Potret Guru yang Tak Lelah Berjuang Mengajar, Meski Gaji Kecil dan Sekolah Rusak

Pendidikan adalah hak bagi seluruh warga negara Indonesia. Namun sayang, kesejahteraan guru masih belum terpenuhi. Fasilitas sekolah pun banyak yang tidak layak di berbagai daerah.

Diterbitkan 31 Oktober 2025, 10:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pendidikan adalah hak bagi seluruh warga negara Indonesia. Namun sayang, kesejahteraan guru masih belum terpenuhi. Fasilitas sekolah pun banyak yang tidak layak di berbagai daerah.

Tauhid, seorang kepala sekolah TK Islam Raudlatul Athfal asal Indramayu, Jawa Barat menuturkan, keluh kesahnya dalam memperjuangkan pendidikan untuk murid-muridnya.

Tauhid dan sekolahnya bertahan hanya dengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah. Selebihnya, ia dan sejawat guru lainnya harus bekerja keras dua kali lipat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tak hanya itu, kondisi sekolah Tauhid juga memprihatinkan. Sejumlah fasilitas tak dapat digunakan dengan baik karena tak kunjung mendapat lirikan dari pemerintah. Bahkan, gedung sekolah yang ia bangun hanya bersumber dari swadaya masyarakat setempat.

"Kalau kekurangan itu banyak sih. Pertama dari fasilitas lah. Fasilitas, terus dari gedung, itu dari subsidi semua itu gedung. Tidak ada dari pemerintah," tutur Tauhid.

Nurudin, kepala sekolah TK Islam Raudlatul Athfal asal Brebes, Jawa Tengah yang telah mengabdi di dunia pendidikan selama 17 tahun. Sekolah tempat Nurudin mengabdi pun jarang mendapat uluran tangan dari pemerintah.

Dia mengungkapkan, dana BOS yang dikirim oleh pemerintah tak pernah cukup untuk membangun sekolah kecilnya.

"Sementara kan enggak ada dari pemerintahan. Enggak ada untuk biaya pembangunan itu. Paling hanya (dana) BOS-nya, enggak mencukupi lagi," katanya.

Meski begitu, Tauhid dan Nurudin tak pernah lelah untuk mendidik dan membagikan ilmu kepada murid-muridnya. Perjuangannya sebagai seorang guru tak berhenti walau diterpa berbagai cobaan.

Hati mereka begitu luas untuk mengayomi puluhan muridnya yang tetap semangat belajar dengan segala keterbatasan yang ada.

Numpang Belajar di Masjid

Bangunan sekolah kian lapuk, termakan usia dan ganasnya hujan menerjang. Tauhid mengungkapkan, dana BOS yang ia dapat hanya cukup untuk mengecat gedung, bukan renovasi keseluruhan. Untungnya, sejumlah orang tua murid masih bersedia memberikan bantuan terhadap sekolah yang kondisinya sudah tak tertolong.

"Kalau sekarang kan ada dibantu dari (dana) BOS itu ya. Sebagian kecil lah. Untuk ngecat paling itu," ungkap Tauhid.

Atap sekolah yang biasa digunakan murid Tauhid untuk belajar bocor. Di tengah situasi ini, Tauhid bingung. Bagaimana ia mampu mengupayakan pembelajaran yang layak untuk muridnya. Sementara untuk belajar sehari-hari pun mereka harus bertarung dengan air hujan.

"Jadi kalau kantor itu, ya cukup lah. Tapi kalau untuk kelas itu, perlu rehat berat. Ada yang bocor itu," ucapnya.

Jendela-jendela yang berjajar di sisi gedung pun mulai rapuh. Gedung itu sudah tak layak disebut sekolah, perlu renovasi besar-besaran dan memakan dana yang jumlahnya tidak sedikit.

"Jendela-jendelanya itu, kayunya sudah keropos," ucap Tauhid.

Kondisi gedung yang begitu memprihatinkan membuat Tauhid dan murid-muridnya harus berpindah tempat. Gedung sekolah itu sudah tak bisa dipergunakan lagi kala musim hujan datang. Kini, ia dan murid-muridnya harus menumpang belajar di masjid.

Untungnya, warga sekitar menerima dengan lapang kehadiran Tauhid dan murid. Meski dengan keterbatasan fasilitas, Tauhid dan muridnya tetap bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di bawah atap rumah ibadah itu.

"Makanya kalau musim hujan itu, dipindahkan ke masjid, itu kan ada masjidnya," jelasnya.

 

Ruang Kelas yang Banjir

Nurudin mengajar di sebuah daerah kecil di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Di tengah kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota itu, ia dan muridnya harus berjuang di bawah atap bocor dan lantai yang tergenang dengan air hujan.

Dia mengungkapkan, untuk kegiatan belajar mengajar sehari-hari, ia dan warga sekolahnya harus belajar di dalam bangunan yang seadanya. Dana yang dimiliki pun tak banyak, harus digunakan secukupnya.

“Ya seadanya gitu. Yang namanya di kampung itu. Ya dicukup-cukupin,” tutur Nurudin.

Menurut Nurudin, dana BOS yang diberikan oleh pemerintah tak cukup untuk memperbaiki fasilitas sekolahnya. Tiga ruang kelas di sekolah Nurudin atapnya bocor dan belum diperbaiki hingga kini.

“Tiga ruangan itu semua bocor. Total ada tiga kelas itu. Tiga ruangan bocor,” katanya.

Meski bocor, Nurudin dan muridnya tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Mereka menuntut ilmu bersama air yang merendam kaki-kaki mungilnya.

Terkadang, Nurudin sedih melihat anak-anaknya yang harus terjatuh karena lantai yang begitu licin.

“Karena sering anak-anak kan dia kalau mau masuk ya nggak tahu dia itu. Biasanya sampai dia jatuh terpeleset, tapi dia nangis,” pungkas Nuridin.

Nurudin menjelaskan, bantuan yang ia dapat dari pemerintah berhenti di tahun 2019. Hingga kini, sekolah Nurudin belum mendapatkan dana bantuan lagi dari pemerintah.

Reporter Magang: Debby Alifah Maulida

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6