Sukses

China Intervensi Rencana Pameran Genghis Khan di Museum Sejarah Prancis

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah museum sejarah di barat Prancis, tepatnya di Kota Nantes, mengumumkan penundaan pembukaan pameran terkait pimpinan Mongolia ternama Genghis Khan. Penundaan itu disebabkan oleh upaya sensor yang dilakukan pemerintah China.

Dikutip dari AFP, Rabu (14/10/2020), persiapan pameran yang berkolaborasi dengan Museum Mongolia Dalam di Hohhot, Tiongkok, menemui masalah setelah Biro Warisan Kebudayaan China memaksa panitia mengubah rencana proyek asli mereka. Pihak Museum Nantes mengatakan di dalamnya termasuk unsur-unsur penting dalam kebudayaan Mongol yang ditulis ulang secara bias dalam memenuhi narasi nasional yang baru.

Pihak museum menambahkan, otoritas Tiongkok menuntut beberapa kata, termasuk Genghis Khan, Kerajaan, dan Mongol, dihilangkan dari pameran. Mereka bahkan belakangan juga meminta kontrol penuh atas seluruh teks, peta, brosur, dan komunikasi pameran tersebut.

Intervensi yang dilakukan pemerintah Tiongkok tak terlepas dari perselisihan sengit antara orang China dan etnis Mongol yang jumlahnya sekitar 6,5 juta jiwa, atau hanya sekitar 0,5 persen dari total populasi di Negeri Tirai Bambu itu. Kebanyakan dari mereka tinggal di utara Provinsi Mongolia Dalam.

Provinsi itu sedang mengajukan protes selama berminggu-minggu dan memboikot sekolah lantaran kebijakan yang meminta sekolah mengajari politik, sejarah, dan sastra dalam bahasa Mandarin, bukan bahasa lokal mereka.

"Rezim Tiongkok melarang narasi sejarah yang tidak pas dengan narasi resmi mereka. Dan, (mereka) berusaha melakukan hal yang sama di luar negeri," cuit Valerie Niquet, seorang peneliti yang khusus menangani isu Asia di Yayasan Riset Strategis Prancis.

Koleganya, Antoine Bondaz mendukung keputusan pihak museum untuk menunda pameran Genghis Khan tersebut. Ia menyebut permintaan orang-orang China itu sebagai hal gila.

2 dari 3 halaman

Jadwal Baru Pameran

Pihak museum kembali menekankan intervensi tersebut merupakan penegasan posisi pemerintah Tiongkok terhadap minoritas Mongol. Hal tersebut memicu penundaan pameran.

"Kami memutuskan untuk menghentikan produksi ini atas nama kemanusiaan, ilmu pengetahuan, dan nilai etik yang kami perjuangkan," kata Direktur Museum Nantes Bertrand Guillet.

Pameran semestinya dibuka pada minggu depan. Tetapi, pihak museum akhirnya memundurkan ke semester pertama 2021 akibat pandemi Covid-19.

Namun, museum terpaksa memundurkannya hingga Oktober 2021. Penundaan itu memberi waktu untuk membangun pameran baru yang bakal menampilkan koleksi dari Eropa dan Amerika.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: