Founder Anak Teknik Indonesia Tanggapi soal Perubahan Nomenklatur Fakultas jadi Rekayasa

Founder Anak Teknik Indonesia, Arkastra Bhrevijana menilai, perubahan nomenklatur tersebut bukan sekadar pergantian istilah administratif.

Diterbitkan 14 Mei 2026, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Perubahan nomenklatur 'Teknik' menjadi 'Rekayasa' menimbulkan beragam respons di kalangan akademisi.
  • Istilah 'Teknik' memiliki makna emosional, historis, dan identitas kuat bagi mahasiswa di Indonesia.
  • Meskipun ada perubahan, semangat "Anak Teknik" yang mengedepankan solidaritas dan kerja tim tetap relevan.

Liputan6.com, Jakarta - Perubahan nomenklatur fakultas 'Teknik' menjadi 'Rekayasa' memunculkan beragam respons dari kalangan akademisi hingga mahasiswa. Bagi sebagian orang, perubahan itu dianggap sebagai penyesuaian istilah agar selaras dengan standar internasional.

Namun, bagi mereka yang tumbuh dalam kultur pendidikan teknik di Indonesia, istilah 'Teknik' dinilai memiliki makna yang jauh lebih emosional dan historis.

Founder Anak Teknik Indonesia, Arkastra Bhrevijana menilai, perubahan nomenklatur tersebut bukan sekadar pergantian istilah administratif. Menurutnya, kata 'Teknik' selama ini telah melekat sebagai identitas dan budaya yang membentuk karakter para mahasiswa teknik di Indonesia.

"Dunia pendidikan tinggi kita memang sedang membuka lembaran baru. Secara akademis kita paham, engineering diterjemahkan menjadi rekayasa," ungkap Arkastra dalam keterangan tertulis, Kamis (14/5/2026).

"Tapi bagi kami yang pernah begadang di laboratorium, berkutat di bengkel, atau mengejar deadline tugas teknik, kata ‘Teknik’ punya makna yang lebih dalam," sambung dia.

Arkastra mengatakan, sejarah pendidikan teknik di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari semangat perjuangan dan pembangunan bangsa sejak masa awal kemerdekaan.

 

Ada Kebanggaan

Menurut Arkastra, istilah 'Teknik' selama puluhan tahun telah melahirkan mentalitas tangguh dan cara berpikir solutif bagi para mahasiswa maupun lulusan di bidang tersebut.

"Kalau 'Rekayasa' terdengar lebih akademis, maka 'Teknik' terdengar seperti bunyi mesin di pembangkit listrik atau suasana solidaritas di koridor kampus," kata dia.

Arkastra menilai, kebanggaan menjadi 'Anak Teknik' bukan semata soal nilai akademik, melainkan solidaritas yang terbentuk selama proses pendidikan. Ia menyebut, dunia teknik mengajarkan pentingnya kerja tim, loyalitas, dan kebersamaan dalam menyelesaikan persoalan.

"Di Teknik, kita belajar 'tidak ada pahlawan kesiangan'. Sebuah proyek besar tidak akan selesai hanya karena satu orang pintar. Semua membutuhkan kerja sama dan rasa percaya antar rekan," ucap Arkastra.

Meski demikian, Arkastra menegaskan pihaknya tidak menolak perubahan maupun perkembangan zaman. Ia justru mendorong generasi muda teknik untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), energi terbarukan, hingga sistem otomasi modern.

 

Tantangan sekaligus Peluang

Sebagai Founder Anak Teknik Indonesia, Arkastra melihat perubahan nomenklatur ini sebagai tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang engineering.

"Kita tetap akan mengikuti aturan formal negara dan menguasai ilmu rekayasa sebaik-baIKNya. Tapi di dalam dada, semangat Anak Teknik tidak akan pernah hilang," terang dia.

Menurut Arkastra, identitas seorang 'Anak Teknik' tidak ditentukan oleh perubahan istilah di atas kertas, melainkan dari kualitas solusi yang mampu diberikan kepada masyarakat dan bangsa.

"Apapun namanya, jiwanya tetap Teknik," tegas Arkastra.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6