Kisah Pertemuan Terakhir Soeharto dan Habibie

Presiden Soeharto secara resmi menyatakan mundur dari jabatannya setelah lebih dari tiga dekade berkuasa pada Kamis, 21 Mei 1998.

Diterbitkan 21 Mei 2025, 08:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kamis pagi, 21 Mei 1998, menjadi salah satu titik balik paling dramatis dalam sejarah bangsa Indonesia. Pukul 09.05 WIB, di Istana Merdeka yang lengang dan penuh ketegangan, Presiden Soeharto secara resmi menyatakan mundur dari jabatannya setelah lebih dari tiga dekade berkuasa.

Tanpa senyum, tanpa kata perpisahan, dan tanpa pelukan persahabatan, tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada Wakil Presiden B.J. Habibie. Suasana Istana begitu dingin, menandai peristiwa monumental yang terjadi dalam waktu sangat singkat.

Dalam buku autobiografinya yang berjudul “Detik-Detik Menentukan”, Presiden ke-3 RI itu mengaku tidak menyangka pengunduran diri Soeharto. Sebab, sehari sebelumnya, Soeharto masih menyusun susunan Kabinet Reformasi dan berencana melantik para menterinya keesokan harinya.

“Menurut rencana, Kamis 21 Mei 1998, Presiden akan umumkan susunan kabinet dan Jumatnya dilantik. Tapi pagi itu, saya justru mendapat kabar bahwa Pak Harto akan berhenti,” tulis Habibie.

Kabar mengejutkan itu disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara saat itu Saadilah Mursyid. Habibie sempat meminta bertemu langsung dengan Soeharto, namun ditolak. Tanpa penjelasan, tanpa pesan perpisahan.

“Saya sangat terkejut, dan meminta bicara dengan Pak Harto. Tapi permintaan itu tidak dikabulkan,” ujar Habibie.

Setelah dilantik sebagai Presiden, Habibie pun tidak sempat berbincang atau bahkan bertatap muka lagi dengan sang mentor yang telah menganggapnya seperti anak sendiri. Sejak saat itu, komunikasi mereka terputus.

Habibie Tolak Kedatangan Soeharto

Dalam buku “Pak Harto The Untold Stories”, mantan Kepala Protokol Istana, Maftuh Basyuni, mengisahkan bahwa Habibie beberapa kali berusaha menemui Soeharto di kediamannya di Cendana. Termasuk saat ulang tahun Soeharto ke-77, Habibie datang membawa bunga dan kartu ucapan. Namun lagi-lagi, Soeharto menolak.

“Sampaikan ke Pak Habibie, dalam situasi seperti ini tidak elok bertemu. Nanti ketularan dihujat. Biar Pak Harto saja yang menghadapi semua,” pesan Soeharto yang disampaikan melalui Maftuh.

Pertemuan terakhir mereka sebenarnya terjadi tiga hari sebelum pengunduran diri, saat Soeharto meminta Habibie menyelesaikan konflik internal kabinet. Soeharto seakan memberi sinyal bahwa waktu kepemimpinannya akan segera berakhir.

“Laksanakan tugasmu, dan waktu tidak banyak lagi,” ucap Soeharto kepada Habibie kala itu.\

 

Tinggalkan Istana Tanpa Pamit

Dan benar saja, setelah Habibie dilantik menggantikan Soeharto, sang Jenderal Besar langsung meninggalkan Istana tanpa pamit.

“Pak Harto di mana?” tanya Habibie usai pelantikan.

“Sudah pulang ke Cendana,” jawab Maftuh.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6