Infantino, Trump tetap menikmati perhatian di akhir turnamen yang ia sebut sebagai "acara olahraga paling sukses mungkin dalam sejarah dunia".

Trump sempat bertahan di atas panggung ketika Infantino mencoba mengajaknya meninggalkan area tersebut, sementara para pemain Spanyol mengangkat trofi dalam perayaan kemenangan.

Pemimpin AS berusia 80 tahun itu bahkan sempat melakukan versi singkat dari tarian khasnya, "Trump dance", di depan para pemain Spanyol.

Sebelum pertandingan dimulai, Trump mengatakan ia memperkirakan bintang Argentina Lionel Messi akan memberikan keunggulan bagi negaranya. Ia juga menyebut Presiden Argentina yang berhaluan kanan, Javier Milei, yang tidak hadir karena alasan takhayul, sebagai "teman saya" dan mengatakan bahwa Milei telah "melakukan pekerjaan yang luar biasa".

Trump duduk tidak jauh dari Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney, dua pemimpin negara yang hubungan dengan Trump tidak begitu bersahabat.

Pemimpin AS itu sempat melakukan percakapan singkat dengan para pemimpin negara tuan rumah bersama turnamen tersebut.

Pada Jumat, Trump mengancam Kanada dengan tarif setelah asap dari kebakaran hutan besar menyebar ke wilayah timur laut Amerika Serikat dan menimbulkan kekhawatiran mengenai kualitas udara menjelang final Piala Dunia.

Sementara itu, hubungan Meksiko dengan Washington tetap tegang akibat kebijakan pengetatan imigrasi besar-besaran Trump serta ancaman penggunaan kekuatan militer terhadap para pelaku perdagangan narkoba.

 

Trump dan PM Spanyol Berjabat Tangan

Trump juga berjabat tangan dengan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, meski sebelumnya Trump mengecam Madrid karena dianggap tidak membantu dalam perang Iran dan tidak memenuhi target belanja pertahanan NATO.

Trump turut menyerahkan trofi kepada Spanyol bersama Infantino.

Pertandingan tersebut menjadi laga Piala Dunia pertama yang dihadiri Trump, sebuah langkah yang tidak biasa bagi pemimpin berusia 80 tahun yang dikenal menyukai acara-acara publik.

Namun, keterlibatan Trump dalam turnamen ini bukanlah hal baru.

Kurang dari dua pekan sebelumnya, Trump secara kontroversial menelepon Infantino untuk meminta FIFA mencabut kartu merah terhadap penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun agar ia dapat bermain dalam pertandingan babak 16 besar melawan Belgia.

Meski memicu perdebatan mengenai keadilan dan pengaruh, Trump tetap menyebut Piala Dunia 2026 sebagai turnamen terbaik yang pernah ada.

"Ini merupakan acara olahraga paling sukses mungkin dalam sejarah dunia. Ini luar biasa," kata Trump dalam acara FIFA bersama Infantino di Trump Tower, New York, pada Jumat.

 

Populerkan Sepak Bola di AS

Trump mengatakan 104 pertandingan dalam turnamen tersebut juga membantu semakin mempopulerkan sepak bola di Amerika Serikat.

"Ternyata kami adalah negara sepak bola, dan saya pikir ini akan tetap bertahan," kata Trump. Ia juga menyebut putranya, Barron, yang berusia 20 tahun, sebagai penggemar berat olahraga tersebut.

Trump telah mengaitkan citra politiknya dengan Piala Dunia sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025. Sejak itu, ia beberapa kali menjamu Infantino.

Namun, persiapan menuju turnamen juga menghadapi kendala akibat kebijakan imigrasi Trump yang membuat sejumlah penggemar mengalami masalah visa.

Pada kejuaraan Piala Dunia Antarklub FIFA di stadion New Jersey yang sama tahun lalu, juara Chelsea sempat kebingungan ketika Trump tetap berada di podium saat mereka menari setelah menerima trofi darinya.

Trump kemudian mengklaim bahwa ia diperbolehkan menyimpan trofi tersebut di Ruang Oval Gedung Putih. Namun, FIFA mengatakan trofi yang dipajang sebenarnya merupakan replika.