Viva Yoga Ajak Tokoh dan Pemuda Islam Bersatu, Soroti Lemahnya Kekuatan Politik Islam

Viva Yoga menyayangkan minimnya kekuatan politik Islam dalam peta demokrasi Indonesia, berbeda dengan masa lampau ketika Partai Masyumi memiliki posisi signifikan

Diterbitkan 28 Desember 2025, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Wamentrans tekankan peran tokoh dan pemuda Islam jaga persatuan bangsa.
  • Kebersatuan umat Islam penting karena minimnya kekuatan politik Islam saat ini.
  • Nasionalisme religius dan peran Pemuda Muhammadiyah perlu diperkuat.

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) RI Viva Yoga Mauladi menekankan pentingnya peran tokoh dan pemuda Islam dalam menjaga persatuan dan membangun bangsa.

Hal itu ia sampaikan dalam Rapat Pimpinan Daerah 1 Pemuda Muhammadiyah Lamongan Periode 2023–2027 di Trawas, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (25/12/2025).

Viva Yoga mengatakan aspirasi perlunya gerakan kebersatuan umat Islam juga dirasakan sejumlah pimpinan nasional. Ia menuturkan hal itu pernah muncul saat dirinya berdiskusi dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi.

“Sebagian besar juga menginginkan harus ada gerakan kebersatuan dari tokoh-tokoh Islam,” ujarnya.

Viva Yoga menyayangkan minimnya kekuatan politik Islam dalam peta demokrasi Indonesia, berbeda dengan masa lampau ketika Partai Masyumi memiliki posisi signifikan. Saat ini, kata dia, sejumlah partai Islam bahkan gagal melampaui ambang batas parlemen atau parliamentary threshold.

“Sekarang banyak juga partai-partai Islam yang tidak memiliki parliamentary threshold sehingga tidak bisa masuk ke Senayan,” tegasnya.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya persatuan dan kesadaran kolektif umat Islam agar tidak mudah terpecah oleh kepentingan pragmatis.

“Harus ada kesadaran kolektif agar bisa bersatu, jangan dijadikan kayu bakar, jangan terpecah-belah oleh hal-hal yang bersifat pragmatisme. Misalnya soal tambang dan lain sebagainya. Itu hal-hal yang remeh-remeh sebenarnya,” katanya.

 

Tekankan Nasionalisme Religius

Viva Yoga juga menyerukan penguatan konsep nasionalisme religius sebagai identitas kebangsaan Indonesia. Menurutnya, prinsip ini tercermin dalam sila pertama Pancasila dan telah mengakar sejak masa kolonialisme.

“Kolonialisme-imperialisme itu dalam ajaran agama manapun adalah bentuk kezaliman, maka nasionalisme Indonesia itu bersifat religius,” jelasnya.

Ia menilai semangat nasionalisme religius perlu kembali dibangkitkan, termasuk sebagai pendorong kebangkitan politik Islam yang konstruktif.

Dalam kesempatan itu, Viva Yoga menyebut Pemuda Muhammadiyah sebagai kelompok “prophetic minority” atau kekuatan kecil yang memiliki nilai spiritual kuat dan mampu mendorong perubahan sosial.

“Pemuda Muhammadiyah itu adalah kaum terpelajar. Merupakan prophetic minority, kekuatan kecil seperti seorang nabi yang melakukan transformasi sosial,” katanya.

Ia menegaskan Pemuda Muhammadiyah memiliki peran strategis sebagai kader umat dan kader bangsa sehingga proses kaderisasi harus terus diperkuat.

“Pemuda Muhammadiyah sebagai kekuatan dari kader umat dan kader bangsa harus melakukan kaderisasi. Itu penting,” tutupnya. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6