Liputan6.com, Jakarta: Lain dahulu, lain sekarang. Pameo itu paling tidak menggambarkan situasi peredaran narkotika dan obat-obatan berbahaya di Indonesia, dewasa ini. Soalnya, dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, Indonesia dipandang sebagai pasar yang menguntungkan buat peredaran narkoba. Itulah sebabnya, bila dahulu hanya dimanfaatkan sebagai negara transit perdagangan narkoba dunia. Namun, sejak lima tahun terakhir, Indonesia dibidik sebagai wilayah tujuan pemasaran utama. Pada umumnya, narkoba yang masuk ke Tanah Air berasal dari kawasan Asia yang terkenal dengan "Segi Tiga Emas" atau Golden Triangle. Namun, kini, narkoba juga dipasok dari sejumlah negara di kawasan Amerika Utara dan Eropa. Sebaliknya, sindikat Indonesia diduga mengekspor sejumlah jenis narkoba yang tak terdapat di luar negeri. Biasanya, menurut Wakil Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Polisi Edward Aritonang, barang terlarang tersebut kalau masuknya dari daratan Cina, umumnya menyangkut ekstasi dan shabu-shabu. Sedangkan dari Segi Tiga Emas, sejenis kokain. Sementara dari kawasan Bulan Sabit Emas adalah heroin. Barang-barang memabukkan itu masuk ke Tanah Air dengan dibawa kurir-kurir yang bukan dari daerah produsen itu. "Biasanya mereka memanfaatkan negara-negara miskin, kebanyakan dari Benua Afrika, termasuk warga negara kita juga, kata Edward.
Yang kian mengkhawatirkan, lanjut Edward, beberapa jenis narkoba kini telah diproduksi di Indonesia. Akibatnya, peredaran barang-barang itu menjadi makin marak dan orang makin mudah mendapatkan dengan harga yang tak semahal narkoba impor. Dengan begitu, peredaran narkoba di dalam negeri tak lagi hanya terjadi di kota-kota besar, seperti Jakarta atau Bali. Namun, kini, hampir semua kota telah dirambah para pengedar narkoba. Seiring dengan maraknya peredaran narkoba di Tanah Air, korban pun mulai berjatuhan. Ironisnya, mereka tak lagi dari lapisan masyarakat ekonomi mampu. Namun, golongan masyarakat bawah turut menjadi contoh kekejaman barang terlarang itu. "Selama tiga tahun terakhir jumlah korban akibat narkoba mengalami peningkatan sekitar 40 sampai 45 persen." kata Kepala Badan Koordinasi Narkotika Nasional (BKNN) Komisaris Jenderal Polisi Da`i Bachtiar. Sedangkan jumlah kasus narkoba mengalami peningkatan sekitar 90 persen. "Memang kita sulit mengidentifisir kenaikan tersebut," kata Da`i.
Menurut anggota Badan Khusus Pengawasan Narkotika Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDCP) Sandro Calvani, kondisi seperti ini menuntut perhatian besar pemerintah untuk segera bertindak. Namun, kenyataannya pemberantasan narkoba tak akan berhasil tanpa peran serta masyarakat dan semua pihak. Soalnya, masalah narkoba sudah sedemikian kompleks. Bahkan, peran masyarakat sangat menentukan keberhasilan perang melawan narkoba. "Hal itu saling terkait," kata Sandro. Akhirnya, genderang perang pun telah ditabuh. Buktinya, berbagai operasi pemberantasan peredaran narkoba digelar. Misalnya, di Jakarta, operasi antinarkotika atau Antik Jaya 2001 kembali digelar. Dalam operasi ini, berbagai kawasan yang ditenggarai sebagai tempat-tempat peredaran narkoba pun digerebek. Sebut saja, Kampung Bali, Tanahabang, Jakarta Pusat, yang diduga kuat sebagai satu di antara sarang para pengedar narkoba. Selain mengamankan belasan tersangka pengedar, polisi juga menyita barang bukti berupa beberapa paket shabu-shabu. Bahkan, polisi juga mulai bertindak tegas terhadap para pelaku kasus narkoba. "Semakin nekat melawan petugas, polisi semakin tegas mengambil tindakan," kata Edward.
