Liputan6.com, Jakarta - Di penghujung Ramadhan, terdapat 10 malam terakhir ada Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Mengingat betapa istimewanya akhir Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk memahami panduan i’tikaf di 10 malam terakhir Ramadhan sesuai sunnah.
Sebagaimana dicontohkan Rasullah SAW dan para sahabat, untuk meraih keutamaannya, meningkatkan ibadah secara luar biasa. Salah satunya dengan i’tikaf di masjid. Ibadah ini merupakan sunnah yang sangat dianjurkan, bahkan disebut sebagai ittiba’ (mengikuti) Nabi dalam rangka meraih keberkahan mulia tersebut.
Merujuk ebook Fiqih Ringkas I'tikaf karya M. Nur Ichwan Muslim, secara bahasa, i'tikaf berarti “menahan diri” atau “memenjarakan”. Dalam terminologi syariat, para ulama memberikan definisi yang beragam, namun intinya sama, yaitu, berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah kepada Allah yang dilakukan oleh orang tertentu dengan tata cara tertentu.” (Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi).
Advertisement
Artikel ini bakal mengulas panduan i’tikaf, meliputi syarat, tata cara, waktu hingga keutamaan i'tikaf, merujuk dalil Al-Qur'an, sunnah dan penjelasan para ulama.
Syarat-Syarat I'tikaf
Para ulama menetapkan beberapa syarat agar i’tikaf sah dan diterima:
- Islam: I'tikaf tidak sah bagi orang kafir (Taisir Karim ar-Rahman, hlm. 340).
- Niat, Berakal, dan Tamyiz: Amalan tergantung pada niat (HR. Bukhari no. 1, Muslim no. 1907). Orang gila, mabuk, atau pingsan tidak sah i’tikafnya karena tidak mampu berniat.
- Suci dari Haid dan Nifas: Wanita yang sedang haid atau nifas tidak diperbolehkan berdiam di masjid, sehingga i’tikafnya tidak sah (Tafsir Ibnu Katsir 2/308).
- Izin Suami bagi Istri: Istri tidak boleh beri’tikaf kecuali dengan izin suaminya, karena hak suami harus dipenuhi (Al-Mughni 3/151).
- Dilaksanakan di Masjid: Ini adalah syarat utama. Allah berfirman, “…sedang kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS. Al-Baqarah: 187). Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (4/345) menjelaskan bahwa i’tikaf tidak sah kecuali di masjid.
- Masjid yang Ideal: Disyaratkan masjid yang digunakan untuk shalat berjama’ah, karena kaum pria wajib shalat berjama’ah. Lebih utama jika di masjid Jami’ (yang digunakan shalat Jum’at) agar tidak perlu keluar untuk Jum’atan (Al-Majmu’ 6/480).
Advertisement
Niat dan Tata Cara I'tikaf
Niat adalah rukun yang membedakan ibadah dari kebiasaan biasa. Cukup berniat dalam hati, misalnya: “Saya niat i’tikaf di masjid ini karena Allah ta’ala.” Tidak ada lafadz khusus yang diajarkan Nabi selain bulatnya tekad.
Tata Cara I'tikaf
- Masuk ke Masjid: Seorang yang hendak i’tikaf disunnahkan masuk masjid sebelum matahari terbenam pada malam ke-21 Ramadhan.
- Menetap di Masjid: Selama i’tikaf, ia harus berdiam di masjid, tidak keluar kecuali untuk kebutuhan mendesak (buang air, makan jika tidak ada yang mengantar, dll).
- Menyendiri (Jika Memungkinkan): Disunnahkan membuat tenda atau sekat kecil di masjid untuk lebih fokus beribadah, sebagaimana dilakukan Nabi (HR. Muslim no. 1167) dan para istri beliau (HR. Bukhari no. 1929).
- Mengisi Waktu dengan Ibadah: Memperbanyak shalat, tilawah Al-Qur’an, dzikir, doa, dan merenung.
Waktu I'tikaf di 10 Malam Terakhir
Waktu Minimal dan Maksimal I'tikaf
- Waktu Minimal: I'tikaf dapat dilakukan dalam waktu singkat, misalnya setengah hari (siang atau malam). Hal ini didasarkan pada hadits ‘Umar yang bernadzar i’tikaf semalam di Masjidil Haram, dan Nabi memerintahkannya untuk menunaikan nadzar tersebut (HR. Bukhari no. 1927).
