Ratusan Pedagang Pasar Wonokromo Menolak Digusur

Para pedagang Pasar Wonokromo itu menyatakan akan mempertahankan tempat tersebut untuk berjualan sampai kapan pun. Sekitar 300-an polisi disiagakan di Stasiun Wonokromo untuk mengendalikan situasi.

Diterbitkan 08 April 2003, 14:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Wonokromo: Kasus penggusuran usaha kembali terjadi. Seperti yang terjadi di sejumlah wilayah di Tanah Air, sedianya lahan berjualan para pedagang di Pasar Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur, juga akan dipindahkan ke lokasi penampungan sementara. Penolakan pun bergulir kencang. Bahkan, sambil melakukan aksi duduk bergerombol di pintu masuk pasar sebelah timur, Selasa (8/4) siang, para pedagang menyatakan tak bakal bergeser dan berjanji mempertahankan tempat itu untuk terus berjualan, sampai kapan pun. Para petugas dari jajaran Pemerintah Kota Surabaya tampaknya kesulitan melaksanakan pembongkaran pasar saat melihat kekerasan hati para pedagang ini.

Dalam aksinya, para pengunjuk rasa terlihat tak kuasa menahan tangis. Sebagian besar di antara mereka pun tak henti menyerukan salawat Nabi, seraya memohon tak dipindahkan dari pasar tersebut. Para demonstran mengaku bukan menolak pembangunan Pasar Wonokromo yang nantinya berganti nama menjadi Darmo Trade Center tersebut. Mereka hanya meminta Pemkot Surabaya dan investor mau berdialog dengan pedagang. Tentunya, soal nasib para pedagang di kemudian hari pascapembangunan Darmo Trade Center.

Menurut pemantauan SCTV, sekitar 300-an personel Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya dan Kepolisian Resor Kota Surabaya Selatan tampak bersiaga. Sedianya, mereka bakal dikerahkan untuk mengendalikan situasi Pasar Wonokromo. Saat berita ini ditulis, para polisi tadi masih bersiaga di Stasiun Wonokromo, yang lokasinya berhadapan dengan Pasar Wonokromo.

Protes keras para pedagang sebenarnya sudah berkumandang berulang kali. Sebagian besar pedagang Pasar Wonokromo menolak dipindahkan ke lokasi penampungan sementara [baca: Pedagang Pasar Wonokromo Bersikeras Menolak Dipindahkan]. Terbetik kabar, Pemkot Surabaya berencana membangun 4.703 kios darurat di lahan kosong di kawasan Jagir, yang lokasinya cukup jauh dari tempat semula. Sementara hingga awal April ini, pengelola pasar bersikukuh membongkar kios-kios yang ada di pasar tersebut. Ribuan pedagang di Pasar Wonokromo juga pernah berunjuk rasa menentang pembangunan lokasi baru pasar yang disebut-sebut bernuansa kolusi, korupsi, dan nepotisme itu [baca: Pembangunan Darmo Trade Center Tetap Ditolak Pedagang].

Kegagalan Pemkot Surabaya dan pengelola pasar membongkar kios-kios pun bukan kali ini saja terjadi. Niat itu kerap gagal dijegal beberapa kali demonstrasi yang diikuti para pedagang dan sejumlah mahasiswa di Kota Pahlawan [baca: Pasar Wonokromo Gagal Dibongkar]. Para pedagang tak bersedia dipindahkan karena tak pernah diajak berunding sebelumnya dalam proyek pembangunan yang dikabarkan dilirik investor asal Singapura. Kekhawatiran tersebut mulai hadir sejak ribuan kios di pasar besar tersebut ludes terbakar pada akhir Mei tahun silam [baca: Pasar Wonokromo Hangus Terbakar]. Ironisnya, meski tak ada korban jiwa, kasus kebakaran tersebut sempat menyimpan kisah kasus penjarahan yang dilakukan sejumlah orang.(BMI/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6