Dari Gelapnya Tepian Sungai Taman Daan Mogot: Sisi Kelam Para Pemuda Tampan

Acong, seorang Pedagang Kaki Lima (PKL) hampir menjadi korban prostitusi sesama jenis di Taman Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat. Dia bercerita, pernah ditawari uang Rp50.000 hingga dijebak mampir ke rumah kosong.

Diterbitkan 19 November 2025, 08:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Acong duduk sembari meratapi nasib Taman Daan Mogot yang kini terasa suram. Taman yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Citra taman itu rusak setelah terungkap praktik prostitusi sesama jenis di sana. Taman yang menyimpan banyak cerita kelam para pria tampan.

Hampir setiap malam tiba, Acong melihat geliat praktik prostitusi di temaram malam pinggir bantaran sungai. Pedagang Kaki Lima (PKL) ini tahu betul penyimpangan perilaku manusia yang terjadi di Taman Daan Mogot. 

Melihat dua orang dengan jenis kelamin yang sama saling bermadu kasih, bukan pemandangan yang asing bagi Acong. Di gubuk kecil tempat dia menjual kopi, Acong melihat para pria ‘bersenang-senang’ di balik gelapnya malam dan rimbunya pepohonan. 

“Biasanya laki-laki sama laki-laki lah gitu kan, ya emang begitu keadaannya,” ujar Acong saat berbincang dengan Liputan6.com, Selasa (18/11/2025).

Acong sadar betul, perilaku ini menyimpang dari tatanan sosial yang ada. Namun, dia tak punya kuasa menghentikan aktivitas mereka.

Pria paruh baya yang tak suka wajahnya difoto itu tak pernah tertidur pulas. Kala malam menjemput, matanya selalu terjaga. Ketakutan Acong bukan tanpa sebab. Acong rentan menjadi korban praktik. Bukan sekali dua kali Acong ditawari untuk melakukan tindakan tak senonoh.

Tak jarang, dia didatangi orang. Bukan untuk membeli kopi, tetapi untuk melakukan ‘transaksi’. Selembar uang kertas disodorkan. Dengan tegas Acong menolak. Dia tetap memilih jalan menjual kopi daripada menjual diri. Pahitnya hidup rela ditelan selama masih di jalan yang benar. 

“Saya juga ditawarin, mau dikasih uang Rp 50.000,” ungkap Acong.

Ketika ditanya untuk apa memberikan uang pada Acong, pria itu hanya menjawab dengan satu kata tersirat yang menyimpan sejuta rahasia kelam Daan Mogot.

“Biasalah,” katanya.

Sejak itu, Acong selalu diselimuti rasa was-was ketika berjualan kopi di malam hari. Kelamnya Daan Mogot menghantui hidupnya.

“Saya juga lagi jaga, disamperin di situ tuh. Jadi gitu, dibayar Rp50.000. Kita dibayar Rp50.000,” jelas Acong.

Sempat Diajak ke Rumah Kosong

Jauh sebelum ditawari uang Rp 50.000, Acong ternyata pernah hampir jatuh ke jurang gelap maksiat. Dia ditipu pria tak dikenal yang berpenampilan bak wanita. Acong diajak pergi ke suatu tempat dengan dalih ingin meminta pertolongan. 

“Emang jenisnya kayak perempuan,” tutur Acong.

Mulanya, pria itu mengaku kesulitan untuk membawa barang-barang yang ada di tempatnya. Dia pun meminta bantuan kepada Acong untuk membawa sejumlah barang tersebut.

“Dia bilang mau bawa barang, bawa buah-buahan,” jelasnya.

Acong diminta mengikuti pria yang berpura-pura menjadi wanita. Sepanjang jalan, Acong sudah menaruh curiga. Semakin jauh, semakin sepi jalan yang dia lewati. Keraguan mulai menyelimuti Acong.

Benar saja, Acong dibawa ke rumah kosong yang sudah lama terbengkalai. Kata Acong, rumah ini sebetulnya berpemilik, tetapi memang tak ditempati dan dirawat. Melihat ada tempat yang pas untuk menjalankan misinya, rumah tersebut pun akhirnya digunakan untuk menjebak mangsa para pelacur itu.

Acong punya firasat yang kuat. Acong diminta untuk menunggu seorang diri di rumah itu. Tanpa berlama-lama, Acong pun pergi dan kembali ke gubuk kopi kecil miliknya. Beruntung pria itu tak kembali mengejar Acong.

“Saya tidak tahu kan, nah dibawa tuh, ke rumah yang kosong,” cerita Acong.

Kini, Acong sudah membatasi interaksi dengan orang-orang seperti mereka. Rasa takut itu masih menjalar di seluruh tubuhnya.

“Pernah ketipu juga saya sama orang begituan. Makanya saya sudah takut,” ucapnya.

Pelaku Sudah Beristri dan Berasal dari Keluarga Menengah ke Atas

Acong tak pernah marah pada oknum-oknum tersebut. Sebagian dari mereka justru senang berbagi cerita sambil meneguk kopi yang dibuatnya.

Dari sanalah Acong mendengar kisah kelam kehidupanpara pria itu. Acong paham betul seluk-beluk dan asal usul mereka. 

Dia menjelaskan, para pelaku bukanlah pria lajang yang tak senang bermain dengan perempuan. Mirisnya, sebagian besar dari mereka justru sudah memiliki istri. Perilaku menyimpang ini mereka lakukan secara diam-diam, tanpa sepengetahuan istrinya. 

Dari cerita mereka, para pria itu melakukan perbuatan tak pantas tersebut karena jenuh dengan rumah tangganya. Perdebatan dan cekcok dengan istri di rumah membuatnya mencari kesenangan di luar dengan cara yang salah.

Acong mengetahui perekonomian bukan masalah di balik perilaku menyimpang mereka. Rata-rata mereka datang dengan pakaian rapi bersih dan kendaraan yang tak murah harganya.

“Ganteng-ganteng orangnya. Bersih-bersih. Motornya bagus-bagus. Orangnya ganteng-ganteng,” ucap Acong.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6