- Waktu Maksimal: Tidak ada batasan waktu maksimal. Ibnu Mulaqqin rahimahullah mengatakan, “Ulama telah sepakat bahwa tidak ada batas waktu maksimal untuk beri’tikaf.” (Al I’lam bi Fawaid ‘Umdah al-Ahkam 5/430).
Kapan Memulai I'tikaf di 10 Malam Terakhir?
Para ulama menganjurkan untuk memulai i’tikaf pada malam ke-21 Ramadhan, yaitu setelah matahari terbenam di hari ke-20. Dalilnya adalah hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari pertama, kemudian pada sepuluh hari pertengahan, lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya aku telah diperlihatkan Lailatul Qadar, namun aku dilupakannya. Maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, di malam-malam ganjil.’ Maka beliau pun beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir.” (HR. Muslim no. 1167).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau memulai i’tikaf pada malam ke-21 (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Syaikh Dr. Khalid al-Musyaqih hafizhahullah dalam Fiqh al-I’tikaf (hlm. 61) menyatakan bahwa pendapat ini adalah yang paling hati-hati.
Kapan Mengakhiri I'tikaf?
I'tikaf diakhiri ketika bulan Ramadhan telah berakhir, yaitu dengan terbenamnya matahari pada malam hari raya Idul Fitri. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:
“Seorang yang beri’tikaf mengakhiri i’tikafnya apabila bulan Ramadhan telah berakhir, dan bulan Ramadhan berakhir ketika matahari terbenam pada malam ‘Id.” (Majmu’ Fatawa wa Rasaa-il Ibn ‘Utsaimin 20/119).
Sebagian ulama salaf, seperti Imam Malik, menganjurkan untuk tetap tinggal di masjid hingga pagi hari dan keluar menuju shalat Id, sebagaimana disebutkan dalam Al-Muwaththa’ (1/315).
Advertisement
Amalan-Amalan Utama Selama I'tikaf
Tujuan i’tikaf adalah mendekatkan diri kepada Allah, sehingga amalan yang paling utama adalah segala bentuk ketaatan yang mendukung tujuan tersebut.
1. Memperbanyak Ibadah Mahdhah (Ritual)
- Shalat: Memperbanyak shalat sunnah, terutama shalat malam (qiyamul lail).
- Membaca Al-Qur’an: Mentadabburi dan memperbanyak tilawah.
- Dzikir dan Doa: Bertasbih, bertahmid, bertahlil, beristighfar, dan memperbanyak doa.
Doa yang sangat dianjurkan di malam Lailatul Qadar adalah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku).
2. Ibadah Sosial (Muta’addiyah) yang Tidak Menyita Waktu
Diperbolehkan melakukan ibadah sosial ringan yang tidak mengurangi kekhusyukan, seperti:
- Menjawab salam.
- Mengajarkan ilmu atau memberi fatwa jika diperlukan.
- Amar ma’ruf nahi mungkar secara sederhana. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ (6/528) membolehkan hal ini berdasarkan hadits Nabi yang berbincang dengan para sahabat saat i’tikaf.
3. Membuat Tenda atau Sekat
Ini adalah sunnah untuk menjaga privasi dan kekhusyukan, terutama bagi wanita.
4. Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat
Menjaga lisan dari perdebatan, ghibah, atau pembicaraan duniawi yang tidak berguna.
Hal-Hal yang Diperbolehkan Saat I'tikaf
Para ulama membolehkan beberapa aktivitas selama tidak membatalkan i’tikaf:
- Makan, Minum, dan Tidur di Masjid: Karena ia harus berdiam di masjid, maka kebutuhan dasar ini diperbolehkan (Badai’ush Shana’i 2/117, Al-Mughni 4/383).
- Keluar untuk Kebutuhan Mendesak: Seperti ke kamar mandi, wudhu jika tidak bisa di dalam masjid, atau mengambil makanan jika tidak ada yang mengantar. Dalilnya hadits ‘Aisyah: “Beliau tidak masuk rumah kecuali ada kebutuhan mendesak” (HR. Bukhari no. 1925, Muslim no. 297).
- Dikunjungi Keluarga: Diperbolehkan menerima kunjungan keluarga, sebagaimana Shafiyah mengunjungi Nabi saat i’tikaf (HR. Bukhari no. 1933).
- Menikah atau Menikahkan: Jika akad nikah dilangsungkan di masjid, diperbolehkan, asalkan tidak mengganggu kekhusyukan. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ (6/559) menegaskan tidak ada khilaf dalam hal ini.
