Liputan6.com, Jakarta - Pandemi telah mengubah lanskap kerja secara drastis, mengalihkan jutaan individu ke model kerja jarak jauh. Meskipun menawarkan fleksibilitas dan efisiensi waktu, bekerja dari rumah juga memunculkan tantangan unik yang berpotensi mengikis kesejahteraan mental. Batasan antara kehidupan pribadi dan profesional seringkali menjadi kabur, memicu perasaan terisolasi, serta tekanan untuk selalu “tersedia” yang dapat dengan cepat berujung pada stres, kecemasan, dan kelelahan ekstrem atau burnout.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, sebuah solusi sederhana namun efektif mulai populer: “Fake Commute” atau “Perjalanan Palsu”. Ini adalah ritual yang disengaja yang dilakukan pekerja remote untuk mensimulasikan perjalanan pulang-pergi kantor, bertujuan menjaga kesehatan mental dan meningkatkan produktivitas. James Preston dari Mutually Human menekankan bahwa kerja remote bukan sekadar perubahan lokasi, melainkan membentuk ulang cara kita menjalani kehidupan sehari-hari, di mana banyak pekerja kesulitan menjaga keseimbangan kerja-hidup tanpa perjalanan atau jam kantor yang tetap.
Tanpa batasan fisik yang jelas, pekerjaan dapat dengan mudah merambah ke setiap bagian hari. Oleh karena itu, “Fake Commute” hadir sebagai “peretasan mental” untuk memberi sinyal pada otak bahwa sudah waktunya beralih ke mode kerja atau mode rumah, membantu memulihkan pemisahan yang hilang antara berbagai peran yang kita jalankan.
Advertisement
Mengapa Transisi Mental Penting bagi Pekerja Remote?
![[Fimela] KRL](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/DTX1acbdhjWRnhq_lbY3btURjcg=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2907282/original/011946600_1568125582-fabrizio-verrecchia-C6HwEhYgPKM-unsplash.jpg)
Sebelum era kerja remote, perjalanan ke kantor, meskipun terkadang melelahkan, memiliki fungsi psikologis krusial. Perjalanan ini bertindak sebagai “penyangga mental” yang memisahkan kehidupan rumah dan pekerjaan. Banyak orang merindukan perjalanan ini karena penyangga mental yang diberikannya antara rumah dan pekerjaan.
Dr. Srinivas Dannaram, seorang psikiater di Banner Thunderbird Medical Center, menjelaskan bahwa perjalanan ini “memberi orang waktu berkualitas untuk persiapan mental menghadapi hari” dan “mengatur otak ke mode transisi default, baik dari rumah ke kantor atau sebaliknya.” Jon Jachimowicz, asisten profesor administrasi bisnis di Harvard Business School, menambahkan bahwa perjalanan ini menyediakan “pemisahan temporal dan spasial antara semua peran berbeda yang kita mainkan.” Waktu ini sering dimanfaatkan untuk refleksi, dekompresi, atau melakukan aktivitas pribadi seperti membaca buku atau mendengarkan musik, yang semuanya berkontribusi pada kesejahteraan mental. Otak manusia menyukai rutinitas dan prediktabilitas, dan perjalanan ke kantor menyediakan struktur ini.
Advertisement
Manfaat "Fake Commute" untuk Kesejahteraan Mental
![[Fimela] ilustrasi transportasi umum](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/-Pla7Le7hY8loAE_eg63f011a98=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3076369/original/018253500_1584159428-jc-gellidon-WUWD5IYsVCg-unsplash.jpg)
Para ahli dari berbagai bidang menyoroti manfaat signifikan dari “Fake Commute” untuk kesejahteraan pekerja remote:
Menciptakan Batasan yang Sehat
“Fake commute” membantu membangun batasan yang lebih sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, mencegah pekerjaan merambah ke waktu pribadi dan mengurangi risiko burnout. Psikolog klinis Dr. Jeannette Raymond menjelaskan, “Perjalanan ke kantor adalah pengalaman sah yang hebat untuk membangun penghalang antara dunia luar pekerjaan, keluarga, [atau] kehidupan sosial dan tuntutan perhatian Anda.” Profesor David Zweig dari University of Toronto menambahkan bahwa dinding antara pekerjaan dan non-pekerjaan telah sepenuhnya menghilang bagi banyak orang, sehingga perlu menemukan cara, baik secara psikologis atau lainnya, untuk membangun kembali dinding-dinding tersebut.
Membangun Rutinitas dan Struktur
Rutinitas ini menambahkan struktur dan stabilitas pada hari kerja, mengurangi kelelahan akibat pengambilan keputusan. Profesor Anna Cox dari University College London menyatakan, “Terlibat dalam ‘perjalanan pura-pura’ di awal dan akhir hari tidak hanya memberikan kesempatan untuk membangun aktivitas fisik ke dalam rutinitas harian Anda tetapi juga memberikan kesempatan untuk transisi antara bagian kerja dan non-kerja dalam hidup.”
Mendukung Gerakan dan Kesadaran
“Fake commute” mendorong aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki, peregangan, atau yoga. Gerakan memainkan peran kunci dalam kesehatan fisik dan mental, bahkan aktivitas harian moderat dapat membantu meningkatkan suasana hati, kualitas tidur, dan fokus. Ketika dilakukan dengan penuh kesadaran, aktivitas ini juga dapat berfungsi sebagai praktik grounding. Bahkan, paparan udara segar dan gerakan fisik selama 10 menit dapat secara signifikan mengurangi kadar kortisol (hormon stres) dan meningkatkan suasana hati.
Meningkatkan Kejernihan Mental dan Produktivitas
Rutinitas ini dapat meningkatkan kejernihan mental, kreativitas, dan mengurangi tingkat stres. Ed Wyder dari Medium menulis bahwa kejernihan mentalnya meningkat, kreativitas mengalir, dan tingkat stres berkurang, di mana pemisahan yang jelas antara kehidupan kerja dan pribadi menambah struktur pada hari-harinya, menancapkannya pada momen saat ini. Penelitian menunjukkan bahwa refleksi aktif di akhir hari dapat meningkatkan kinerja kerja. Scott Sonenshein, seorang psikolog organisasi di Rice University, berpendapat bahwa momen-momen “autopilot” selama perjalanan dapat membebaskan kekuatan otak untuk ide-ide dan wawasan baru.
Menerapkan "Fake Commute" untuk Hari Kerja yang Lebih Baik
Kunci keberhasilan “Fake Commute” adalah konsistensi dan kesengajaan. Tidak ada durasi ideal yang tunggal; bisa 10 hingga 30 menit, atau bahkan disesuaikan dengan waktu perjalanan Anda sebelumnya. Sebuah “fake commute” bisa sesederhana jalan kaki 10 menit di sekitar lingkungan atau bahkan berkendara sebentar. Transisi fisik kecil ini membantu menandakan awal dan akhir hari kerja, menciptakan batasan mental yang jelas antara “kerja” dan “rumah”.
Ide untuk Pagi Hari:
- Berjalan Kaki/Bersepeda: Lakukan jalan kaki singkat di sekitar lingkungan atau bersepeda sebelum memulai pekerjaan.
- Meditasi/Jurnal: Luangkan waktu untuk meditasi atau menulis jurnal untuk menjernihkan pikiran.
- Dengarkan Podcast/Musik: Nikmati podcast atau daftar putar musik favorit Anda.
- Berpakaian: Kenakan pakaian yang sesuai untuk bekerja, bahkan jika Anda hanya di rumah, untuk memberi sinyal mental bahwa Anda sedang dalam mode kerja.
- Berkendara Singkat: Beberapa orang bahkan melakukan perjalanan singkat dengan mobil di sekitar lingkungan.
Ide untuk Sore Hari:
- Aktivitas Fisik: Setelah selesai bekerja, lakukan olahraga, yoga, atau peregangan untuk melepaskan stres.
- Bersihkan Meja Kerja: Rapikan meja kerja Anda sebagai tanda fisik berakhirnya hari kerja.
- Putuskan Sambungan: Matikan notifikasi telepon dan email kerja untuk benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan. Ashira Prossack dari Forbes menyarankan untuk membuat “fake commute” di akhir hari untuk menuai semua manfaatnya, membantu transisi kembali ke mode rumah, menutup tab di komputer, mematikan komputer untuk hari itu, merapikan ruang kerja, dan meniru aktivitas perjalanan pulang seperti mendengarkan musik atau membaca selama 10 menit atau lebih.
Debbie Plotnick, wakil presiden untuk advokasi kesehatan mental di Mental Health America, menyarankan untuk benar-benar meninggalkan rumah jika memungkinkan, bahkan hanya untuk berjalan-jalan di halaman belakang atau sekitar blok, untuk mendapatkan manfaat maksimal.
Pada akhirnya, “Fake Commute” bukan hanya sebuah tren, melainkan alat praktis yang membantu pekerja remote menciptakan batasan yang jelas, membangun rutinitas yang sehat, dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Dengan upaya yang disengaja, fleksibilitas kerja remote dapat dinikmati tanpa mengorbankan kewarasan dan kesejahteraan.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296017/original/033910000_1784000101-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T103335.623.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316388/original/075760100_1785924799-cek_fakta_-_cpns_kementerian_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3167349/original/049156100_1593592165-20200701-Iuran-BPJS-Kesehatan-Resmi-Naik--ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4993667/original/042123900_1730894051-kepanjangan-krl-adalah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5458946/original/076302000_1767143148-Rok_Maxi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296245/original/073777200_1784008984-tuna-sandwich-with-mayo-vegetables-gray-stone-background.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540162/original/011671700_1774684318-Arus_balik_Lebaran_2026_di_Bandara_Soetta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4857638/original/070950400_1717898392-diana-polekhina-OpB7gkQY9oc-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315930/original/092391700_1785904450-Screenshot_2026-08-05_112755.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316496/original/026836600_1785933547-2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316396/original/039940800_1785925328-c9ee8081-21f0-4eb9-bf2a-c872f00f5a33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316462/original/058738700_1785928900-6.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316358/original/094829800_1785923180-d1220e06-9909-4fc3-9529-ff725fb13cd3.jpg)