Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di sejumlah wilayah Indonesia menyisakan cerita miris bagi masyarakat dan satwa liar. Kabut asap pekat mengganggu aktivitas warga, meningkatkan risiko gangguan kesehatan, hingga mengancam kehidupan satwa yang habitatnya terdampak kebakaran.
Di Kalimantan, kebakaran yang berlangsung sejak Juli 2026 memicu kabut asap di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut membatasi jarak pandang, bahkan pada siang hari. Dampaknya juga dirasakan di wilayah lain di Indonesia, bahkan hingga negara tetangga.
Kabut asap akibat karhutla membawa dampak merugikan bagi makhluk hidup. Warga terpaksa membatasi aktivitas di luar rumah, mengkhawatirkan kesehatan anak, serta menghadapi tantangan keselamatan kerja dan keterbatasan air bersih.
Advertisement
Hiero (35), warga Samarinda, mengatakan kabut asap membuatnya lebih waspada saat beraktivitas sehari-hari, terutama karena ia memiliki anak berusia 3 tahun yang rentan terdampak paparan asap.
“Kabut asap yang menurunkan kualitas udara sangat mengganggu aktivitas harian saya. Saya semakin waspada dan membatasi aktivitas di luar rumah,” kata Hiero saat berbincang dengan Liputan6.com, dikutip Rabu (14/10/2026).
“Saya harus lebih ekstra mengawasi kesehatan anak saya yang masih berusia 3 tahun akibat paparan asap karhutla,” ujarnya.
Hiero berharap Pemerintah Kota Samarinda dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur meningkatkan upaya pemadaman agar kabut asap tidak terus mengganggu kehidupan warga.
Sementara itu, Rosa (32), warga Samarinda yang bekerja di sektor jual beli alat berat, mengatakan kabut asap turut menimbulkan tantangan di lingkungan kerjanya.
“Kabut asap ini tentu memengaruhi standar K3 di lingkungan kerja saya,” kata Rosa.
Selain menghadapi kabut asap, Rosa menyoroti kesulitan memperoleh air bersih di tengah kondisi Sungai Mahakam yang mengalami intrusi air laut.
“Selain kondisi kabut asap yang semakin tebal, warga Samarinda juga dihadapkan dengan sulitnya memperoleh air bersih,” ujarnya.
Karhutla Memicu Puluhan Ribu Kasus ISPA
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi salah satu masalah kesehatan yang muncul di tengah kabut asap. Akumulasi kasus ISPA yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di tujuh provinsi mencapai 113.336 kasus per 9 September 2026.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Widyawati, menyampaikan bahwa kasus ISPA tersebut dilaporkan di 63 kabupaten/kota yang tersebar di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.
"Laporan kasus ISPA terbagi dalam kelompok usia, yakni sebanyak 26.545 kasus menyerang balita usia 0 hingga 5 tahun, serta 86.791 kasus terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun," kata Widyawati, dikutip Rabu (14/10/2026).
Widyawati memaparkan bahwa peningkatan kasus gangguan pernapasan sejalan dengan memburuknya Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah daerah. Kualitas udara di wilayah tersebut masuk kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Kualitas udara kategori berbahaya teridentifikasi di sejumlah wilayah, mulai dari Kabupaten Kotawaringin Timur hingga Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah.
Sementara itu, kualitas udara kategori sangat tidak sehat tercatat di Baning Kota, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, serta Kabupaten Tebo, Jambi.
Aktivitas Ekonomi Warga Ikut Terdampak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364568/original/007790200_1791007223-1001722712.jpg)
Karhutla yang melanda wilayah Kalimantan tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi warga. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membenarkan bahwa karhutla di Kalimantan telah mengganggu roda perekonomian lokal.
"Ya tentu dampak perekonomian di wilayah tersebut karena kegiatan ekonomi kan terganggu. Plus perlu ada penanggulangan terhadap karhutla tersebut," ujar Airlangga saat ditemui di kantornya di Jakarta, dikutip dari Antara.
Dampak tersebut dirasakan pekerja harian yang menggantungkan penghasilan pada mobilitas masyarakat, termasuk pengguna transportasi udara.
