BGN Beri Peringatan Korektif untuk SPPG Kuta–Kuta 02, Ini Penyebabnya

Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan peringatan berupa catatan korektif kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuta–Kuta 02 di Kelurahan Kuta, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.

Diterbitkan 12 Desember 2025, 21:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • BGN beri catatan korektif ke SPPG Kuta-Kuta 02 untuk tingkatkan standar gizi.
  • Temuan meliputi sanitasi, fasilitas dapur, keamanan kerja, dan fasilitas relawan.
  • SPPG berkomitmen perbaiki infrastruktur dan fasilitas sebelum akhir tahun 2025.

Liputan6.com, Badung - Dalam rangka memastikan pemenuhan standar gizi, Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan catatan korektif kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuta–Kuta 02 yang berada di Kelurahan Kuta, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.

Saat melakukan pemantauan dan pengawasan pada Sabtu, 6 Desember 2025, tim BGN menemukan sejumlah aspek yang perlu ditingkatkan, terutama terkait sanitasi, fasilitas dapur, dan kelengkapan keamanan kerja. BGN menilai, seiring dengan bertambahnya penerima manfaat hingga 2.996 orang, peningkatan kualitas sarana menjadi kunci agar layanan gizi tetap optimal setiap hari.

Hasil pemeriksaan menunjukkan beberapa hal terkait kondisi infrastruktur yang perlu menjadi perhatian. Di antaranya, tirai PVC yang kurang rapat, lantai dapur yang licin, ukuran exhaust fan yang kecil, serta insect killer yang belum berfungsi optimal.

Selain itu, alat pemadam kebakaran belum tersedia, gas masih belum terlindungi teralis besi, dan akses kamar mandi yang berdekatan dengan ruang produksi belum memiliki pemisahan yang cukup.

“Beberapa temuan ini sifatnya korektif dan dapat segera dibenahi. BGN mendorong SPPG untuk meningkatkan standar sanitasi sehingga pelayanan gizi tetap aman dan berkualitas bagi masyarakat,” ujar Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati di Bali, Jumat (12/12/2025).

Catatan Sisi Fasilitas dan SDM

Dari sisi fasilitas relawan, tim menemukan belum tersedianya ruang ganti, jumlah loker yang belum sesuai, serta sekat pemorsian yang belum tertutup penuh. Pada aspek SDM, tim mendorong peningkatan kedisiplinan kebersihan harian, serta menyarankan agar chef mengikuti sertifikasi untuk memperkuat standar pelayanan.

Meski demikian, BGN mengapresiasi sejumlah keunggulan SPPG Kuta–Kuta 02, seperti semangat relawan yang tinggi, program zero waste, pemanfaatan maggot untuk pengolahan limbah makanan, serta kedekatan lokasi dengan bandara yang menjadikannya titik kunjungan berbagai pihak. Catatan korektif BGN disebut bertujuan memperkuat keunggulan-keunggulan tersebut.

“SPPG ini memiliki potensi besar dan relawan yang sangat kompak. Karena itu justru penting untuk memastikan fasilitas produksinya semakin baik dan memenuhi standar,” tambah Hida.

Dari sisi komunikasi publik, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digitalisasi Bidang Komunikasi dan Media Massa, Molly Prabawati, menekankan bahwa perbaikan seperti ini merupakan bagian dari transparansi pelayanan publik.

“Penyampaian temuan dan rencana perbaikan adalah bagian dari akuntabilitas. Publik perlu tahu bahwa proses peningkatan mutu selalu berjalan,” ujar Molly.

Sementara itu, Kepala Biro Umum dan Keuangan Badan Karantina Indonesia, Gladys Peuru yang turut hadir di lokasi, mengingatkan pentingnya konsistensi pengelolaan rantai pasok bahan pangan.

“Keamanan pangan berawal dari rantai pasok yang tertata rapi. Peningkatan standar di dapur SPPG penting untuk memastikan alur penyediaan pangan berjalan aman di setiap tahap,” jelas Gladys.

Pihak pengelola SPPG Kuta–Kuta 02 menyatakan komitmennya untuk melakukan perbaikan infrastruktur sebelum akhir tahun 2025, termasuk pembenahan dapur dan penyediaan fasilitas keselamatan kerja.

 

(*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6