Wali Kota Bontang Resmi Tutup Erau Pelas Benua 2025, Tegaskan Pentingnya Pelestarian Budaya Lokal 

Neni menegaskan bahwa pelaksanaan Erau bukan sekadar rangkaian seremoni, melainkan representasi bahwa akar budaya Kutai Kartanegara Ing Martadipura masih mengakar kuat di tengah arus modernisasi.

Diterbitkan 25 November 2025, 15:29 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Festival Erau Adat Pelas Benua berakhir, menunjukkan akar budaya Kutai yang kuat.
  • Erau adalah energi sosial yang menghidupkan budaya, bukan sekadar seremoni.
  • Diharapkan Erau masuk KEN untuk promosi pariwisata dan ekonomi kreatif lokal.

Liputan6.com, Bontang - Festival budaya Erau Adat Pelas Benua Kampong Adat Guntung resmi berakhir pada Ahad (23/11/2025) pagi. Acara penutupan dilakukan langsung oleh Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, yang menyampaikan apresiasi serta harapan besar atas pelestarian budaya Kutai yang terus dijaga hidup oleh masyarakat.

Dalam sambutannya, Neni menegaskan bahwa pelaksanaan Erau bukan sekadar rangkaian seremoni, melainkan representasi bahwa akar budaya Kutai Kartanegara Ing Martadipura masih mengakar kuat di tengah arus modernisasi.

“Erau Adat Pelas Benua membuktikan bahwa adat bukan cerita masa lalu, tetapi energi sosial yang terus menghidupkan masyarakat,” ujar Neni di hadapan warga dan tamu undangan.

 

Selama festival berlangsung, masyarakat disuguhkan berbagai pertunjukan seni dan ritual adat yang sarat makna, seperti tempong tawar sebagai lambang penyambutan dan keselamatan, serta belimbur yang melambangkan semangat persatuan dan pembaruan masyarakat.

Rangkaian kegiatan juga diramaikan dengan Festival Tari Nusantara, perlombaan olahraga tradisional, pameran artefak dan sejarah, hingga stan UMKM lokal berbasis budaya. Neni menyebut bahwa kelengkapan agenda ini menunjukkan budaya Kutai bukan hanya dijaga, tetapi juga dihidupkan dalam keseharian masyarakat.

“Seluruh rangkaian kegiatan ini adalah bentuk nyata bahwa budaya bukan hanya dirayakan, tetapi terus dihidupkan sebagai karakter, identitas, dan nilai masyarakat Kutai,” lanjutnya.

 

Wali Kota perempuan pertama di Bontang ini juga memberikan apresiasi tinggi kepada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, lembaga adat, komunitas budaya, serta seluruh elemen masyarakat yang terlibat dalam menyukseskan perhelatan ini.

“Budaya adalah akar peradaban. Siapa yang menjaga budayanya, ia sedang menjaga masa depannya,” ungkap Neni.

Lebih dari sekadar kegiatan budaya, Neni menilai Erau memiliki dampak strategis dalam mendorong pariwisata berbasis budaya dan memperkuat ekonomi kreatif masyarakat lokal. Menurutnya, pertunjukan budaya mampu menarik wisatawan, pameran sejarah memperkaya sisi edukasi, dan kehadiran pelaku UMKM menjadi penggerak ekonomi langsung di masyarakat.

 

Ke depan, Neni menyampaikan harapannya agar Erau Adat Pelas Benua Kampong Adat Guntung dapat masuk ke dalam agenda Kharisma Event Nusantara (KEN) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Jika masuk dalam KEN, maka nilai promosi budaya, jangkauan publik, serta kemitraan regional dan nasional akan semakin terbuka,” harapnya.

Menutup sambutannya, Neni mengajak seluruh masyarakat Bontang untuk terus menjaga dan merawat budaya sebagai warisan tak ternilai.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6