Sleepmaxxing, Tren Baru untuk Tingkatkan Kualitas Tidur yang Ramai di Media Sosial

Sleepmaxxing kini cara baru untuk membantu kualitas tidur agar lebih baik, teratur, dan lebih optimal.

Diterbitkan 31 Agustus 2026, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sleepmaxxing menjadi tren yang mengajak orang mengoptimalkan durasi dan kualitas tidur melalui berbagai kebiasaan maupun produk. Popularitasnya meningkat di media sosial, terutama TikTok, tempat pengguna membagikan rutinitas tidur hingga berbagai cara yang dianggap mampu membuat istirahat lebih maksimal.

Tren tersebut juga memunculkan beragam praktik, mulai dari mengonsumsi suplemen, menggunakan plester mulut, hingga memasang alat pelebar hidung. Tidak semua metode memiliki manfaat yang sama. Sejumlah ahli mengingatkan adanya risiko jika seseorang mengikuti tren tanpa mempertimbangkan kondisi dan kebutuhannya.

Melansir Healthline, Kamis, 20 Agustus 2026, Carleara Weiss, penasihat ilmu tidur di Aeroflow Sleep, mengatakan tidur sebaiknya tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus terus ditingkatkan dengan membeli berbagai produk. Fokus utama tetap pada kesehatan dan kebiasaan yang mendukung kualitas istirahat.

Perhatian terhadap tidur kini juga semakin besar di kalangan generasi muda. CBS News melaporkan, tidur mulai dianggap sebagai bagian dari gaya hidup sehat, berdampingan dengan olahraga dan perawatan diri.

Pandangan ini turut menunjukkan perubahan terhadap pentingnya istirahat setelah sebelumnya produktivitas sering menjadi prioritas. Tidur yang cukup memang penting bagi kesehatan. Keinginan mendapatkan istirahat berkualitas juga dapat mendorong seseorang lebih memperhatikan rutinitas sebelum tidur, lingkungan kamar, serta jadwal istirahat yang teratur.

Namun, upaya mencapai tidur sempurna tidak perlu membuat seseorang mengikuti terlalu banyak aturan. Setiap orang memiliki kebutuhan tidur yang berbeda. Memahami kondisi tubuh dan membangun kebiasaan konsisten tetap menjadi langkah yang lebih bijak.

Pengaruh Kegunaan Suplemen Tidur

Penggunaan suplemen menjadi salah satu bagian dari tren sleepmaxxing yang perlu disikapi dengan bijak. Tidak semua orang membutuhkan tambahan suplemen untuk mendapatkan tidur berkualitas. Kekhawatiran muncul ketika tidur dianggap harus terus dioptimalkan melalui berbagai produk.

Magnesium termasuk kandungan yang populer, salah satunya dalam minuman seperti Sleepy Girl Mocktail. Tinjauan penelitian pada 2023 menunjukkan kemungkinan hubungan antara asupan magnesium dan kualitas tidur.

Meski begitu, temuan tersebut belum berarti setiap orang perlu mengonsumsinya. Magnesium juga dapat berinteraksi dengan obat tertentu dan konsumsi berlebihan berisiko menimbulkan gangguan pencernaan.

Melatonin juga kerap digunakan untuk membantu mengatasi gangguan tidur tertentu dalam jangka pendek, termasuk jet lag. Beberapa produk melatonin bebas mengandung dosis yang lebih tinggi dari kisaran 0,3─5 mg yang disebut aman bagi orang dewasa.

Tidur Sehat Bawa Banyak Manfaat

Sleepmaxxing juga memperkenalkan sejumlah kebiasaan tidur yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam rutinitas sehari-hari. Menjaga jadwal tidur tetap konsisten, membatasi penggunaan perangkat elektronik sebelum beristirahat, serta menciptakan suasana yang menenangkan dapat membantu tubuh bersiap memasuki waktu tidur.

Tidur yang cukup dan berkualitas turut mendukung kesehatan secara menyeluruh. Istirahat yang baik berperan dalam menjaga suasana hati, konsentrasi, hingga kemampuan tubuh menghadapi stres.

Dalam jangka panjang, pola tidur sehat juga berkaitan dengan kesehatan metabolisme dan dapat membantu menurunkan risiko sejumlah gangguan kesehatan. Meski demikian, media sosial sebaiknya tidak menjadi satu-satunya rujukan untuk mengatasi masalah tidur.

Gangguan tidur dapat dipicu oleh berbagai kondisi dan membutuhkan penanganan yang berbeda. Konsultasi dengan tenaga profesional dapat membantu menentukan penyebab serta langkah yang sesuai, terutama ketika masalah tidur berlangsung terus-menerus atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Memicu Kecemasan

Meski bertujuan meningkatkan kualitas tidur, penerapan sleepmaxxing secara berlebihan justru dapat memunculkan masalah baru. Salah satunya penggunaan pelacak tidur secara obsesif. Alih-alih membantu memahami pola istirahat, kebiasaan terus memantau data dapat memicu kecemasan ketika hasilnya tidak sesuai target.

Tekanan untuk mendapatkan tidur yang dianggap sempurna juga berpotensi menjadi kontraproduktif. Semakin seseorang memaksakan diri untuk segera tertidur, semakin besar rasa cemas yang dapat muncul sehingga justru mengganggu proses istirahat.

Mouth taping menjadi praktik lain yang perlu diperhatikan. Metode menutup mulut dengan plester saat tidur tersebut belum memiliki cukup bukti yang mendukung manfaatnya. Penggunaannya juga dapat menimbulkan risiko pada orang dengan kondisi tertentu, termasuk mereka yang mengalami sleep apnea.

Karena itu, popularitas suatu metode di media sosial tidak otomatis menjadikannya kebiasaan tidur yang sehat. Pilih pendekatan yang sesuai kebutuhan tubuh dan hindari praktik tanpa dasar yang jelas.