Derita TKI Hampir Tiada Henti

Di Malaysia saja ada 1.200 pembantu rumah tangga yang lari tiap bulan karena gaji tidak dibayar dan perlakuan yang tidak manusiawi. Ridwan serta keluarga lainnya berharap agar Ceriyati segera dipulangkan ke Tanah Air.

Diterbitkan 18 Juni 2007, 18:16 WIB
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Brebes: Kepergian Ceriyati ke Negeri Jiran seperti impian tenaga kerja Indonesia lainnya yakni memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Namun bukan ringgit yang didapat tapi siksaan yang dilakukan sang majikan hampir setiap hari. Pukulan, injakan, cekikan, dan makian hampir menjadi menu sehari-hari Ceriyati.

Suami Ceriyati, Ridwan mengatakan, istrinya pergi ke Malaysia sejak 14 bulan silam melalui pengerah jasa TKI PT Sumber Kencana Sejahtera, Jakarta Timur. Namun Ridwan tak tahu tempat Ceriyati kerja karena sang istri tak pernah memberi kabar. Ridwan baru mengetahui nasib istrinya setelah diberitakan kalau Ceriyati kabur.

Ridwan dan keluarga lainnya berharap Ceriyati segera dipulangkan. Kini Ceriyati ada di Kantor Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur. Ceriyati tengah menempuh upaya hukum melalui KBRI. TKI asal Desa Gedung Bohor, Larangan, Brebes, Jawa Tengah ini menuntut majikannya bertanggung jawab [baca: Disiksa Majikan, TKI Kabur Melalui Jendela].

Nasib Ceriyati hanya mewakili penderitaan ribuan TKI yang kerja di luar negeri. Padahal mereka yang dinobatkan sebagai pahlawan devisa ini telah menyumbangkan sedikitnya Rp 60 triliun untuk pemasukan negara. Jumlah yang tak seimbang dengan perhatian yang mereka dapatkan dari pemerintah yang harusnya memberikan perlindungan pada para TKI.

Pemerintah hanya menyatakan prihatin atas kejadian yang menimpa Ceriyati yang kabur dari tempat majikannya dengan cara turun dari lantai 12 Kondominium Tamarind, Kuala Lumpur menggunakan beberapa helai kain yang diikat menjadi tali. "Kami prihatin dengan nasib mereka," kata Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda.

Kisah pilu memang banyak menimpa TKI. Di Malaysia saja ada 1.200 pembantu rumah tangga yang lari tiap bulannya. Mereka kabur karena gaji yang tidak dibayar sampai perlakuan yang tidak manusiawi. Migran Care, lembaga yang memperhatikan nasib TKI menyebutkan, prihatin atas kurang memadainya perhatian pemerintah membela pekerja di luar negeri.

Seorang TKI bernama Nirmala Bonat masih mencari keadilan untuk dirinya. Sudah dua tahun ini kasus penyetrikaan badan Nirmala oleh sang majikan belum diputuskan hakim Mahkamah Sesyen atau Pengadilan Negeri Kuala Lumpur. Sebaliknya, kini Nirmala khawatir karena gugatan balik majikannya Yim Pik Ha [baca: Sidang Nirmala Bonat Ditunda].

Nasib serupa dirasakan Sumiyati. Perempuan asal Sukabumi, Jawa Barat ini dianiaya majikan di Kuwait. Dia menderita luka bakar di sejumlah bagian tubuhnya akibat disulut kembang api. Perlakuan ini didapat setelah dia cekcok dengan majikan mengenai upah yang tidak sesuai dengan perjanjian awal dengan sponsor.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6