Indonesia Perkuat Kerja Sama South-South dalam Pengembangan Agroforestri Regeneratif

Pemerintah memperkuat kerja sama South melalui penerapan agroforestri regeneratif, strategi yang tidak hanya memulihkan tutupan hutan seluas 12,7 juta hektare, tetapi juga mendorong kesejahteraan masyarakat sekitar.

Diterbitkan 24 November 2025, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementrian Kehutanan (Kemenhut) kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerja sama negara-negara Selatan melalui penerapan agroforestri regeneratif sebagai strategi pemulihan hutan yang berkelanjutan.

Langkah ini menjadi penting mengingat tingginya kebutuhan solusi berbasis alam guna menghadapi laju deforestasi serta dampak perubahan iklim di kawasan tropis.

Pemerintah melihat bahwa pendekatan agroforestri regeneratif efektif untuk menyeimbangkan kepentingan ekologis dengan kebutuhan ekonomi masyarakat.

Strategi ini menjadi landasan dalam memperluas program pemulihan hutan yang melibatkan partisipasi warga di sekitar kawasan hutan.

Penasihat Utama Menteri Kehutanan (Menhut) Silverius Oscar Unggul menekankan, pendekatan agroforestri regeneratif menjadi solusi yang seimbang antara pelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat.

Strategi ini dijadikan dasar penting oleh pemerintah dalam memperluas program pemulihan hutan yang melibatkan masyarakat secara langsung.

"Agroforestri regeneratif adalah jalan tengah terbaik. Dengan model ini hutan pulih dan ekonomi rakyat tumbuh. Kami ingin memastikan bahwa pemulihan 12,7 juta hektare membawa manfaat bagi lingkungan sekaligus bagi masyarakat," ujar Penasihat Utama Menteri Kehutanan Silverius Oscar Unggul, yang dikutip dari Antara.

Dengan mengusung pola tanam campuran, menggabungkan pohon kayu dan komoditas bernilai jual tinggi seperti kopi, kakao, dan pala pemerintah bertujuan memulihkan tutupan hutan sekaligus membuka ruang bagi kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan.

"Pendekatan ini diharapkan bisa menekan pembukaan lahan baru sembari mendorong masyarakat setempat untuk tetap produktif," terang Silverius.

Selain itu, model agroforestri regeneratif juga memungkinkan terbentuknya rantai nilai hijau yang kuat. Petani hutan kini bisa mengakses pasar lebih luas, memaksimalkan hasil kebun mereka, dan ikut dalam ekonomi rendah karbon yang mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan.

Kolaborasi Lintas Lembaga dan Swasta Diperkuat untuk Agroforestri Regeneratif

Pemerintah secara intensif mendorong kerja sama antara berbagai lembaga pemerintah dan sektor swasta untuk memperkuat implementasi agroforestri regeneratif di seluruh kawasan hutan.

Berbagai program pelatihan, pendampingan teknis, dan transfer pengetahuan diberikan kepada petani hutan agar mereka mampu mengelola lahan secara produktif, efisien, dan berkelanjutan.

Langkah ini tidak hanya meningkatkan hasil produksi pertanian, tetapi juga memastikan praktik pengelolaan lahan tetap ramah lingkungan, selaras dengan prinsip pembangunan rendah karbon, serta mampu menjaga keseimbangan ekosistem.

Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi langsung, tetapi juga ikut berperan aktif dalam menjaga dan memulihkan tutupan hutan, sehingga tercipta sinergi yang kuat antara pembangunan ekonomi lokal dan keberlanjutan lingkungan secara jangka panjang.

Masyarakat Lokal jadi Pilar Keberhasilan Pemulihan Hutan

Pendekatan agroforestri regeneratif tidak hanya berfokus pada pemulihan tutupan hutan, tetapi juga berperan sebagai sarana edukasi penting bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Dengan keterlibatan langsung dalam penanaman dan pengelolaan tanaman kayu serta komoditas bernilai ekonomi seperti kopi, kakao, dan pala, warga diajak untuk lebih memahami peran vital mereka dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Pendekatan ini tidak sekadar meningkatkan pengetahuan teknis, tetapi juga membentuk kesadaran kolektif bahwa keberlanjutan hutan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah.

Melalui partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan pengelolaan hutan, masyarakat dapat melihat langsung dampak positif dari praktik ramah lingkungan terhadap produktivitas lahan, pendapatan keluarga, dan kualitas lingkungan di sekitarnya.

Dengan demikian, warga setempat menjadi pilar utama dalam keberhasilan pemulihan hutan jangka panjang, sekaligus ikut mendorong kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan secara bersamaan.

Rantai Nilai Hijau dan Akses Pasar Internasional jadi Peluang Ekonomi Baru

Pola tanam campuran yang diterapkan memungkinkan terbentuknya rantai nilai hijau yang kuat. Petani kini tidak hanya dapat mengakses pasar lokal, tetapi juga pasar internasional yang menuntut produk bebas deforestasi.

Hal ini membuka peluang ekonomi baru, meningkatkan daya saing produk lokal, dan memotivasi masyarakat untuk terus menjaga hutan sambil mengembangkan usaha produktif.

Pemerintah menargetkan pemulihan hutan seluas 12,7 juta hektare agar memberikan manfaat ganda: memperkuat ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kombinasi kebijakan, kerja sama internasional, dan partisipasi aktif masyarakat diharapkan menjadikan agroforestri regeneratif sebagai model unggulan yang dapat direplikasi di wilayah tropis lain.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6