Sukses

Jimat Jenderal Sudirman Saat Perang Gerilya Paling Buat Penasaran

Liputan6.com, Jakarta - Panglima Besar Jenderal Sudirman disebut-sebut memiliki 3 jimat saat berjuang melawan penjajah. Jimat itu pun selalu dibawanya ketika maju berperang untuk kemerdekaan Indonesia.

Sontak kabar 3 jenis jimat itu membuat pembaca Liputan6.com menjadi penasaran. Berita ini pun menjadi terpopuler sepanjang Kamis 22 Oktober 2015.

Selain itu, kabar menarik lainnya datang dari Gubernur Ahok. Dia berharap sosok presiden yang akan memimpin Indonesia lahir dari Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

Lantas berita apa lagi yang masuk dalam kategori informasi terfavorit? Berikut 5 kabar paling diburu pembaca yang dihimpun Liputan6.com, Jumat (23/10/2015):

1. Tiga Jimat Jenderal Sudirman Saat Perang Gerilya

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengungkapkan 3 jimat Panglima Besar Jenderal Sudirman, yang selalu dibawanya saat perang gerilya untuk kemerdekaan Indonesia.

Apa saja jimat itu? Gatot menyebutkan, jimat pertama adalah wudhu. Kedua, salat tepat waktu, dan jimat terakhir mengabdikan diri dengan tulus ikhlas membela Tanah Air.

"Tiga jimat Jenderal Sudirman yang membawa kemenangan saat perang melawan penjajah," kata Gatot saat menghadiri acara Kirab Hari Santri Nasional dan Peringatan Resolusi Jihad di Tugu Proklamasi, Kamis (22/10/2015).

Kemenangan Jenderal Sudirman itu pun dilanjutkan dengan perjuangan rakyat melalui resolusi jihad. Khususnya di kota Surabaya yang diekspresikan melalui semangat membara saat perang Surabaya, 22 Oktober 1945.

Selengkapnya.

2 dari 3 halaman

Semoga Presiden dari...

2. Ahok: Semoga Ada Presiden Indonesia Lahir dari...

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) kini menjadi andalan Pemprov DKI Jakarta untuk mencegah maraknya kasus kekerasan terhadap anak. Taman ini dibangun memang tidak hanya untuk lokasi bermain, tapi tempat membina anak dan keluarga.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok bahkan memiliki harapan lebih dari itu. Dia ingin ada Presiden RI yang lahir dari pembinaan di RPTRA semasa kecilnya.

"Saya ingin ada Presiden Indonesia yang lahir dari RPTRA," ujar Ahok saat membuka RPTRA Cililitan, Jakarta Timur, Kamis (22/10/2015).

Mantan Bupati Belitung Timur itu sengaja mendesain taman ini menjadi taman terpadu. Dalam satu taman, ada klinik, PAUD, taman bermain, ruang serbaguna, tempat olahraga, hingga mini market.

Selengkapnya.

3. Ratu Denmark Penasaran Batik Iriana Jokowi

Presiden Jokowi menerima kunjungan kehormatan pemimpin kerajaan Denmark, Ratu Margrethe II beserta Pangeran Consort Henrik di Istana Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Dalam pertemuan yang digelar selama sekitar 30 menit itu, Jokowi mengaku banyak berbincang dengan Ratu Margrethe II mengenai hal yang terkait kebudayaan dan seni tradisional daerah. ‎Salah satu hal yang dibahas adalah batik. Ternyata sang ratu juga memiliki kegemaran terhadap batik.

Menurut Jokowi, Ratu Margrethe II sangat tertarik dengan batik dan berbagai warisan budaya di Indonesia. Jokowi kemudian menunjukkan salah satu jenis batik model kebaya berwarna oranye yang dikenakan oleh sang istri, Iriana. Ratu sempat bertanya mengenai proses pembuatan dan jenis batik tersebut. ‎

Selengkapnya.

3 dari 3 halaman

Anggota DPRD Sombong

4. Ahok: Sombong Banget Baru Jadi Anggota DPRD Bekasi

Komisi A DPRD Kota Bekasi berencana memanggil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Pemanggilan kepala daerah yang akrab disapa Ahok ini terkait permasalahan pengelolaan sampah di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.

Mendengar kabar itu, Ahok mengaku sangat marah. Dia menilai pemanggilan tersebut tidak beralasan dan hanya sikap sombong dari anggota dewan Bekasi.

"Sombong banget baru jadi anggota DPRD. Padahal di DPRD juga enggak pernah mayoritas. Jadi jangan terlalu sombong kalau jadi DPRD Bekasi. Masih ada aja oknumnya yang sombong banget," ujar Ahok di Balaikota Jakarta.

Selengkapnya.

5. Di Hadapan Hakim, Margriet Megawe Mengelak Bunuh Angeline

Jaksa penuntut umum (JPU) membacakan dakwaan terhadap Margriet Christina Megawe dalam kasus pembunuhan terhadap anak angkatnya, Angeline, di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali.

Margriet didakwa Pasal 340 tentang pembunuhan berencana dan Pasal 338 tentang pembunuhan. Margriet juga dijerat Pasal 76 C jo Pasal 80 ayat (3) Undang-Undang No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang UU Perlindungan Anak.

‎Saat ditanya Hakim Ketua Edward Haris Sinaga apakah Margriet Megawe sudah mengerti apa yang disampaikan JPU tersebut, Margriet menjawab sangat menyayangi Angeline dan mengaku tidak pernah membunuh bocah kelas 2 SD yang tertulis nama di rapotnya Engeline.

Selengkapnya.