Moestar Dukung Pernyataan Hendropriyono: Kreatif Boleh, Nilai Luhur Merah Putih Harus Dijaga

Moestar menilai pesan Hendropriyono, “Lelucon jangan sampai tidak lucu”, sarat makna dan patut dijadikan pedoman. “Lelucon yang sehat bukan hanya mengundang senyum, tapi juga memberi pesan yang tidak merendahkan nilai luhur dan tidak menimbulkan salah paham

Diperbarui 14 Agustus 2025, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Moestar mendukung Hendropriyono: lelucon jangan kehilangan makna dan nilai luhur.
  • Kreativitas penting, namun simbol negara seperti Merah Putih harus dijaga nilainya.
  • Kebebasan berekspresi ada batasnya, harus mendidik, dan tidak provokatif.

Liputan6.com, Jakarta - Akademisi sekaligus Ketua Yayasan Universitas Jayabaya, Moestar Putra Jaya, mendukung pernyataan Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono yang mengingatkan agar lelucon tidak kehilangan makna.

Pernyataan tersebut merespons pengibaran bendera One Piece di bawah Merah Putih saat peringatan kemerdekaan, yang disebut telah mendapat izin dari Presiden Prabowo Subianto. Aksi itu memicu pro dan kontra. Sebagian masyarakat menilai kreatif dan menghibur, sementara sebagian lain menganggap kurang tepat.

“Saya sepakat dengan Pak Hendropriyono. Kreativitas itu penting, apalagi jika Presiden sudah memberi izin, tapi itu tidak berarti bebas tanpa batas. Simbol negara seperti Merah Putih memiliki nilai luhur yang harus dijaga,” kata Moestar di Jakarta, Kamis (14/8/2025).

Moestar menilai pesan Hendropriyono, “lelucon jangan sampai tidak lucu”, sarat makna dan patut dijadikan pedoman. “Lelucon yang sehat bukan hanya mengundang senyum, tapi juga memberi pesan yang tidak merendahkan nilai luhur dan tidak menimbulkan salah paham,” ujarnya.

Ia menekankan, dalam kebebasan berekspresi tetap ada etika yang harus dijaga. Pertama, Merah Putih adalah simbol persatuan, harga diri, dan kedaulatan bangsa. Penempatan bendera One Piece di bawah Merah Putih secara aturan mungkin tidak salah, tetapi maknanya harus jelas sebagai bagian dari perayaan kreatif, bukan aksi politis yang memecah belah.

Masyarakat Jangan Terprovokasi

Kedua, Moestar mengingatkan agar masyarakat tidak provokatif di era pasca-kebenaran, ketika opini sering lebih kuat dibanding fakta.

"Pesan yang kabur bisa jadi bola liar. Satu gambar bisa ditafsirkan seribu cara, dan tidak semua tafsir membawa kebaikan,” kata Moestar.

Ketiga, ia memandang komentar Hendropriyono sebagai bentuk pendidikan publik bahwa demokrasi memberi ruang berkreasi, tetapi kebebasan itu memiliki batas.

"Layaknya orang tua memberi izin anaknya bergadang, kebebasan harus dinikmati, tapi juga ada konsekuensinya,” tutur dia.

Moestar menegaskan, kreativitas dan penghormatan terhadap simbol negara tidak perlu bertentangan.

"Justru jika berjalan beriringan, keduanya akan memperkuat rasa kebangsaan kita. Dan tentu saja, seperti pesan Pak Hendropriyono, kalau mau melucu, pastikan lucunya sampai dan mendidik,” pungkas dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6