Totokan, Pada Awalnya Adalah Silat

Totokan adalah satu di antara sejumlah cara pengobatan tradisional Cina. Pada awalnya, totokan dipergunakan pesilat shaolin untuk mematikan lawan dengan menghambat aliran darah.

Diterbitkan 17 November 2001, 16:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Ada sejumlah cara terapi pengobatan dari Tiongkok. Selain dengan tumbuh-tumbuhan dan tusuk jarum atau akupunktur, ada juga dengan totokan. Terapi dengan menekan titik-titik tertentu di tubuh ini diyakini dapat melancarkan peredaran darah sehingga mampu menghilangkan berbagai macam penyakit.

Menurut Sinse Tonny Lesmana, baru-baru ini, sebenarnya, teknik totokan dalam pengobatan tradisional Cina sudah dikenal sejak enam ribu tahun silam. Pada awalnya, totokan adalah ilmu bela diri perguruan silat shaolin. Saat itu, para murid shaolin mempelajari totok sebagai satu di antara sejumlah teknik mematikan lawan dengan menekan dan menghalangi peredaran darah. Dalam perkembangannya, teknik ini justru menjadi teknik pengobatan yaitu totokan untuk memperlancar peredaran darah.

Tonny menambahkan, tak ada catatan pasti kapan totok mulai digunakan di Indonesia. Yang jelas, para sinse atau ahli pengobatan Cina yang telah menjadi penduduk Indonesia, rata-rata mempelajari ilmu ini bersamaan dengan belajar ilmu bela diri. Saat ini, pada perkembangan terakhir, ada ahli totok yang mengobati pasien dengan menekan jalan darah sambil mengombinasikan penyaluran tenaga prana atau tenaga alam kepada tubuh penderita.

Pada dasarnya, ahli pengobatan Cina percaya bahwa setiap penyakit yang muncul di tubuh manusia lantaran terhambatnya aliran darah. Masing-masing klep pembuluh darah yang ada tersebut bisa tertutup akibat suatu hal, seperti salah gerak atau penimbunan lemak. Bila itu terjadi, bersiaplah dengan berbagai penyakit yang timbul. Sebut saja migran, jantung koroner, darah tinggi, ataupun stroke. Sedianya, jika sinse telah mengidentifikasi penyakit sang pasien, ia akan menekan titik tertentu di pembuluh darah yang berkaitan. Tujuannya, membuka pintu yang tertutup sehingga darah kembali lancar.

Sejauh ini, Indonesia belum memiliki standar pengobatan totokan. Akibatnya, untuk mengobati penyakit tertentu para pasien cenderung menggunakan patokan-patokan dengan menekan titik-titik yang diyakini bakal melancarkan aliran darah. Sedangkan pada akupunktur, sang "dokter" biasa menggunakan jarum. Sama halnya dengan sinse, tujuannya membuka peredaran darah.

Kendati begitu, ada juga sejumlah penyakit yang tak boleh diobati dengan totok maupun akupunktur. Kanker, misalnya, bila diobati dengan kedua teknik tersebut dikuatirkan bakal membantu perkembangan kanker. Lagipula, setiap kali mengobati pasien, sinse harus menunjukkan sikap ekstra hati-hati. Untuk itu, setiap sinse perlu mengetahui setiap gangguan tubuh pasiennya. Artinya, sinse berhak menganalisa pasien lewat nadi di pergelangan tangan atau menggunakan alat pendeteksi aliran darah dari Cina.

Saat ini, manfaat pengobatan tradisional Cina itu tampaknya sudah mulai digunakan di sejumlah rumah sakit di Indonesia. Rumah Sakit Mitra Kemayoran, misalnya, menyediakan pengobatan akupunktur dengan seorang dokter. Sayangnya, khusus untuk totokan, kelihatannya, belum berkembang.

Namun, sebagai sebuah alternatif, tak ada salahnya masyarakat mencoba jasa totokan untuk mengobati sakit. Apalagi, biaya yang dikeluarkan pun murah lantaran para ahli totok tak menetapkan biaya jasa tertentu. Tampaknya, nasib totok mirip dengan akupunktur yang sekitar 10 tahun silam belum diakui keampuhannya di dunia medis barat. Dengan begitu, tak tertutup kemungkinan totokan malah dipergunakan dalam pengobatan modern di masa mendatang.(SID/Mira Permatasari dan Doni Indradi)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6