Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri meminta sejarah Presiden pertama RI Soekarno atau Bung Karno ditegakkan dengan jujur. Dia menilai pencabutan TAP MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 belum cukup untuk menyelesaikan persoalan sejarah yang menyangkut ayahnya tersebut.
Hal itu disampaikan Megawati saat berpidato dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI bersama kader PDIP di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (17/8/2026).
Megawati mengatakan keluarga Bung Karno telah berjuang selama 57 tahun untuk pencabutan TAP MPRS Nomor 33 Tahun 1967 tentang pencabutan kekuasaan pemerintahan negara dari Presiden Soekarno.
Advertisement
Menurut Megawati, pencabutan ketetapan tersebut memang penting. Namun, persoalan sejarah tidak berhenti setelah ketetapan itu dicabut.
“Yang lebih penting adalah bagaimana nurani sejarah itu. Sebab sejarah bukan hanya kumpulan tanggal, nama, dan keputusan politik. Sejarah adalah ingatan bangsa,” kata Megawati.
Dia menegaskan pelurusan sejarah bukan untuk membuka luka lama atau membangkitkan kebencian. Menurutnya, sejarah harus dilihat secara jujur agar generasi berikutnya tak mewarisi ketidakjujuran.
“Hari ini setelah 81 tahun Indonesia merdeka, saya ingin mengatakan dengan tenang, dengan jernih, dan dengan penuh tanggung jawab, kita harus berani melihat persoalan sejarah itu dengan kejujuran,” ujarnya.
Megawati juga menyinggung masa sulit yang dialami Bung Karno. Menurut dia, sang proklamator pernah menjalani 12 tahun penjara dan pengasingan pada masa kolonial, dua tahun pengasingan pada masa revolusi fisik, serta empat tahun tahanan rumah pada masa Orde Baru.
Singgung Pengasingan
Dengan demikian, kata Megawati, sekitar 18 tahun kehidupan politik Bung Karno dijalani dalam penjara, pengasingan dan tahanan rumah.
“Angka 18 tahun itu bukan sekadar hitungan waktu, di dalamnya terdapat penderitaan seorang pejuang,” katanya.
Namun, Megawati menyebut Bung Karno memandang semua itu bukan sekadar penderitaan, melainkan pengorbanan untuk cita-cita Indonesia merdeka dan berdaulat.
Dia juga menolak anggapan bahwa pembelaannya terhadap Bung Karno semata-mata karena hubungan keluarga. Megawati menegaskan dirinya berbicara sebagai warga negara Indonesia.
“Saya berbicara bukan hanya karena saya anak Bung Karno. Saya berbicara sebagai warga bangsa, saya berbicara sebagai warga negara Indonesia,” tegasnya.
Megawati meminta generasi muda memahami sejarah Bung Karno secara utuh. Menurut dia, Bung Karno bukan hanya milik keluarga, tetapi bagian dari sejarah bangsa Indonesia dan dunia.
Karena itu, Megawati mengingatkan agar perbedaan politik tidak menghapus peran dan jasa para pendiri bangsa.
“Jangan sampai perbedaan politik menghilangkan perikemanusiaan dan kemanusiaan itu sendiri. Jangan sampai kekuasaan mengalahkan suara hati nurani,” katanya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5253327/original/062598000_1750044459-cek_fakta_dubes_jepang.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325714/original/050754000_1786927542-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-17T074440.081.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324489/original/034633400_1786708826-cek_fakta_balik_nama.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322269/original/035290200_1786523414-cek_fakta_-_ombudsman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325924/original/009439300_1786946543-daf890bc-f16f-4de0-b410-a8a70b284ece.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1263326/original/065462500_1465874248-Megawati.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325917/original/081840500_1786946192-c3a69341-9f17-4cce-bbab-62102783dc62.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325762/original/056495900_1786934841-IMG_4457.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325817/original/024092100_1786939863-IMG_4502.jpg)