Kisah Nabi Yunus dan Keutamaan Doa yang Dipanjatkannya, Simak Makna Mendalam dan Hikmahnya

Umat Islam perlu memahami kisah Nabi Yunus dan keutamaan doa yang dipanjatkannya.

Diterbitkan 10 Agustus 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di antara sekian banyak kisah para nabi yang diabadikan dalam Al-Qur'an, kisah Nabi Yunus AS menempati posisi istimewa. Tarikh ini tidak hanya menggambarkan perjalanan dakwah seorang utusan Allah, tetapi juga menyimpan pelajaran mendalam tentang kesabaran, ketauhidan, dan kekuatan doa dalam menghadapi kesulitan. Oleh sebab itu, umat Islam perlu memahami kisah Nabi Yunus dan keutamaan doa yang dipanjatkannya.

Nabi Yunus AS, yang juga dikenal dengan julukan Dzun Nun (sahabat ikan) karena peristiwa ditelannya oleh ikan besar, memberikan teladan tentang bagaimana seorang hamba kembali kepada Tuhannya di tengah kegelapan yang mencekam.

Kisah ini termaktub dalam beberapa surah Al-Qur'an, di antaranya Q.S. Yunus ayat 98, Q.S. Al-Anbiya ayat 87-88, dan Q.S. Ash-Shaffaat ayat 147-148. Doa yang dipanjatkan Nabi Yunus AS di dalam perut ikan besar hingga kini menjadi salah satu doa yang paling dianjurkan untuk diamalkan, terutama saat menghadapi kesulitan dan kesusahan.

Kisah Lengkap Nabi Yunus AS

Nabi Yunus AS bernama lengkap Yunus bin Matta. Beliau adalah keturunan Nabi Ibrahim AS melalui jalur Nabi Ishaq AS dan termasuk nabi-nabi dari kalangan Bani Israil. Allah SWT mengutus Nabi Yunus AS kepada penduduk Kota Ninawa, sebuah kota besar yang terletak di wilayah Mosul, Irak.

Penduduk Ninawa saat itu berjumlah lebih dari seratus ribu orang dan mereka menyembah berhala, menolak ajakan untuk menyembah Allah SWT karena lebih memilih bertahan pada tradisi nenek moyang mereka.

Nabi Yunus AS berdakwah selama 33 tahun. Hasilnya, hanya dua orang saja yang mau menerima dakwahnya. Menghadapi sikap umatnya yang terus-menerus menolak ajakan tauhid, Nabi Yunus AS merasa marah dan kehilangan kesabaran.

Dalam keadaan marah, beliau meninggalkan kota Ninawa tanpa menunggu perintah dan izin dari Allah SWT. Sebelum pergi, Nabi Yunus AS mengancam bahwa dalam waktu tiga hari akan datang azab dari Allah SWT berupa awan pekat yang menyelimuti langit.

Perjalanan di Laut dan Peristiwa Ditelan Ikan Besar

Nabi Yunus AS kemudian menaiki sebuah kapal yang sarat muatan untuk meninggalkan kaumnya. Di tengah perjalanan, tiba-tiba laut bergelombang hebat dan angin bertiup kencang. Kapal terombang-ambing nyaris tenggelam.

Nakhoda kapal berusaha mengurangi muatan kapal, namun upaya itu tidak membuahkan hasil. Akhirnya, nakhoda melakukan pengundian untuk menentukan siapa penumpang yang harus turun dari kapal demi menjaga kestabilan kapal.

Undian dilakukan dan nama Nabi Yunus AS yang keluar. Undian diulang hingga tiga kali, dan hasilnya tetap sama, nama Nabi Yunus AS selalu terpilih. Menyadari bahwa semua itu adalah takdir Allah, Nabi Yunus AS pun merelakan dirinya untuk dilemparkan ke tengah laut.

Atas kehendak Allah SWT, seekor ikan besar (Dzun Nun) menelan Nabi Yunus AS tanpa melukai daging atau meremukkan tulangnya. Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi Yunus AS berada di dalam perut ikan besar selama 40 hari.

Di Dalam Perut Ikan, Kegelapan Berlapis

Di dalam perut ikan, Nabi Yunus AS mendapati tiga lapis kegelapan sekaligus: kegelapan malam, kegelapan dasar lautan, dan kegelapan perut ikan. Tidak ada cahaya, tidak ada manusia, dan tidak ada tempat untuk meminta pertolongan selain kepada Allah SWT. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ikan tersebut membawa Nabi Yunus AS hingga ke dasar lautan.

Di tempat yang sangat sunyi dan gelap itu, beliau mendengar tasbih makhluk-makhluk Allah, termasuk batu-batu kerikil di dasar laut. Kesadaran akan kebesaran Allah itulah yang kemudian mendorong Nabi Yunus AS untuk memperbanyak tasbih, tahlil, dan pengakuan atas kekhilafannya.

