BRIN Dorong Kebun Raya Pimpin Misi Konservasi dan Perkembangan Berkelanjutan

Menyikapi isu krusial hilangnya keanekaragaman hayati, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menekankan, kebun raya harus ditangani dengan serius.

Diterbitkan 18 November 2025, 16:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menyikapi isu krusial hilangnya keanekaragaman hayati, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menekankan, kebun raya harus ditangani dengan serius.

Ia memaparkan kebun-kebun memiliki empat fungsi strategis penting yakni sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tempat pengumpulan keanekaragaman genetik, tujuan wisata pendidikan, dan sumber penting kesejahteraan masyarakat.

"Kita harus terus memperkuat perspektif ini, tetapi kita harus berani memulai dengan praktik masa depan. Praktik masa depan berarti kita memulai hal-hal baru karena kekuatan terletak pada kreativitas, kekuatan terletak pada imajinasi," ujar Arif dalam acara Pertemuan Pengelola Kebun Raya Indonesia 2025, dikutip dari situs resmi BRIN, Selasa (18/11/2025).

Pertemuan tersebut bertema 'Jaringan Kebun Raya untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan' yang diselenggarakan di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis 13 November 2025 lalu.

Ia menambahkan, pengelola kebun raya harus menciptakan terobosan agar fungsi kebun raya dapat terlaksana secara efektif, terutama untuk pendidikan dan penelitian.

Menurut Arif, kebun raya juga berfungsi sebagai lokasi koleksi yang terhubung dengan fasilitas di sekitarnya dan berperan sebagai reservoir keanekaragaman genetik.

"Kebun raya juga berfungsi sebagai objek wisata karena yang dijual adalah jasa lingkungan, keindahannya, dan oksigennya. Kebun raya berfungsi sebagai paru-paru kota dan kawasan, penyerap karbon. Kebudayaan juga merupakan sumber kesejahteraan, sumber yang dapat membangkitkan kegiatan ekonomi," terang dia.

 

Tantangan ke Depan

Arif menekankan, kebun raya tidak seharusnya hanya terbatas pada upaya pelestarian. Kebun raya juga harus menjadi penggerak pemanfaatan sumber daya tumbuhan Indonesia dan penguatan jejaring konservasi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

"Tantangan ke depan adalah bagaimana kebun raya dapat menumbuhkan ruang dan komunitas yang aktif dan berdaya," ucap dia.

"Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana tidak hanya mengelola area internal tetapi juga menginspirasi pertumbuhan kebun raya berbasis komunitas. Mungkin suatu hari nanti BRIN akan memulai beberapa proyek percontohan untuk kebun raya mini," sambung Arif.

Dia mendorong pengelola menginspirasi pertumbuhan kebun raya berbasis komunitas.

"Mungkin suatu hari nanti BRIN akan memulai dengan beberapa proyek percontohan untuk kebun raya mini," kata Arif.

Untuk mendukung pencapaian SDGs, kolaborasi menjadi fokus utama pertemuan. Acara ini ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara BRIN dengan UN Global Compact Network Indonesia (IGCN) dan Botanic Gardens Conservation International (BGCI) untuk memperkuat jaringan global.

 

Pergeseran Pola Pikir Era BRIN

Kemudian, Deputi Bidang Riset dan Pemanfaatan Inovasi BRIN Hendrian menjelaskan, sejak era BRIN, pola pikir pengembangan kebun raya telah berubah.

Target utmanya bukan lagi menambah jumlah kebun raya baru, melainkan memperkuat kemandirian dan kualitas pengelolaan sesuai peraturan Presiden No. 83/2023.

Kebun raya dan upaya konservasi tanaman perlu ditempatkan dan dipandang dalam perspektif yang lebih luas, bukan sekadar pelestarian.

"Kebun raya harus terhubung dengan isu-isu strategis realitas keseharian kita, sehingga memiliki makna yang lebih dalam dan peran yang lebih berkontribusi," ucap Hendrian.

"Pertemuan ini menjadi wadah penguatan jejaring dan adopsi praktik terbaik antara pengelola," sambung dia. Pada pertemuan tahun ini, BRIN memberikan penghargaan Kebun Raya Terbaik 2025 kepada Kebun Raya Indrokilo (Jawa Tengah) dan Kebun Raya Banua (Kalimantan Selatan). Keduanya dinilai berhasil menjalankan lima fungsi utama, konservasi, pendidikan, penelitian, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat.

Kepala UPT Kebun Raya Indrokilo, Lilik Wahyuni mengaprepsiasi pendampingan BRIN yang berkelanjutan. Senada, Plt Kebun Raya Banua, Firmansyah, yang mengusung tema tanaman obah khas kalimantan, juga menegaskan koordinasi rutin dengan BRIN dalam meninjau rencana induk mereka.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6