7 Contoh Khutbah Jumat Tema Syukur atas Nikmat Allah, Cocok Disampaikan di Masyarakat Modern

Referensi mengenai contoh khutbah Jumat tema syukur atas nikmat Allah penting dimiliki untuk syiar di tengah masyarakat modern yang makin materialistis

Diterbitkan 11 Juni 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah kesibukan seringkali umat melupakan satu hal terpenting, syukur. Untuk itu, penting bagi para pendakwah untuk memiliki referensi contoh khutbah Jumat tema syukur atas nikmat Allah, sebagai syiar kebajikan.

Harapannya, khutbah Jumat tentang syukur nikmat Allah ini menggugah kesadaran di tengah masyarakat modern yang makin materialistis dan lupa siapa Maha Pemberi tersebut. Sementara Allah SWT menjanjikan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu." (QS. Ibrahim: 7). Ayat ini merupakan sebuah jaminan pelipatgandaan karunia ilahi.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Madarij as-Salikin menjelaskan hakikat syukur senantiasa mencakup pengakuan hati, pujian lisan, serta ketaatan anggota badan. Tanpa ketiganya, esensi rasa syukur belumlah sempurna.

Merujuk buku Rukun dan Syarat Sah Khutbah Jumat Menurut Madzhab Syafiiyah karya Ahmad Zarkasih, berikut ini adalah tujuh contoh khutbah Jumat tema syukur atas nikmat Allah.

Contoh Khutbah Jumat 1: Syukur Sebagai Pengikat Nikmat

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah yang mulia ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memelihara dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Syukur adalah sebuah amal hati yang luar biasa agungnya, namun sering kali terabaikan ketika manusia sedang berada di puncak kejayaan, kesehatan, atau kekayaan duniawi.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (QS. Ibrahim: 7).

Melalui ayat ini, Allah memberikan sebuah garansi bahwa rasa syukur adalah satu-satunya instrumen paling efektif untuk mengikat sekaligus melipatgandakan nikmat yang telah ada.

Syukur bekerja seperti sebuah magnet; semakin kita menyadari dan berterima kasih atas karunia sekecil apa pun, semakin banyak pula kebaikan yang akan ditarik masuk ke dalam hidup kita.

Banyak orang mengira bahwa kebahagiaanlah yang membuat manusia bersyukur, padahal rumusnya terbalik; rasa syukurlah yang sejatinya melahirkan kebahagiaan sejati di dalam dada.

Mari jadikan lisan ini senantiasa basah dengan hamdalah, dan jadikan raga ini senantiasa taat beribadah sebagai bentuk pembuktian nyata atas rasa syukur kita kepada Sang Pemberi Rezeki.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.

Di khutbah kedua ini, marilah kita perbarui komitmen kita untuk tidak pernah lelah bersyukur atas setiap tarikan napas yang masih diizinkan Allah hingga hari ini.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah 2: Menyadari Nikmat yang Sering Terlupakan

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah yang mulia ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memelihara dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Sering kali kita baru menyadari besarnya sebuah nikmat ketika nikmat tersebut telah dicabut dari diri kita, seperti halnya nikmat kesehatan dan kelapangan waktu.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Artinya: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (QS. Al-Baqarah: 152).

Allah menegaskan bahwa dengan mengingat-Nya dan mensyukuri karunia-Nya, maka ikatan rahmat antara seorang hamba dengan Penciptanya akan semakin erat dan kuat.

Udara segar yang kita hirup secara gratis, fungsi organ tubuh yang bekerja tanpa kita sadari, hingga detak jantung yang tak pernah berhenti, semuanya adalah nikmat yang tak ternilai harganya.

Namun sayangnya, manusia lebih sering memfokuskan pandangannya pada satu masalah kecil yang menimpanya, lalu melupakan ribuan nikmat lain yang sedang menyelimutinya.

Oleh karena itu, mulai hari ini mari kita luangkan waktu sejenak di setiap penghujung hari untuk merenungi hal-hal sederhana yang patut disyukuri agar hati menjadi lebih lapang.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.