Dalam sebuah riwayat yang dikutip Ibnu Katsir, disebutkan bahwa ketika berada di dalam perut ikan, Nabi Yunus AS sempat mengira dirinya telah meninggal dunia. Namun ketika beliau menggerakkan kedua kakinya dan masih merasakan kehidupan, beliau segera bersujud kepada Allah seraya berdoa dan memuji-Nya.

Doa Nabi Yunus AS Teks Arab, Latin, dan Artinya

Di tengah kegelapan yang mencekam itulah Nabi Yunus AS memanjatkan doa yang kemudian diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Al-Anbiya ayat 87:

Bacaan Arab: لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Bacaan Latin: Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn

Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim."

Allah SWT kemudian mengabulkan doa Nabi Yunus AS dan menyelamatkannya dari kedukaan, sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. Al-Anbiya ayat 88:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: "Maka Kami kabulkan (doa)-nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman."

Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan doa ini: "Doa Dzun Nun (Nabi Yunus) ketika berada di dalam perut ikan adalah: 'Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.' Tidaklah seorang Muslim berdoa dengan doa tersebut dalam suatu urusan, melainkan Allah akan mengabulkannya." (HR. At-Tirmidzi)

Makna Mendalam Kisah Nabi Yunus AS dan Doa yang Dipanjatkan

1. Pengakuan atas Keesaan dan Kebesaran Allah (Tauhid)

Redaksi doa Nabi Yunus AS diawali dengan kalimat "Lā ilāha illā anta"—"Tidak ada Tuhan selain Engkau." Ini merupakan pengakuan tauhid yang paling fundamental. Di tengah situasi yang paling gelap dan sulit, Nabi Yunus AS justru mengakui bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah SWT.

Imam As-Sa'di dalam tafsirnya menyampaikan bahwa di dalam doa Nabi Yunus AS terkandung pengakuan akan kesempurnaan dan keesaan Allah. Makna ini mengajarkan bahwa dalam setiap kesulitan, seorang mukmin harus tetap memegang teguh keyakinan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya tempat bergantung dan meminta pertolongan.

2. Penyucian Allah dari Segala Kekurangan (Tasbih)

Kalimat "subḥānaka"—"Mahasuci Engkau"—adalah bentuk tasbih yang mengakui bahwa Allah SWT Mahasuci dari segala bentuk kekurangan, aib, dan cacat.

Dalam tafsir Surah Ash-Shaffat ayat 143 dijelaskan bahwa Nabi Yunus AS dalam tasbihnya mengakui dengan sebenar-benarnya bahwa Tuhan hanyalah Allah, dan Allah Mahasuci dari segala sifat yang tidak pantas bagi-Nya. Makna ini mengingatkan bahwa pengakuan akan kesucian Allah harus selalu menyertai setiap doa dan permohonan seorang hamba.

3. Pengakuan atas Kekhilafan dan Kedzaliman Diri (Istighfar)

Bagian terakhir doa—"innī kuntu minaẓ-ẓālimīn"—"sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim"—merupakan pengakuan jujur atas kesalahan yang telah diperbuat.

Nabi Yunus AS tidak menyalahkan kaumnya, tidak menyalahkan takdir, tetapi mengakui bahwa dirinyalah yang telah berbuat zalim dengan meninggalkan tugas dakwah tanpa izin Allah. Redaksi doa ini sebenarnya tidak meminta secara langsung, tetapi mengakui kebesaran Allah dan mengakui akan tindakan salah yang diperbuat oleh dirinya sendiri.

Makna ini mengajarkan pentingnya introspeksi diri dan keberanian mengakui kesalahan di hadapan Allah.

4. Kesadaran akan Keterbatasan Manusia di Hadapan Kuasa Allah

Nabi Yunus AS awalnya menyangka bahwa Allah tidak akan mempersempit atau menyulitkannya—sebagaimana firman Allah "fa ẓanna allan naqdira 'alaih" (lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya/menyulitkannya).

Beliau mengira bahwa karena bumi ini luas dan negeri banyak tersebar, jika satu kaum menolak dakwah maka Allah akan menginstruksikannya ke kaum yang lain. Namun Allah menunjukkan bahwa kuasa-Nya meliputi segala sesuatu, termasuk kemampuan untuk menyulitkan seorang nabi sekalipun. Makna ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh sombong dan menganggap dirinya luput dari ujian dan kesulitan Allah.

5. Rahmat Allah yang Melampaui Segala Dosa

Kisah ini juga menunjukkan bahwa rahmat Allah jauh lebih besar daripada dosa dan kesalahan hamba-Nya. Meskipun Nabi Yunus AS meninggalkan tugasnya dalam keadaan marah tanpa izin Allah, Allah tetap menerima taubatnya, mengampuni kesalahannya, dan menyelamatkannya dari perut ikan.

