Bali Fashion Trend 2025 Hadirkan 150 Desainer, Tak Sekadar Pamer Koleksi di Runway

Bali Fashion Trend 2025 digelar selama empat hari di Ubud. Selain desainer Indonesia, ada pula desainer mancanegara dari Italia, Malaysia, dan Iran.

Diterbitkan 12 Januari 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bali Fashion Trend 2025 (BFT 2025) tuntas digelar pada 18--21 Desember 2025 di Onyx Park Resort, Ubud, Bali. Inisiatif kolaborasi Indonesia Fashion Chamber (IFC) Denpasar Chapter dan pemilik tempat itu menghadirkan lebih dari 150 desainer dalam tema besar Beyond Beauty.

Lewat tema tersebut, penyelenggara ingin menunjukkan evolusi mode modern yang tidak hanya tentang estetika dan keindahan visual, tetapi juga tentang makna, nilai, keberlanjutan, dan kolaborasi lintas sektor. Event fashion itu diklaim bukan hanya untuk memamerkan koleksi beragam jenama dan desainer, tetapi lebih dari itu.

"Melalui Bali Fashion Trend 2025, kita merayakan bagaimana budaya, dan inovasi dapat dipadukan dalam satu runway yang menegaskan bahwa warisan budaya Indonesia dapat menjadi daya tarik kuat bag ipasar internasional," kata Ari Satria, Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif, Kementerian Perdagangan, dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Senin (12/1/2026).

Ajang itu, sambung dia, kembali mempertemukan buyer dan desainer internasional. Menurut Ari, hal itu merupakan momentum yang membuka peluang bagi karya Indonesia untuk menjangkau pasar global.

Terlebih, desainer yang terlibat tidak hanya dari dalam, tetapi juga luar negeri, seperti Malaysia, Italia, dan Iran. Tidak hanya itu, lima sekolah mode dari berbagai institusi pendidikan terkemuka juga diberikan panggung khusus untuk menampilkan kreativitas generasi penerus industri fesyen Indonesia.

Kurasi Karya di BFT 2025

Kurasi karya dibagi dalam empat kategori utama, yakni Casual Resort Wear, Ethnic Contemporary, Evening Wear, dan Modest Fashion. "Tahun ini, kami memperkuat kurasi dan menghadirkan pengalaman yang lebih mendalam, lebih inovatif, dan lebih relevan bagi fesyen hari ini dan masa depan," ujar Neli Gunawan, Chairwomen IFC Denpasar Chapter sekaligus Ketua Panitia BFT 2025.

"BFT bukan sekadar fashion show, ini adalah ekosistem. Tempat talenta kreatif, budaya, bisnis, dan inovasi saling bertemu," sambungnya.

BFT 2025 menampilkan karya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga mengandung nilai budaya, narasi, dan kaidah craftsmanship yang kuat. Para desainer mengeksplorasi kain tradisional Indonesia, craft Bali dan Nusantara, teknik kontemporer, hingga pendekatan adibusana modern yang menggambarkan dinamika fesyen global.

Komitmen terhadap sustainable fashion tetap menjadi pilar utama BFT melalui material ramah lingkungan; teknik produksi minim limbah; penguatan craft lokal; dan desain tahan lama dan fungsional. Visi itu sejalan dengan arah perkembangan global dan menunjukkan bahwa masa depan fesyen adalah masa depan yang berkelanjutan.

Dukungan Ekosistem Fesyen Dalam Negeri

Selain desainer dari Indonesia dan mancanegara, BFT 2025 juga diramaikan oleh keterlibatan beberapa lembaga strategis:

 Bank Indonesia — menghadirkan beberapa slot khusus yang menampilkan UMKM unggulan dari berbagai provinsi.

 Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Program ASIK) — berpartisipasi dalamsesi kurasi khusus untuk penguatan UMKM kreatif nasional.

ï‚· Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, terlibat dalam program kolaboratif yang menghubungkan kreativitas fashion dengan pemberdayaan warga binaan, membuka ruang kolaborasi sosial di industri mode.

Sinergi lintas sektor ini mempertegas fungsi BFT tidak hanya sebagai panggung fashion, tetapi juga sebagai platform pembangunan ekosistem kreatif nasional. Mendukung BFT 2025, berbagai kegiatan diselenggarakan, meliputi Business Networking; Brand Presentation; Fashion & Art Istallation; Mini Talk Sessions; Seminar; dan jumpa pers.