Sukses

Museum Yahudi Pertama Buka di Singapura, Ada Apa Saja?

Liputan6.com, Jakarta - Museum Yahudi pertama buka di Singapura, Kamis, 2 Desember 2021. Upacara peresmiannya berlangsung di Maghain Aboth Synagogue, yang merupakan sinagoga terbesar kedua di Asia dan tertua di Asia Tenggara.

Dibangun pada 1878, bangunan ini selama bertahun-tahun telah dibuat lebih besar dan jadi pusat aktivitas Yahudi di Singapura. Hingga akhirnya ia jadi tuan rumah museum yang menelusuri sejarah 200 tahun orang Yahudi di Negeri Singa.

Terletak di lantai pertama tetangga sinagoga, melansir Strait Times, Jumat (3/12/2021), Jacob Ballas Centre siap menceritakan kedatangan komunitas di Singapura segera setelah jadi koloni Inggris pada awal 1800-an, hingga Maret tahun ini, ketika seorang pria 20 tahun ditangkap karena merencakan serangan di Maghain Aboth Synagogue.

Narasi yang diceritakannya terhenti pada beberapa tokoh penting Yahudi dalam sejarah Singapura. Sebuah panel didedikasikan untuk David Marshall, kepala menteri Singapura pra-kemerdekaan 1955--1956, dan ruang untuk Jacob Ballas, dermawan dari pusat Jacob Ballas, sekaligus ketua Bursa Efek Malaysia dan Singapura periode 1964--1967.

Nama-nama terkenal lainnya termasuk mantan hakim Mahkamah Agung Joseph Grimberg, ahli bedah perintis Yahya Cohen, dan Sir Manasseh Meyer, seorang pengusaha terkemuka yang namanya menghiasi salah satu bangunan di kampus Bukit Timah National University of Singapore.

"Mereka adalah pengingat bahwa sesuatu yang besar kadang-kadang datang dalam jumlah kecil," kata Nash Benjamin, presiden Dewan Kesejahteraan Yahudi, mengacu pada populasi orang Yahudi di Singapura yang berjumlah antara dua hingga tiga ribu orang.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Paparan Budaya Yahudi

Benjamin menambahkan, "Komunitas Yahudi Singapura adalah komunitas Yahudi tertua yang masih ada di Asia Tenggara, yang sayangnya telah menyaksikan hilangnya berbagai komunitas Yahudi, meninggalkan kenangan tentang apa yang dulunya ada. Dalam semua ini, Singapura adalah pengecualian tunggal."

Museum ini pertama kali dikonsep sekitar tiga tahun lalu dan rencananya akan diluncurkan bersamaan dengan Singapore Bicentennial pada 2019, namun tertunda hingga sekarang. Benjamin mengatakan, komunitasnya menilai museum terbuka untuk semua warga Singapura.

Ada tulisan tentang ritus dan festival Yahudi di museum, sehingga mereka yang tertarik dapat diberikan kursus kilat tentang budaya Yahudi, yang menurut Benjamin masih sedikit dipahami mereka yang non-Yahudi.

Salah satu tradisi menarik yang disebutkannya adalah menuangkan air di bagian belakang mobil seseorang saat ia berangkat ke bandara untuk keberuntungan. Setelah seorang anak laki-laki disunat, ibu dan anak itu juga harus berada di rumah yang sama selama 40 hari, dan anak itu dibawa keluar untuk menyeberangi tujuh jembatan.

Menteri Dalam Negeri dan Hukum Singapura K. Shanmugam, yang berbulan-bulan sebelumnya telah berdiri di depan sinagoga dalam solidaritas dengan komunitas Yahudi setelah serangan yang direncanakan berhasil digagalkan, jadi tamu kehormatan pada peluncuran tersebut.

"Jika Anda melihat jalan-jalan - Frankel Estate, Meyer Road... Orang-orang Yahudi telah memberikan kontribusi luar biasa. Mereka telah menambah kekayaan sejarah dan masyarakat kita, dan saya sangat senang bahwa museum ini memamerkan sejarah untuk generasi mendatang," katanya.

3 dari 4 halaman

Tiket Masuk Museum?

Shanmugam mengatakan dalam pidatonya, "Sebagai Menteri Dalam Negeri, saya telah mengatakan lebih dari sekali: Keselamatan dan keamanan semua orang di Singapura, termasuk komunitas Yahudi, adalah prioritas utama. Komunitas orang Yahudi bukan hanya bagian dari Singapura, tapi juga tumbuh subur di Singapura."

Ia juga memberi penghormatan pada tujuh penasihat Israel yang datang untuk melatih tentara pertama Singapura, menceritakan kisah di mana Lee Kuan Yew, yang saat itu jadi perdana menteri Singapura yang baru merdeka, harus diantar ke kantornya oleh seorang tentara Malaysia karena saat itu mereka tidak memiliki tentara.

"Karena situasi regional kami, kami harus menyebut (penasihat Israel) orang Meksiko, kami tidak bisa menyebut mereka orang Israel. Kelompok ini sangat berkontribusi, melatih perwira dan tentara, juga membangun profesionalisme dalam angkatan bersenjata kami," imbuhnya.

Anggota komunitas Yahudi mengatakan komunitas itu lebih terintegrasi dengan Singapura sekarang daripada sebelumnya. Saat makan siang bersama para wartawan, briyani daging kambing dan spageti mee goreng disajikan, dengan bahan-bahan yang bersumber dari supermarket halal di pusat Jacob Ballas yang juga sering dikunjungi orang Singapura dan Korea.

Benjamin berkata, "Kami sangat bersyukur hidup dalam masyarakat pluralistik seperti Singapura di mana tidak ada anti-Semitisme. Kami menyambut siapa pun untuk datang berkunjung." Museum ini dibuka secara gratis untuk umum, tapi pengunjung harus reservasi lebih dulu.

4 dari 4 halaman

Infografis Strategi Cegah Lonjakan Kasus dan Gelombang 3 COVID-19 Saat Libur Nataru