- Berbicara dengan Perkataan Baik.
Advertisement
Hal-Hal yang Dilarang dan Membatalkan I'tikaf
Ada beberapa hal yang harus dihindari karena dapat membatalkan atau merusak pahala i’tikaf.
Pembatal I'tikaf
- Jima’ (Bersetubuh): Ini adalah pembatal utama berdasarkan Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 187) dan Ijma’ ulama (Al Jami’ li Ahkamil Quran 2/324).
- Keluar dari Masjid Tanpa Udzur: Keluar tanpa kebutuhan yang dibenarkan syariat, baik untuk urusan dunia maupun tanpa alasan, membatalkan i’tikaf. Ibnu Hazm menyebutkan adanya ijma’ tentang hal ini (Maratibul Ijma’ hlm. 48).
- Bercumbu yang Menyebabkan Orgasme (Keluar Mani): Jumhur ulama berpendapat bahwa bercumbu yang disertai syahwat dan menyebabkan keluar mani membatalkan i’tikaf, meskipun bukan jima’ (Jami’ul Bayan 2/181).
- Haid dan Nifas (Khusus Wanita): Jika seorang wanita mengalami haid atau nifas, i’tikafnya otomatis batal dan ia harus keluar masjid.
- Murtad (Keluar dari Islam).
- Hilang Akal karena gila atau mabuk.
Hal yang Diharamkan dan Merusak Pahala
- Bercumbu dengan Pasangan meskipun tidak sampai keluar mani (hukumnya haram menurut kesepakatan ulama).
- Segala bentuk maksiat di dalam masjid, seperti ghibah, namimah, atau perbuatan dosa lainnya.
Keutamaan I'tikaf di 10 Hari Terakhir Ramadhan
1. Mengikuti Jejak Rasulullah SAW
I'tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan sunnah yang senantiasa dijaga oleh Nabi hingga akhir hayatnya. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha meriwayatkan:
“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Ibnul Mundzir rahimahullah dalam kitab Al-Ijma' (hlm. 7) menyatakan bahwa para ulama telah sepakat atas pensyariatan i'tikaf, dan pelaksanaannya di sepuluh akhir Ramadhan merupakan bentuk ittiba' (mengikuti) Nabi yang paling utama.
2. Meraih Lailatul Qadar
Keutamaan terbesar i'tikaf di sepuluh malam terakhir adalah peluang untuk mendapatkan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits Abu Sa'id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Nabi menceritakan bahwa beliau diperlihatkan Lailatul Qadar, kemudian diperintahkan untuk mencarinya di sepuluh malam terakhir, tepatnya di malam-malam ganjil (HR. Muslim no. 1167). Dengan beri'tikaf, seorang muslim akan lebih fokus beribadah dan tidak terlewatkan momen mulia tersebut.
3. Memfokuskan Hati Hanya kepada Allah
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Zaadul Ma'ad (2/82) menjelaskan hikmah dan keutamaan i'tikaf dengan sangat mendalam:
“Kebaikan dan konsistensi hati dalam berjalan menuju Allah tergantung kepada terkumpulnya kekuatan hati kepada Allah dan menyalurkannya dengan menghadapkan hati secara total kepada-Nya... Maka rahmat Allah menuntut pensyariatan i'tikaf, agar hati fokus beribadah, berkhalwat dengan-Nya, memutus kesibukan dengan makhluk, dan hanya sibuk menghadap kepada-Nya.”
I'tikaf melatih hati untuk melepaskan diri dari hiruk-pikuk dunia dan mengkonsentrasikan seluruh energi ibadah hanya kepada Allah.
4. Menjauhkan Diri dari Gangguan dan Memperbanyak Ibadah
Di sepuluh malam terakhir, seorang muslim biasanya disibukkan dengan persiapan hari raya. Dengan beri'tikaf, ia justru memilih untuk "lari" dari hiruk-pikuk dunia menuju ketenangan masjid. Ini adalah kesempatan emas untuk:
- Memperbanyak shalat malam.
- Mentadabburi Al-Qur'an.
- Memperbanyak dzikir dan doa, terutama doa "Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni".
Syaikh Dr. Khalid al-Musyaqih hafizhahullah dalam Fiqh al-I'tikaf (hlm. 56) menegaskan bahwa Nabi beri'tikaf di sepuluh akhir Ramadhan bukan untuk membatasi waktu, tetapi karena di sanalah Lailatul Qadar berada.
5. Mendapatkan Pahala Berlipat dan Keberkahan
Dengan berdiam di masjid, seorang mu'takif (orang yang beri'tikaf) senantiasa dalam naungan ibadah. Setiap langkah, nafas, dan aktivitasnya selama di masjid (selama diniatkan karena Allah) dapat bernilai pahala. Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an (2/324) menyatakan bahwa orang yang beri'tikaf sedang berada dalam ketaatan kepada Allah, dan Allah akan melimpahkan keberkahan kepadanya.
6. Membersihkan Hati dari Kekeruhan
Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'ad melanjutkan:
“Berlebihan dalam makan, minum, bergaul, banyak bicara dan tidur merupakan faktor-faktor yang memperkeruh hati. I'tikaf adalah obatnya. Dengan beri'tikaf, hati akan kembali jernih, karena ia menggantikan semua hal yang memperkeruh hati dengan dzikir, kecintaan, dan menghadap kepada-Nya.”
Inilah keutamaan spiritual yang sangat besar: hati yang tadinya keruh karena dosa dan kelalaian, menjadi bersih kembali karena konsistensi ibadah di rumah Allah.
Advertisement
People also Ask:
Apa yang harus dilakukan saat 10 malam terakhir Ramadhan?Rasulullah SAW senantiasa melakukan i'tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan untuk lebih banyak beribadah. Memperbanyak Salat Malam, Salat tahajud dan ibadah malam lainnya menjadi amalan utama pada 10 malam terakhir. Malam Lailatul Qadar adalah momen istimewa yang sebaiknya diisi dengan ibadah.
Bagaimana cara itikaf yang benar?
Inilah Tata Cara Itikaf Sesuai Tuntunan Rasulullah SAWCara itikaf yang benar adalah diawali niat ikhlas, dilakukan di masjid, mengisi waktu dengan ibadah seperti zikir, membaca Quran, salat sunah, dan doa, serta menghindari hal tidak bermanfaat, terutama pada 10 hari terakhir Ramadan, dengan tetap berada di masjid kecuali darurat. Ini mengikuti sunnah Rasulullah SAW untuk fokus mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Rasulullah biasa melaksanakan itikaf pada 10 hari terakhir. Apa pengertian itikaf?
Pengertian i'tikaf menurut bahasa, artinya berdiam diri atau menetap dalam sesuatu. Sedangkan, menurut istilah, arti i'tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid, dan menyibukkan diri dengan melakukan amalan-amalan tertentu yang layak dilakukan di dalamnya.
Itikaf mulai jam berapa sampai jam berapa?
I'tikaf Mulai Jam Berapa? Berdasarkan berbagai sumber, tidak ada batasan waktu tertentu untuk melaksanakan i'tikaf. Namun, ibadah ini utamanya dikerjakan pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan mulai dari sebelum matahari terbenam di malam ke-20 atau ke-21 sampai sebelum sholat Idul Fitri.
Kenapa kita dianjurkan i'tikaf di 10 terakhir bulan puasa?
I'tikaf di 10 malam terakhir Ramadan adalah amalan sunnah yang penuh berkah. Dengan melakukan i'tikaf, kita bisa mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan kualitas ibadah, serta berkesempatan mendapatkan malam Lailatul Qadar.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714532/original/000144500_1782797436-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T122233.633.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315872/original/087159700_1785900314-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-05T102428.295.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315277/original/076754200_1785833101-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-04T154035.346.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312395/original/029328500_1785490278-Screenshot_2026-07-31_154400.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515679/original/062388800_1772184873-090358200_1528800308-20180612-Berkah-Ramadan-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1257093/original/020059600_1465292747-Lailatul_Qadar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1607368/original/074451200_1496028031-LIP6_LOGO2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3428249/original/078718400_1618374148-053339400_1559536727-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1619105/original/061499300_1496997418-ramadan-main.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5532810/original/009796500_1773700730-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1631684/original/059007300_1498131082-is.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3127704/original/076595200_1589431440-photo-of-a-person-kneeling-in-front-of-book-2608353__4_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4398538/original/021682500_1681724902-pray-g2e7ab62ad_1280.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2247529/original/092815000_1528777620-20180611-Doa-malam-Lailatul-Qadar-di-Yerusalem-afp-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2248314/original/044125100_1528800311-20180612-Berkah-Ramadan-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4670207/original/029073300_1701403206-rasyid-maulana-yVwiHXoTrnU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519665/original/044511200_1772592972-unnamed__44_.jpg)