Sukses

Program Citarum Harum Disebut Belum Efektif, Kenapa?

Liputan6.com, Jakarta Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Etty Riani menilai pembangunan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum lewat program Citarum Harum sejak 2015 belum berjalan efektif. Hal ini disebabkan masih adanya industri yang membuang limbah ke Sungai Citarum.

"Memang baku mutu air menurun satu tingkat, dari sangat berat jadi berat. Tapi begitu dilihat dari sedimen kandungan limbah B3 tidak berkurang," kata Etty, Ju'mat (22/2/2019).

Sekitar Agustus 2018, Etty mengaku ditugaskan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar melakukan kajian mikroplastik di Sungai Citarum. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sungai terpanjang di Jawa Barat ini masih tercemar limbah industri.

"Hasilnya masih luar biasa. Di daerah industri mikroplastiknya naik drastis, sementara di daerah jauh dari industri mikroplastiknya turun," kata dia.

Tak hanya itu, di Bendung Saguling, Cirata, Jatiluhur dan sejumlah titik aliran sungai Citarum juga masih terdapat limbah B3 yang mengendap di dasar sungai. Namun langkah pemerintah yang mengeruk sedimen dinilai tidak tepat karena hanya akan menimbulkan permasalahan baru.

"Kalau akar permasalahan itu tidak ditangani, mau dikeruk setiap sebulan sekali tidak akan menyelesaikan masalah pencemaran," terang Fisheries Toxicology.

Menurutnya, limbah B3 tersebut harus dikelola dan diolah dengan baik dengan cara dibangunnya secure landfill agar lindi yang terbentuk dari limbah B3 tersebut tidak keluar mencemari air tanah serta lingkungan sekitar.

"Ketika lumpur bercampur limbah B3 itu dikeruk lalu disimpan begitu saja justru akan mencemari lingkungan karena masih ada kandungan B3-nya," kata dia.

2 dari 2 halaman

Perlu Rencana Jangka Panjang

Paling terpenting langkah yang harus dilakukan pemerintah adalah membuat perencanaan jangka panjang. Bagaimana caranya membuat masyarakat dan pemilik industri sadar dan berkomitmen menjaga lingkungan.

"Pembangunan keberlanjutan itu membuat masyarakat sadar, menjadi budaya. Bukan adanya perencanaan yang baik tanpa ada komitmen dan implementasi," kata ahli air dan lingkungan ini.

Langkah selanjutnya adalah membangun rawa buatan untuk mengolah air limbah domestik, aliran air hujan dan mengolah lindi (leachate) atau sebagai tempat hidup habitat liar lainnya. Rawa buatan ini dapat berupa biofilter yang dapat meremoval sedimen dan polutan seperti logam berat.

"Dari hulu hingga hilir kondisinya sudah akut sejak puluhan tahun lalu. Hasil penelitian, ikan di sepanjang Citarum maupun milik petani di Cirata dan Saguling pun sudah terkontaminasi logam berat. Kalau dikonsumsi manusia berpotensi kanker. Karena itu permasalahan ini perlu segera ditangani serius," terang Ety. 

 

Saksikan video pilihan di bawah:

Loading