Di balik penerbangan yang tertunda dan jarak pandang yang memburuk, para pekerja harian ikut menanggung dampaknya. Mereka antara lain sopir taksi bandara, porter, hingga petugas ground handling yang penghasilannya bergantung pada kelancaran aktivitas penerbangan.
Kelompok pekerja tersebut menyampaikan kesulitan yang mereka hadapi kepada anggota DPR dari daerah pemilihan Kalimantan Tengah, Andina Thresia Narang. Bagi mereka, berkurangnya aktivitas penerbangan berarti menyusutnya kesempatan memperoleh penghasilan, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi setiap hari.
“Ini menunjukkan bahwa dampak karhutla meluas hingga pekerja sektor informal yang mengandalkan penghasilan harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” kata Andina.
Menurut Andina, aktivitas penerbangan di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, telah terganggu selama lebih dari sebulan akibat kabut asap dan terbatasnya jarak pandang. Kondisi tersebut tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga memengaruhi kegiatan ekonomi yang bergantung pada transportasi udara.
Advertisement
Satwa Liar Terancam dan Keluar dari Habitatnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341063/original/052175000_1788577882-ut4.jpg)
Karhutla bukan hanya menyisakan asap dan lahan menghitam. Di balik kobaran api yang melanda sejumlah wilayah, kehidupan satwa liar juga ikut terancam.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat sebanyak 290 individu satwa liar masuk dalam penanganan terkait bencana karhutla di Indonesia hingga 8 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, 272 individu berada dalam penanganan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di empat provinsi di Kalimantan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, mengatakan data tersebut merupakan rekapitulasi penanganan satwa liar terkait bencana karhutla hingga awal Oktober. Dari total satwa yang ditangani secara nasional, sebanyak 96 individu merupakan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), salah satu satwa yang kehidupannya bergantung pada keberadaan hutan.
"Mengenai satwa, berdasarkan rekap Kemenhut hingga 8 Oktober 2026, tercatat 290 individu satwa liar secara nasional dalam penanganan terkait bencana. Dari jumlah tersebut, 272 individu tercatat dalam penanganan BKSDA di empat provinsi Kalimantan," ujar Ristianto.
Sejumlah satwa terpaksa keluar dari habitatnya dan memasuki kawasan yang berdekatan dengan aktivitas manusia.
Di kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Katingan, seekor orangutan dilaporkan masuk ke badan jalan dan kawasan perkantoran. Petugas pemadam kebakaran bersama warga berupaya mengarahkannya kembali ke hutan untuk mencegah konflik dengan manusia.
Namun, tidak semua satwa berhasil menyelamatkan diri. Di Kasongan, ibu kota Kabupaten Katingan, petugas menemukan seekor trenggiling yang merupakan satwa dilindungi serta seekor ular mati dengan tubuh terbakar di lokasi karhutla.
"Di Kalteng ini banyak satwa yang terdampak. Kemarin menemukan ular sanca kurang lebih panjang tiga meteran. Itu mati terbakar. Dan juga satwa dilindungi termasuk terenggiling," kata petugas Damkar Dinas Kehutanan Kalteng, Bagus.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357131/original/047451800_1790234905-BSU_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4455298/original/012467700_1686039725-Preskon_Presiden_Jokowi_usai_Rakornas_III_PDIP-HERMAN__3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306335/original/075578900_1784874762-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-24T133156.067.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372199/original/025007600_1791871347-HOAX__33_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371919/original/008702900_1791854435-000_D2Z484J.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2839270/original/059429300_1561673686-bakaran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372008/original/098413900_1791862742-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_10.32.03.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372663/original/071242900_1791886203-320d8c17-40e7-4932-ac6c-049b0917b995.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5364166/original/001813400_1759043139-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372554/original/041295500_1791882935-1260546.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372484/original/034959900_1791880516-Tengkorak_orangutan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347313/original/011614700_1789291452-WhatsApp_Image_2026-09-13_at_12.33.27.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2881790/original/068051000_1565777314-kebakaran5.jpg)