Moestar Putrajaya: Demokrasi Hari Ini Terjebak Debat Kosong

Moestar menilai, keterbukaan tidak selalu sejalan dengan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap isu-isu politik.

Diperbarui 30 Juli 2025, 18:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Akademisi sekaligus Ketua Yayasan Universitas Jayabaya, Moestar Putrajaya, menyoroti perubahan wajah politik di era digital saat ini. Menurutnya, politik tidak lagi menjadi ruang eksklusif bagi akademisi, aktivis, atau para pengambil kebijakan, melainkan telah menjadi konsumsi publik yang sangat terbuka.

"Politik kini menjadi konsumsi publik, bahkan bahan lelucon dan debat sengit di warung kopi, grup WhatsApp keluarga, hingga kolom komentar media sosial,” kata Moestar.

Namun, keterbukaan ini, menurut dia, tidak selalu sejalan dengan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap isu-isu politik. Justru sebaliknya, banyak individu merasa cukup berbekal potongan video pendek, satu-dua cuitan, atau tajuk berita yang provokatif untuk memberikan opini tentang hal-hal kompleks seperti demokrasi, kebijakan negara, bahkan strategi pertahanan.

"Ironisnya, keterbukaan informasi ini tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman,” ujar Moestar.

Ia menilai, fenomena tersebut bukan sekadar bentuk kepercayaan diri yang berlebihan (overconfidence), tetapi juga mencerminkan defisit literasi politik yang semakin mengkhawatirkan.

Dalam penjelasannya, Moestar mengutip pelajaran filsuf Yunani, Socrates, yang hidup lebih dari dua ribu tahun lalu. Socrates dikenal dengan ungkapannya, “Saya tahu bahwa saya tidak tahu,” yang bukan dilihat sebagai kelemahan, melainkan sebagai bentuk awal dari kebijaksanaan.

"Socrates menggugat pandangan umum, mempertanyakan keyakinan yang mapan, dan dengan jujur membuka ruang untuk berpikir ulang. Ia memilih diam saat tak tahu, dan bertanya saat tak yakin,” tutur Moestar.

Sayangnya, lanjut dia, hal tersebut justru tidak tercermin dalam perilaku masyarakat hari ini. Banyak yang berbicara dengan penuh keyakinan tanpa dasar, menolak dialog, dan lebih memilih debat kusir. Tidak sedikit pula yang sekadar mengulang informasi dari lingkungan sekitar atau dari algoritma media sosial yang memperkuat pandangan mereka sendiri tanpa tantangan.

"Kita hidup di era pasca-kebenaran (post-truth), di mana perasaan lebih dipercaya daripada fakta, dan opini pribadi mengalahkan argumentasi logis. Kebenaran tak lagi dicari, tapi dibentuk sesuai selera,” ujarnya.

 

Demokrasi Beresiko Kehilangan Makna

Moestar menegaskan, dalam iklim seperti ini, demokrasi berisiko kehilangan makna. Bukan semata-mata karena tekanan dari atas, melainkan karena kekacauan dari bawah, ketika wacana publik dipenuhi suara bising tanpa substansi.

Menurutnya, politik yang seharusnya menjadi ruang rasional untuk berpikir dan bertindak demi kepentingan bersama justru berubah menjadi arena emosi dan gengsi. Demokrasi pun direduksi menjadi tontonan gaduh yang miskin isi.

“Mungkin sudah saatnya kita semua meneladani Socrates, bukan hanya dalam kecerdasannya, tapi juga dalam kerendahan hati intelektualnya,” kata Moestar.

Ia menekankan bahwa mengakui ketidaktahuan adalah langkah awal menuju pemahaman yang sejati. Di tengah kebisingan opini yang saling bertabrakan, suara yang tenang dan jujur justru lebih layak didengar.

Moestar juga mengajak masyarakat untuk kembali pada proses berpikir yang sehat melalui membaca, berdiskusi, mendengarkan berbagai sudut pandang, dan menunda penghakiman sebagai upaya menjaga kewarasan nalar publik.

“Dalam demokrasi, pemilih yang bijak jauh lebih berharga daripada pendebat yang lantang,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6