Bahkan, Allah menumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu untuk dimakan guna memulihkan kondisi Nabi Yunus AS setelah beliau dilemparkan ke daratan (Q.S. Ash-Shaffat: 146). Makna ini memberikan harapan bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama seorang hamba kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus.

Hikmah Kisah Nabi Yunus AS dan Keutamaan Doa yang Dipanjatkannya

1. Kesabaran dalam Dakwah dan Menghadapi Cobaan

Kisah Nabi Yunus AS mengajarkan bahwa seorang dai (juru dakwah) hendaknya sabar dengan segala ujian dan cobaan. Nabi Yunus AS kehilangan kesabaran setelah 33 tahun berdakwah dengan hasil hanya dua orang yang beriman. Kesabaran adalah kunci dalam setiap perjuangan dakwah—seberat dan sekompleks apa pun masalah yang dihadapi, seorang mukmin tidak boleh mengenal kata putus asa atau frustrasi.

2. Taubat dan Kembali kepada Allah di Tengah Kesulitan

Ketika berada dalam kondisi paling sulit sekalipun—di dalam perut ikan di dasar lautan—Nabi Yunus AS tidak berputus asa dari rahmat Allah. Beliau justru memperbanyak taubat, istighfar, dan doa. Hikmah ini mengajarkan bahwa tidak ada situasi yang terlalu gelap untuk kembali kepada Allah. Selama hayat masih dikandung badan, pintu taubat selalu terbuka.

3. Kekuatan Doa dalam Menghilangkan Kesusahan

Doa Nabi Yunus AS yang singkat namun sarat makna ini memiliki keutamaan besar. Rasulullah SAW menjamin bahwa tidak ada seorang Muslim pun yang berdoa dengan doa ini melainkan Allah akan mengabulkannya. Doa ini mengandung tiga unsur utama: tauhid (pengakuan keesaan Allah), tasbih (penyucian Allah), dan istighfar (permohonan ampun)——yang menjadi sebab dikabulkannya doa. Hikmah ini mengajarkan bahwa doa adalah senjata terkuat seorang mukmin dalam menghadapi segala kesulitan.

4. Tidak Berputus Asa dari Pertolongan Allah

Meskipun Nabi Yunus AS berada dalam tiga lapis kegelapan yang mencekam, beliau tidak pernah berputus asa dari pertolongan Allah. Allah SWT berfirman bahwa jika Nabi Yunus AS tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan sampai hari kiamat (Q.S. Ash-Shaffat: 143-144). Hikmah ini mengajarkan bahwa mengingat Allah (dzikrullah) adalah jalan keselamatan dari segala kesusahan.

5. Setiap Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

Di balik setiap kesulitan yang dialami Nabi Yunus AS—dari penolakan dakwah, badai di laut, hingga tertelan ikan besar—Allah selalu menyiapkan jalan keluar. Setelah bertaubat dan berdoa, Nabi Yunus AS diselamatkan, diberikan makanan, dan akhirnya kembali ke kaumnya yang justru telah beriman dan bertaubat. Hikmah ini mengajarkan keyakinan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. Al-Insyirah.

Pertanyaan Seputar Doa Nabi Yunus AS

1. Apa doa yang dipanjatkan Nabi Yunus AS ketika berada di dalam perut ikan?

Doa yang dipanjatkan Nabi Yunus AS adalah: "Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn," yang artinya "Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim." Doa ini diabadikan dalam Q.S. Al-Anbiya ayat 87.

2. Berapa lama Nabi Yunus AS berada di dalam perut ikan?

Menurut ulama Sa'id Ibn Abi Hasan Al-Bashri, Nabi Yunus AS berada di dalam perut ikan paus selama 40 hari. Beberapa riwayat lain menyebutkan waktu yang berbeda, namun yang paling masyhur adalah 40 hari.

3. Mengapa Nabi Yunus AS dijuluki Dzun Nun?

Nabi Yunus AS dijuluki Dzun Nun yang artinya "sahabat ikan" karena beliau pernah ditelan oleh ikan besar (nun dalam bahasa Arab berarti ikan paus). Julukan lain yang disematkan kepada beliau adalah Shahib al-Hut (sahabat ikan besar).

4. Apa keutamaan membaca doa Nabi Yunus AS?

Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang Muslim berdoa dengan doa tersebut dalam suatu urusan, melainkan Allah akan mengabulkannya" (HR. At-Tirmidzi). Doa ini juga mengandung tiga unsur utama—tauhid, tasbih, dan istighfar——yang menjadi sebab dikabulkannya doa.

5. Apa pelajaran utama dari kisah Nabi Yunus AS?

Pelajaran utama dari kisah Nabi Yunus AS adalah pentingnya kesabaran dalam berdakwah dan menghadapi cobaan, kekuatan taubat dan doa di tengah kesulitan, keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat, serta pengakuan bahwa setiap manusia bisa berbuat salah dan harus kembali kepada Allah dengan kerendahan hati.