Kenangan Terakhir JK dan Ma'ruf Amin Iringi Suryadharma Ali ke Peristirahatan Terakhir

Mengenal sosok Suryadharma Ali, politikus senior yang pernah memimpin PPP dan menjabat menteri. Simak perjalanan karier politik dan kontroversinya yang mewarnai sejarah bangsa.

Diperbarui 31 Juli 2025, 14:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dua mantan wakil presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla dan Ma'ruf Amin hadir melayat ke rumah duka Almarhum Suryadharma Ali. Kepada publik, keduanya mengaku punya pengalaman baik dengan pria yang karib disapa SDA tersebut semasa hidupnya.

"Pak Surya ini kan seorang pejuang dari muda, saya tahu. Pak Surya itu masa kecilnya di Tanjung Priok. Jadi tahu saya kecilnya dan terus dia di PB PMII, NU di partai, jadi menteri dua kali, jadi menteri koperasi, jadi menteri agama. Banyak hal lah kontribusinya terhadap masyarakat, terhadap bangsa dan negara," kata Ma'ruf Amin kepada media, Kamis (31/7/2025).

Terlepas dari situasi politik dan dinamika hukum yang pernah dialami SDA, wakil presiden ke-13 ini menyatakan bahwa yang bersangkutan adalah seorang yang wajib dihormati dan diteladani.

"Kalau menurut saya, dia orang yang pantas untuk dihormati dan bisa diteladani, tentu saja manusia bisa ada kurangnya, siapapun ada. Saya kira tidak ada yang sempura. Tapi kebaikannya lebih banyak yang patut menjadi contoh," tegas dia.

"Oleh karena itu, saya mendoakan beliau supaya diterima," imbuh Ma'ruf Amin.

Senada, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla alias JK pun juga berkata demikian. Kenangan yang paling membekas bersamanya adalah ketika merancang soal kredit usaha rakyat (KUR) saat SDA menjabat sebagai menteri koperasi di pemerintahan periode pertama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Beliau sebagai menteri koperasi yang menjalankan dengan baik, begitu juga upaya-upaya lainnya," kenang JK.

 

Perjalanan Karier Politik Suryadharma Ali

Sebelum terjun sepenuhnya ke dunia politik, Suryadharma Ali telah meniti karier profesional yang cukup panjang. Ia pernah berkarya di PT Hero Supermarket dari tahun 1985 hingga 1999. Keaktifannya juga terlihat di berbagai organisasi ritel, seperti Asosiasi Pusat Pertokoan dan Perbelanjaan Indonesia serta Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, menunjukkan kemampuannya dalam berorganisasi.

Kiprah politik Suryadharma Ali dimulai dengan bergabung di PPP, partai yang kemudian menjadi rumah baginya. Ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dari PPP untuk periode 1999-2004, dan kemudian menjabat sebagai Ketua Komisi V DPR RI dari tahun 2001 hingga 2004. Posisi ini mengukuhkan namanya sebagai legislator yang berpengaruh di parlemen.

Puncaknya, pada Februari 2007, Suryadharma Ali terpilih sebagai Ketua Umum PPP, menggantikan Hamzah Haz. Ia memimpin partai berlambang Ka'bah ini selama dua periode, hingga tahun 2014. Di bawah kepemimpinannya, PPP berupaya keras memperkuat identitas Islam dalam ranah politik nasional, menjadikannya salah satu kekuatan politik yang diperhitungkan.

Selain perannya di legislatif dan partai, Suryadharma Ali juga dipercaya menduduki kursi menteri. Ia menjabat sebagai Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah pada Kabinet Indonesia Bersatu I (2004–2009) di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kemudian, ia diangkat sebagai Menteri Agama Indonesia dari 2009 hingga 2014 dalam Kabinet Indonesia Bersatu II, sebuah posisi krusial yang mengelola urusan keagamaan di Indonesia.

Tutup Usia

Sebagai informasi Suryadharma Ali tutup usia hari ini, Kamis (31/7/2025) pukul 04.18 WIB di RS. Mayapada Jakarta.

Suryadharma Ali lahir pada 19 September 1956 di Jakarta. Pria karib disapa SDA ini menyelesaikan pendidikan tingginya di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Karir politiknya berjalan bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP). SDA menjabat Ketua Umum PPP pada 3 Februari 2007 hingga 16 Oktober 2014, menggantikan Hamzah Haz. Dia kemudian digantikan oleh Muhammad Romahurmuziy.

Pada 22 Oktober 2009, SDA diangkat sebagai Menteri Agama dalam kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menggantikan Muhammad Maftuh Basyuni. Namun pada 28 Mei 2014.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6