Persoalan narkoba ini juga tak dapat dipisahkan dengan para pemakai yang kerap disebut junkies. Soalnya, para pemakai inilah yang menyemarakkan peredaran narkoba di Tanah Air. Mereka mengaku, tak dapat berhenti lantaran sudah ketagihan atau sakaw. "Gue juga ingin berhenti. Namun, hal itu tak mungkin lantaran tak dapat hidup kalau tak menggunakan putaw," kata Andi, seorang pemakai narkoba yang kini dalam perawatan di sebuah panti rehabilitasi di Ibu Kota. Sayangnya, mereka tak sadar lantaran kelakuan itu menjadi beban buat keluarga. Soalnya, perilaku mereka itu dapat merugikan banyak orang termasuk dirinya sendiri. Apalagi, penggunaan narkoba kerap menjurus ke tindakan kriminal. Misalnya, mereka mencuri hanya untuk membeli kenikmatan sesaat.
Sebenarnya, kalau dilihat dari perangkat hukum untuk menjerat para pengedar narkoba telah cukup memadai. Apalagi, Presiden Megawati Sukarnoputri telah menyerukan untuk menghukum seberat-beratnya para pengedar maupun pengguna narkoba. Namun, dalam pelaksanaannya kadang kala tak seperti yang diharapkan. Misalnya, pelaksanaan vonis hukuman mati buat tersangka hingga kini belum dapat terwujud. Hal ini disebabkan sejumlah pertimbangan yang tak memberikan satu gambaran tentang pemidanaan. "Bukan rahasia umum, hingga kini, hakim masih ragu menjatuhkan pidana berat, seperti mati ataupun seumur hidup," kata Rudi Satrio, pakar hukum pidana.
Sementara itu, menurut staf peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Thung Ju Lan, faktor utama maraknya kejahatan narkoba akibat dari ketidakmampuan seseorang mengatasi tekanan yang dihadapinya. Selain itu, faktor lingkungan juga memberikan kontribusi dalam meningkatkan kondisi stress dalam masyarakat. Artinya, kalau pakai hukum ekonomi, pasti demand dulu yang bertambah bukan supply. Dengan begitu, sebenarnya orang-orang stres itu yang bertambah, sehingga pemakai bertambah, otomatis para pengedar juga bertambah. Dengan kondisi masyarakat dalam keadaan tertekan akan berakhir dengan runtuhnya nilai moral masyarakat. Nah, yang menjadi korban dalam kondisi seperti ini adalah masyarakat yang tingkat pendidikan rendah. Ju Lan menambahkan, sudah sepantasnya persoalan narkoba menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. "Setidak masyarakat dapat mengembalikan lingkungan hidup sebagai tempat yang menghargai manusia sebagai makhluk insani. Misalnya, otomatis menganggap anak yang ditempatkan di sekolah yang bermutu itu akan menjadi baik. Lantaran itulah, proses pembentukan seseorang menjadi manusia sangat membutuhkan dukungan dari orang tua, guru, teman-teman, dan lingkungan sosialnya lainnya.(ORS/Tim Derap Hukum SCTV)
Yang kian mengkhawatirkan, lanjut Edward, beberapa jenis narkoba kini telah diproduksi di Indonesia. Akibatnya, peredaran barang-barang itu menjadi makin marak dan orang makin mudah mendapatkan dengan harga yang tak semahal narkoba impor. Dengan begitu, peredaran narkoba di dalam negeri tak lagi hanya terjadi di kota-kota besar, seperti Jakarta atau Bali. Namun, kini, hampir semua kota telah dirambah para pengedar narkoba. Seiring dengan maraknya peredaran narkoba di Tanah Air, korban pun mulai berjatuhan. Ironisnya, mereka tak lagi dari lapisan masyarakat ekonomi mampu. Namun, golongan masyarakat bawah turut menjadi contoh kekejaman barang terlarang itu. "Selama tiga tahun terakhir jumlah korban akibat narkoba mengalami peningkatan sekitar 40 sampai 45 persen." kata Kepala Badan Koordinasi Narkotika Nasional (BKNN) Komisaris Jenderal Polisi Da`i Bachtiar. Sedangkan jumlah kasus narkoba mengalami peningkatan sekitar 90 persen. "Memang kita sulit mengidentifisir kenaikan tersebut," kata Da`i.
