Kemenekraf Dorong Hilirisasi dan Kolaborasi untuk Perkuat Ekonomi Kreatif Daerah

Menekraf Teuku Riefky Harsya, menyatakan komitmennya dalam memperkuat peran ekonomi kreatif sebagai pilar pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah.

Diterbitkan 19 Desember 2025, 18:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya, menyatakan komitmennya dalam memperkuat peran ekonomi kreatif sebagai pilar pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah.

Hal ini disampaikan Riefky dalam acara Penetapan Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia Tahun 2025, Jumat (19/12/2025), di Hotel Borobudur, Jakarta.

“Dalam Asta Cita tentu sudah dijelaskan terutama poin ketiga dan kelima yang sangat dekat dengan apa yang kita lakukan hari ini. Pertama Asta Cita ketiga, disitu dikatakan bahwa bagaimana kita semua diarahkan untuk meningkatkan lapangan kerja berkualitas. Melalui salah satunya adalah industri kreatif,” ujar Riefky.

Menurut Riefky, arah kebijakan ekonomi kreatif sejalan dengan Asta Cita Presiden, khususnya dalam penciptaan lapangan kerja berkualitas dan peningkatan nilai tambah dalam negeri.

“Jadi yang mesti kita garis bawahi adalah ada kata-kata lapangan kerja berkualitas. Artinya tidak sekedar lapangan kerja untuk industri kreatif ini tetapi harus mempunyai skill. Skill khusus yang bisa mengupgrade, meningkatkan kualitas produk kreatif di daerah kita,” katanya.

Riefky juga menekankan bahwa hilirisasi bukan hanya dipahami dalam konteks sektor pertambangan saja, melainkan juga harus diterapkan pada sektor industri kreatif.

“Hilirisasi tidak hanya di sektor tambang, tetapi hilirisasi ini juga di sektor industri kreatif,” tegasnya.

Ia mencontohkan, bagaimana hilirisasi ekonomi kreatif dapat dilakukan dengan mendorong produk lokal agar mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Fashion asing jadi fashion lokal, musik asing jadi musik lokal, kuliner asing menjadi kuliner lokal, dan seterusnya. Ini memberikan nilai tambah untuk daerah kita,” katanya.

 

Kolaborasi Lintas Sektor

Di sisi lain, Riefky menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap diberikan kebebasan untuk menentukan subsektor unggulan masing-masing sesuai dengan potensi daerahnya.

“Untuk kabupaten kota kami mempersilahkan setiap daerah untuk menentukan subsektor prioritasnya sesuai keunggulan daerah masing-masing. Sebagai lokomotif, karena akan menarik perkembangan dari subsektor lainnya,” jelasnya.

Dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang kuat, Kemenekraf mengedepankan kolaborasi lintas sektor dengan berbagai pihak, baik nasional maupun internasional.

Riefky menyampaikan bahwa kerja sama tersebut tidak hanya sampai pada penandatanganan nota kesepahaman, melainkan harus di hilirisasi langsung ke daerah.

“Kerja sama ini akan kami realisasikan ke pemda dan asosiasi, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para pejuang ekonomi kreatif di daerah,” ujarnya

Salah satu contoh kolaborasi lintas sektor Kemenekraf adalah dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk melindungi pekerja ekonomi kreatif yang mayoritas berada di sektor informal.

“Misalnya BPJS Ketenagakerjaan yang kami sudah menandatangani kerja sama, karena rata-rata pekerjaan ekraf itu adalah pekerjaan informal, bukan yang di kantoran dengan kontrak, sehingga akan sulit untuk mengurus BPJS Ketenagakerjaannya,” jelasnya.

 

Kerja Sama dengan Perusahaan Teknologi Digital

Selain itu, Kemenekraf juga bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan teknologi digital seperti, Google, Microsoft, dan Canva dalam pengembangan talenta digital.

“Siapa yang bisa kami latih, tentu kami akan menghilirisasi kerja sama itu dengan para kepala daerah,” katanya.

Riefky juga memaparkan tentang capaian mengenai kinerja Kemenekraf sepanjang tahun 2025 yang menunjukkan tren positif. Untuk investasi sektor ekonomi kreatif, target sebesar Rp136,3 triliun telah tercapai 66% pada 6 bulan pertama.

“Hal ini menunjukkan bahwa pihak internasional juga terus mencari kemana sektor kreatif di Indonesia yang mereka bisa lakukan investasi,” jelasnya. 

Dari sisi ekspor, ekonomi kreatif mencatat capaian yang memuaskan. “Nilai ekspor ekonomi kreatif telah mencapai 101%, dengan sejumlah 11,12% dari total ekspor nonmigas, dan menjadi yang tertinggi dalam 5 tahun terakhir,” pungkas Riefky.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6