Di khutbah kedua ini, mari kita ubah keluh kesah kita menjadi kalimat hamdalah, karena sebaik-baik hamba adalah mereka yang bersyukur di kala sempit maupun lapang.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah 3: Syukur Dengan Hati, Lisan dan Perbuatan

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah yang mulia ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memelihara dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Pemahaman tentang bersyukur sering kali berhenti sebatas ucapan "Alhamdulillah" di lisan, padahal syukur yang sejati menuntut pembuktian yang lebih komprehensif.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Artinya: "Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan." (QS. An-Nahl: 53).

Rasa syukur yang utuh harus mencakup tiga dimensi utama: hati yang meyakini bahwa semua rezeki dari Allah, lisan yang memuji, dan perbuatan yang mencerminkan ketaatan.

Jika Allah menitipkan nikmat harta, maka wujud syukur perbuatannya adalah dengan bersedekah; jika Allah memberikan ilmu, maka syukurnya adalah dengan mengajarkannya.

Jangan sampai kita mengaku bersyukur atas nikmat kesehatan, namun raga yang sehat tersebut justru digunakan untuk bermaksiat dan melanggar syariat-Nya.

Mari kita selaraskan antara hati, lisan, dan tindakan fisik kita agar terhitung sebagai golongan hamba-hamba Allah yang benar-benar pandai bersyukur (Syakur).

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.

Di khutbah kedua ini, marilah kita perbanyak amal ibadah sebagai bentuk konkret dan nyata dari rasa terima kasih kita kepada Dzat yang memelihara kehidupan ini.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah 4: Bahaya Kufur Nikmat

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah yang mulia ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memelihara dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Lawan dari sikap syukur adalah kufur nikmat, yakni sebuah kondisi hati yang mengingkari pemberian Allah dan merasa tidak pernah cukup atas apa yang dimiliki.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Artinya: "Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat." (QS. An-Nahl: 112).

Sejarah telah membuktikan bahwa kehancuran sebuah komunitas atau individu sering kali tidak diawali oleh kelemahan fisik, melainkan oleh kesombongan dan keengganan bersyukur.

Sikap kufur nikmat akan mengundang azab berupa hilangnya ketenangan batin, di mana seseorang selalu merasa miskin dan gelisah meski hartanya menggunung.

Penyakit hati ini harus segera diobati dengan cara melihat ke bawah dalam urusan duniawi, memperhatikan mereka yang hidupnya jauh lebih sulit dari kita.

Jauhilah sifat tamak, dan hargailah apa pun yang telah Allah tetapkan sebagai rezeki kita hari ini, niscaya Allah akan mencabut rasa takut dan lapar dari dada kita.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

 الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.

 Di khutbah kedua ini, mari kita bentengi diri kita dan keluarga dari sifat kufur yang dapat menghapus keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah 5: Esensi Syukur Menumbuhkan Kebahagiaan

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah yang mulia ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memelihara dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Kita harus menyadari bahwa perintah Allah agar kita bersyukur bukanlah karena Dia membutuhkan pujian kita, melainkan untuk kebaikan spiritual kita sendiri.

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: 'Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji'." (QS. Luqman: 12).

Allah menegaskan bahwa manfaat dari sebuah rasa syukur itu akan kembali memantul dan menyejukkan hati orang yang memanjatkannya.

Saat seseorang bersyukur, jiwanya akan terbebas dari rantai keirian terhadap pencapaian orang lain, dan hatinya akan diliputi oleh perasaan cukup (qana'ah).

Orang yang batinnya dipenuhi syukur tidak akan mudah putus asa saat menghadapi kegagalan, karena ia yakin Allah masih menyisakan banyak nikmat lain untuknya.

Mari kita pelihara sikap optimis ini, jadikan syukur sebagai lensa utama dalam memandang setiap ketetapan dan takdir yang Allah gariskan dalam hidup kita.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

 الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.

 Di khutbah kedua ini, marilah kita senantiasa membersihkan hati kita, karena hati yang bersih adalah tempat terbaik bagi tumbuhnya benih-benih kesyukuran yang abadi.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah 6: Nikmat Iman dan Islam Sebagai Puncak Karunia

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah yang mulia ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memelihara dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Dari sekian banyak nikmat yang tercurah dari langit, sejatinya ada satu nikmat yang nilainya melampaui gabungan seluruh harta benda di alam semesta, yakni hidayah iman dan Islam.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Artinya: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Ma'idah: 3).