Menurut anggota Badan Khusus Pengawasan Narkotika Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDCP) Sandro Calvani, kondisi seperti ini menuntut perhatian besar pemerintah untuk segera bertindak. Namun, kenyataannya pemberantasan narkoba tak akan berhasil tanpa peran serta masyarakat dan semua pihak. Soalnya, masalah narkoba sudah sedemikian kompleks. Bahkan, peran masyarakat sangat menentukan keberhasilan perang melawan narkoba. "Hal itu saling terkait," kata Sandro. Akhirnya, genderang perang pun telah ditabuh. Buktinya, berbagai operasi pemberantasan peredaran narkoba digelar. Misalnya, di Jakarta, operasi antinarkotika atau Antik Jaya 2001 kembali digelar. Dalam operasi ini, berbagai kawasan yang ditenggarai sebagai tempat-tempat peredaran narkoba pun digerebek. Sebut saja, Kampung Bali, Tanahabang, Jakarta Pusat, yang diduga kuat sebagai satu di antara sarang para pengedar narkoba. Selain mengamankan belasan tersangka pengedar, polisi juga menyita barang bukti berupa beberapa paket shabu-shabu. Bahkan, polisi juga mulai bertindak tegas terhadap para pelaku kasus narkoba. "Semakin nekat melawan petugas, polisi semakin tegas mengambil tindakan," kata Edward.
Persoalan narkoba ini juga tak dapat dipisahkan dengan para pemakai yang kerap disebut junkies. Soalnya, para pemakai inilah yang menyemarakkan peredaran narkoba di Tanah Air. Mereka mengaku, tak dapat berhenti lantaran sudah ketagihan atau sakaw. "Gue juga ingin berhenti. Namun, hal itu tak mungkin lantaran tak dapat hidup kalau tak menggunakan putaw," kata Andi, seorang pemakai narkoba yang kini dalam perawatan di sebuah panti rehabilitasi di Ibu Kota. Sayangnya, mereka tak sadar lantaran kelakuan itu menjadi beban buat keluarga. Soalnya, perilaku mereka itu dapat merugikan banyak orang termasuk dirinya sendiri. Apalagi, penggunaan narkoba kerap menjurus ke tindakan kriminal. Misalnya, mereka mencuri hanya untuk membeli kenikmatan sesaat.
Sebenarnya, kalau dilihat dari perangkat hukum untuk menjerat para pengedar narkoba telah cukup memadai. Apalagi, Presiden Megawati Sukarnoputri telah menyerukan untuk menghukum seberat-beratnya para pengedar maupun pengguna narkoba. Namun, dalam pelaksanaannya kadang kala tak seperti yang diharapkan. Misalnya, pelaksanaan vonis hukuman mati buat tersangka hingga kini belum dapat terwujud. Hal ini disebabkan sejumlah pertimbangan yang tak memberikan satu gambaran tentang pemidanaan. "Bukan rahasia umum, hingga kini, hakim masih ragu menjatuhkan pidana berat, seperti mati ataupun seumur hidup," kata Rudi Satrio, pakar hukum pidana.
Sementara itu, menurut staf peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Thung Ju Lan, faktor utama maraknya kejahatan narkoba akibat dari ketidakmampuan seseorang mengatasi tekanan yang dihadapinya. Selain itu, faktor lingkungan juga memberikan kontribusi dalam meningkatkan kondisi stress dalam masyarakat. Artinya, kalau pakai hukum ekonomi, pasti demand dulu yang bertambah bukan supply. Dengan begitu, sebenarnya orang-orang stres itu yang bertambah, sehingga pemakai bertambah, otomatis para pengedar juga bertambah. Dengan kondisi masyarakat dalam keadaan tertekan akan berakhir dengan runtuhnya nilai moral masyarakat. Nah, yang menjadi korban dalam kondisi seperti ini adalah masyarakat yang tingkat pendidikan rendah. Ju Lan menambahkan, sudah sepantasnya persoalan narkoba menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. "Setidak masyarakat dapat mengembalikan lingkungan hidup sebagai tempat yang menghargai manusia sebagai makhluk insani. Misalnya, otomatis menganggap anak yang ditempatkan di sekolah yang bermutu itu akan menjadi baik. Lantaran itulah, proses pembentukan seseorang menjadi manusia sangat membutuhkan dukungan dari orang tua, guru, teman-teman, dan lingkungan sosialnya lainnya.(ORS/Tim Derap Hukum SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256352/original/040260500_1781154176-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-11T120248.984.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375340/original/043230400_1792140162-Screenshot_2026-10-16_151345.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364644/original/080112300_1791013312-IndonesiadangdutAwards2026Attire__ekotjandra_Hijab_stylist__suciaurelias_Makeup__riskymakeup__5_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/363402/original/261101cDerap2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)