Pertumbuhan Ekonomi Ditargetkan 5,4% di RAPBN 2026, Ketua DPR: Masih Moderat dan Realistis

Puan Maharani menilai, target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang diajukan pemerintah masih tergolong realistis dan moderat.

Diperbarui 21 Agustus 2025, 19:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menilai, target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang diajukan pemerintah masih tergolong realistis dan moderat.

“Masih realistis, masih moderat. Namun tentu saja kita harus lihat dulu bagaimana program dan kebijakan-kebijakan yang memang diinginkan oleh pemerintah,” kata Puan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/8/2025).

Pernyataan itu disampaikan Puan usai rapat paripurna DPR dengan agenda pengambilan keputusan terhadap RUU Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN 2024, sekaligus tanggapan pemerintah atas pandangan fraksi terkait RAPBN 2026 dan Nota Keuangannya.

Puan menjelaskan, catatan dari pemerintah maupun Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas pelaksanaan APBN sudah disampaikan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani, dalam rapat paripurna. Ia memastikan seluruh catatan akan segera ditindaklanjuti dalam proses legislasi.

“Kita akan membahas RAPBN 2026 yang akan dimulai rakernya dan dibahas di semua komisi yang ada di DPR,” ujar perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR itu.

 

Pembahasan di Komisi

Menurut Puan, pembahasan RAPBN di tiap komisi akan menjadi penentu apakah target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen bisa dipertahankan, perlu disesuaikan, atau diperbaiki.

“Kita lihat dulu bagaimana nanti pembahasannya di komisi-komisi, setelah dibahas baru bisa melihat apakah dimungkinkan atau perlu di-adjust, atau perlu diperbaiki, atau bagaimana nanti setelah ada pembahasannya bersama dengan komisi,” tutupnya.

Sebelumnya, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah meminta pemerintah menyusun asumsi makro dalam RAPBN 2026 secara realistis namun tetap memberikan harapan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. 

Ia menilai, situasi global yang dipengaruhi perang konvensional dan perang dagang semakin memberi sumbangan besar terhadap ketidakpastian perekonomian dunia.

“Kami berharap pemerintah mengajukan angka-angka asumsi ekonomi makro yang realistis, namun tetap menginjeksikan harapan, bahwa perekonomian nasional bisa tumbuh inklusif,” kata Said dalam Rapat Kerja (Raker) Banggar DPR bersama pemerintah, di Komplek Parlemen, Jakarta, Kamis (21/8/2025).

Tren Positif

“Kita jadi ingat idiom, same storm different boats. Banyak negara menghadapi masalah yang sama, tetapi berbeda kemampuan mengatasinya. Namun kita yakin memiliki kemampuan yang baik menghadapi badai eksternal ini,” imbuhnya. 

Meski tantangan global meningkat, Said menyebut proyeksi IMF menunjukkan tren positif. 

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 akan berada di angka 3 persen, naik dari 2,8 persen pada 2025. Sementara negara-negara berkembang diperkirakan tumbuh 3,9 persen di 2026 dibanding 3,7 persen tahun ini.

“Semestinya proyeksi ini memberikan peluang perekonomian nasional tahun depan bisa lebih baik dari tahun ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Said menekankan pentingnya mengubah pola pikir dengan menempatkan setiap krisis sebagai peluang memperkuat fondasi ekonomi. 

 

Lambatnya Pertumbuhan Investasi

Politisi dari PDI Perjuangan (PDIP) itu menilai pemerintah perlu mempercepat respons terhadap tantangan global dengan strategi yang lebih ofensif, khususnya dalam ketahanan energi dan pangan.

"Tren proteksionisme imbas perang dagang harus cepat bisa kita jawab dengan kemandirian pangan dan energi. India memiliki strategic petroleum reserve. Kita apa? Itu yang harus kita jawab," tegasnya.

Said juga menyoroti melambatnya pertumbuhan investasi dalam negeri yang hanya tumbuh 2,12 persen pada kuartal I 2025, imbas dari perang dagang dan konflik geopolitik mengendurkan urat nadi investasi dan perdagangan global.

Maka dari itu, kata dia, pemerintah harus menyiapkan strategi investasi lebih komprehensif, guna meyakinkan investor bahwa modal diinjeksikan ke Indonesia menjanjikan imbal hasil yang sangat menarik, serta mendorong permintaan dan menyerap lapangan kerja baru.

"Kita berharap tidak semakin terkoreksi pada kuartal berikutnya karena investor lebih memilih wait and see dan memarkir modalnya pada asset safe haven seperti emas, dan mata uang global yang dianggap lebih stabil," tandas Said.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6