Liputan6.com, Jakarta - Berwisata adalah ritual yang umumnya dijalani untuk mencari penyembuhan, memulihkan tenaga dari rutinitas harian yang melelahkan. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa liburan kita merupakan sumber penghidupan, harapan, dan kenyataan ekonomi bagi mereka yang tinggal di sana?
Konsep inilah yang jadi inti dari gerakan #LestariLewatWisata melalui episode "Liburanku, Realitas Mereka," sebuah kampanye yang mengajak kita melihat bagaimana perjalanan bisa berdampak nyata. Tidak hanya bagi alam, tetapi juga kesejahteraan masyarakat lokal yang setia menjaga destinasi tetap hidup.
Dalam diskusi yang disiarkan langsung di akun Instagram @forwaparekraf, 23 Oktober 2025, audiens menyelami dua kisah inspiratif dari dua daerah berbeda. Kisah pertama datang dari Sugeng Handoko, seorang penggiat yang telah 18 tahun mengubah wajah Desa Nglanggeran di Gunungkidul, Yogyakarta, dari desa terpencil jadi desa wisata peraih penghargaan dunia.
Advertisement
Kisah kedua datang dari Mahfudi, yang lebih dikenal sebagai Brosot, seorang aktivis sekaligus enduduk asli Pulau Sebesi, Lampung, yang hidup dari pesona bahari Anak Gunung Krakatau. "Berhubung kita ini dekat dengan Anak Gunung Krakatau, kita istilahnya sering menjual di saat itu, kita 'jual' Krakatau. (Pariwisata) Sebesi itu berdirinya sejak 2010," ujar Brosot.
Dengan menyimak langsung cerita mereka, penonton diharapkan menyadari bahwa pariwisata berkelanjutan bukan hanya tentang menjaga keindahan alam, tapi juga memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan wisatawan benar-benar membawa manfaat langsung dan berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
Transformasi Nglanggeran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4145088/original/092570700_1662165155-IMG_8653.jpg)
Perjalanan Desa Nglanggeran menuju kesuksesan tidak terjadi dalam semalam. Dulunya, desa ini bahkan disebut sebagai desa "minus," karena potensinya sangat kecil dan jauh dari geliat pariwisata.
Sugeng menceritakan, proses perubahan citra Desa Nglanggeran dimulai sejak 2007 dan baru menunjukkan hasil yang signifikan sekitar 2010 atau 2011. "Alhamdulillah, dengan konsistensi dan komitmen, masyarakat kami bertahan dan berkembang sampai saat ini," ujar dia.
Ia menekankan, kunci transformasi ini adalah kesadaran bersama masyarakat untuk menjaga lingkungan. Awalnya, ide pariwisata adalah "benda asing" dan sempat ditentang sebagian warga yang khawatir praktik itu akan membawa "bencana."
Namun seiring berjalannya waktu, mereka memahami bahwa pariwisata, khususnya melalui konsep ekowisata, adalah alat dan pendorong yang efektif untuk menciptakan lingkungan yang kondusif. Dengan konsistensi, jejaring, dan kemauan untuk belajar, masyarakat Nglanggeran membuktikan prinsip "sesuatu yang dirawat itu memberikan manfaat yang besar."
Mereka tidak sekadar menjual pemandangan, tapi mengemas kearifan lokal, kegiatan bertani, beternak, serta berkebun, menjadi sebuah pembelajaran dan pengalaman autentik bagi wisatawan yang datang.
Advertisement
Dampak Ekonomi Nyata
Nilai tambah yang diberikan pariwisata di Nglanggeran tidak terbatas pada pemahaman lingkungan, tapi juga tercermin dalam angka yang mendongkrak kesejahteraan warga secara signifikan. Sugeng mencontohkan kelompok petani durian.
Dulu, satu buah durian matang di kebun seluas 20 hektare milik desa hanya dihargai sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu. Namun, setelah kebun itu diintegrasikan dengan agrowisata, durian varian Montong kini dijual rata-rata Rp 250 ribu.
Nilai tambah juga dirasakan kelompok lain, seperti kelompok ternak kambing bernama Purbaya, yang kini mengelola kandang lebih totalitas karena kandang mereka juga menjadi tempat wisata. Penghasilan yang masuk langsung ke pengelola desa, dari tiket masuk dan paket wisata, meningkat drastis, jadi Rp3,9 miliar pada 2024.
Ini belum termasuk efek berganda dari wisatawan yang berbelanja langsung ke masyarakat untuk oleh-oleh, kuliner, penginapan, dan transportasi, yang menghasilkan jauh lebih besar dan menggerakkan seluruh lini perekonomian desa.
Menjual Keindahan Dekat Rumah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2558981/original/010961300_1546232522-Gunung-Anak-Krakatau2.jpg)
Inspirasi pariwisata berbasis komunitas juga datang dari lanskap bahari, tepatnya dari Pulau Sebesi, Lampung, yang berdekatan dengan Anak Gunung Krakatau. Brosot menceritakan bagaimana masyarakat pulau memanfaatkan aset alam unik mereka sebagai sumber penghidupan baru.
Bagi warga Sebesi, pergerakan pariwisata ini secara serius dimulai sekitar tahun 2010, dan daya tarik utamanya bukanlah fasilitas yang mereka ciptakan, melainkan keajaiban alam yang sudah ada di dekat mereka: Anak Gunung Krakatau.
Pulau Sebesi jadi titik tolak yang strategis untuk wisata Krakatau, dengan waktu perjalanan yang relatif singkat. Menurut Brosot, "Perjalanan menggunakan kapal ke Krakatau memakan waktu sekitar satu setengah jam jika cuaca bagus, dan maksimal dua jam jika kondisi laut sedang buruk."
Model pariwisata Sebesi ini membuktikan bahwa kita tidak perlu menciptakan destinasi baru yang mahal, tapi cukup fokus pada aset unik yang sudah dimiliki. Mereka menceritakan petualangan, keunikan, dan kedekatan dengan ikon geologi dunia, Krakatau.
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653214/original/041640200_1700232225-Info_1.jpg)
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306409/original/068173500_1784877920-cek_fakta_-_pendaftaran_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5560136/original/057890300_1776659894-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-20T113652.901.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316841/original/059462500_1785991327-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-06T113319.126.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8820855/original/024125800_1782912081-gedung_ditjen_pajak-1_Juli_2026.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5393779/original/077728900_1761610602-forwaparekraf1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1372762/original/077068000_1476344055-yogya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315752/original/054985400_1785889151-WhatsApp_Image_2026-08-04_at_19.32.19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314293/original/042079700_1785742574-20260803_101343.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5568538/original/088037400_1777362088-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297080/original/025859300_1784075850-Mbah_Sutopo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289852/original/029754300_1783415989-Kue_Kipo_Kotagede.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289736/original/056646100_1783414299-farhan-abas-cm6shnIfdp4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289729/original/001973700_1783413883-IMG_20260707_123810__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289063/original/011096200_1783390641-WhatsApp_Image_2026-07-06_at_21.39.14.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288068/original/034219000_1783297444-terseret_ombak.jpg)