Berpegang teguh pada tauhid dan menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad adalah karunia luar biasa yang tidak Allah berikan kepada sembarang orang.

Banyak orang di luar sana yang dikaruniai kecerdasan dan kekayaan berlimpah, namun hati mereka mati karena tidak tersentuh oleh keindahan hidayah Allah.

Oleh karenanya, mensyukuri nikmat iman harus menjadi prioritas harian kita, dengan cara merawat ibadah fardhu, menuntut ilmu syar'i, dan menjauhkan diri dari kesyirikan.

Jika kita mampu menjaga nikmat keislaman ini hingga akhir hayat, maka itu sudah lebih dari cukup sebagai bekal terhebat untuk pulang menghadap Sang Pencipta.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.

Di khutbah kedua ini, mari kita memohon keistikamahan iman kepada Allah, agar kelak kita kelak dibangkitkan dalam barisan orang-orang yang bersujud.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah 7: Menampakkan Syukur Tanpa Kesombongan

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah yang mulia ini, khatib senantiasa berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk memelihara dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Islam mengajarkan keseimbangan yang sangat indah dalam berinteraksi dengan nikmat; kita dilarang menyembunyikannya pelit, namun dilarang pula memamerkannya dengan angkuh.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Artinya: "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan (dengan maksud bersyukur)." (QS. Ad-Duha: 11).

Menyiarkan atau menceritakan nikmat (tahadduts bin-ni'mah) adalah bentuk syukur lisan yang dianjurkan, selama tujuannya murni untuk memuji kemurahan Allah, bukan membanggakan diri sendiri.

Jika kita menceritakan pencapaian kita dengan niat agar orang lain terinspirasi memuji Allah, maka hal tersebut bernilai ibadah dan mendatangkan pahala kebaikan.

Namun jika hati kita disusupi sifat riya', ingin dipuji kehebatannya, dan berniat merendahkan orang lain yang belum berhasil, maka syukur itu batal dan berubah menjadi dosa kesombongan.

Mari kita kelola niat di dalam hati secara ekstra hati-hati; tunjukkanlah efek dari nikmat Allah lewat kedermawanan tangan dan tutur kata yang menyejukkan sanubari sesama.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.

Di khutbah kedua ini, marilah kita tundukkan kesombongan ego kita, dan sadari sepenuhnya bahwa setiap hal yang melekat pada diri kita hanyalah titipan dari-Nya.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Pertanyaan Seputar Khutbah Jumat

Apa saja contoh syukur nikmat?

Syukur nikmat adalah tindakan mengakui, menghargai, dan memanfaatkan segala karunia Allah SWT sesuai dengan tujuan penciptaannya. Hal ini diwujudkan melalui tiga cara utama: hati yang meyakini, lisan yang memuji, serta perbuatan yang taat dan berbagi.

Apa yang dimaksud bersyukur atas nikmat Allah?

Mensyukuri nikmat Allah adalah mengakui dalam hati, mengucapkan rasa terima kasih melalui lisan, dan menggunakan segala karunia atau nikmat-Nya sesuai dengan aturan serta rida Allah SWT.

Bagaimana ayat Quran tentang syukur nikmat?

Ayat Al-Qur'an tentang syukur nikmat tersebar di banyak surah, namun inti utamanya mengajarkan bahwa syukur adalah kunci ditambahkannya rezeki, bentuk ketaatan, dan manfaatnya akan kembali untuk diri kita sendiri.

Apa saja 3 syarat bersyukur?

Bersyukur yang sempurna mencakup 3 syarat utama (rukun) yaitu:

Meyakini dan mengakui bahwa segala nikmat murni datang dari Allah SWT, bukan karena kehebatan diri sendiri. Lisan: Mengucapkan puji syukur, seperti lafaz "Alhamdulillah" sebagai bentuk pengakuan.Perbuatan: Memanfaatkan nikmat tersebut untuk ketaatan dan kebaikan, serta menjauhi maksiat.