Korban Tewas Banjir di Kutacane Terus Bertambah

Hingga kini, warga Kutacane, NAD, yang ditemukan tewas 14 orang dan lebih dari 53 korban luka-luka. Pengungsi yang terfokus di dua tempat sangat membutuhkan bahan makanan dan obat-obatan.

Diterbitkan 20 Oktober 2005, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Kutacane: Korban banjir bandang di Kecamatan Simpang Semadam, Kutacane, Aceh Tenggara, Nanggroe Aceh Darussalam, terus berjatuhan. Hingga Kamis (20/10) siang, 14 orang tewas dan lebih dari 53 warga luka-luka. Korban cedera kini masih dirawat di Sakit Umum Daerah Haji Sahudin, Kutacane. Diduga, korban tewas akan bertambah mengingat masih banyak warga yang hilang akibat bencana alam.

Berdasarkan pantauan SCTV hingga siang, lima desa di Kecamatan Simpang Semadam masih tertutup lumpur bercampur batu dan kayu. Tapi, air mulai surut dan jalan-jalan bisa dilalui kendaraan. Sejauh ini, warga mengeluhkan bantuan yang lamban, terutama dari pemerintah setempat. Warga baru menerima bantuan yang dikoordinir Kepolisian Resor Kutacane, itu pun dalam jumlah yang minim.

Pos Satuan Koordinasi Pelaksana Kutacane juga belum bekerja maksimal. Bahkan, beberapa nomor telepon yang dihubungi tak bisa memberikan informasi lengkap mengenai penanganan bencana. Sarana bagi pengungsi juga masih memprihatinkan. Banyak warga yang masih tidur di emperan bangunan. Sementara dapur umum yang memadai juga belum didirikan. Para pengungsi hingga kini terfokus di dua tempat, yakni Gedung Olahraga dan Gedung Serbaguna Kutacane. Rencananya, hari ini, Menteri Kehutanan M.S. Kaban dan pejabat Pemerintah Provinsi NAD akan meninjau langsung para pengungsi.

Bencana alam yang terjadi Selasa silam itu memang menyisakan kepedihan bagi keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta. Umumnya korban tewas atau yang kini masih hilang adalah mereka yang tak sempat menyelamatkan diri saat bencana banjir bandang menyapu desa. Mereka tertimbun reruntuhan bangunan rumah yang diterjang banjir bersama lumpur dan gelondongan kayu [baca: Banjir di Kutacane Menewaskan Lima Orang].

Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab banjir bandang. Namun, pihak Wahana Lingkungan Hidup Indonesia berpendapat banjir bandang yang kembali terjadi di Kutacane disebabkan kerusakan hutan di lereng Gunung Leuser. Menurut Direktur Walhi NAD Cut Hindu, kerusakan itu terjadi akibat penebangan liar. Uniknya, illegal logging terjadi di hutan yang ditetapkan sebagai taman nasional yang juga menjadi paru-paru dunia [baca: Walhi: Pembalakan Liar Penyebab Banjir di Kutacane].

Namun, tudingan itu dibantah pihak Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara. Dalam telewicara Rabu kemarin, Bupati Aceh Tenggara Armen Desky membantah banjir bandang disebabkan illegal logging. Menurut dia, kejadian itu murni bencana alam. Armen menjamin tak ada illegal logging di wilayahnya.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6