Apakah Sholat Sunnah Membaca Doa Iftitah? Ini Penjelasannya

Dalam praktiknya, apakah sholat sunnah membaca doa iftitah sama seperti sholat wajib? Para ulama sepakat bahwa hukum membaca doa iftitah adalah sunnah. Artinya, doa ini dianjurkan untuk dibaca dan berpahala, tetapi tidak membatalkan sholat jika ditinggalkan.

Diterbitkan 21 September 2025, 13:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Apakah sholat sunnah membaca doa iftitah? Pertanyaan ini kerap muncul di kalangan umat Islam yang ingin mengetahui tata cara sholat sunnah secara lebih lengkap. Doa iftitah memang memiliki posisi khusus dalam sholat, baik sholat wajib maupun sunnah.

Dalam praktiknya, apakah sholat sunnah membaca doa iftitah sama seperti sholat wajib? Para ulama sepakat bahwa hukum membaca doa iftitah adalah sunnah. Artinya, doa ini dianjurkan untuk dibaca dan berpahala, tetapi tidak membatalkan sholat jika ditinggalkan.

Hukum membaca doa iftitah saat sholat sunnah dijelaskan dalam berbagai kitab fiqih klasik maupun kontemporer. Posisi bacaan ini berada setelah takbiratul ihram dan sebelum surat Al-Fatihah, sehingga menjadi pembuka yang menambah kekhusyukan ibadah.

Meskipun bersifat sunnah, umat Islam dianjurkan untuk tetap membacanya agar mendapatkan pahala yang diajarkan Rasulullah SAW. Hal ini berlaku baik dalam sholat wajib maupun sholat sunnah yang dikerjakan sendiri.

 

Hukum Membaca Doa Iftitah

Para ulama menyebutkan bahwa doa iftitah hanya dibaca pada rakaat pertama setiap sholat. Jadi, ketika sholat sunnah dua rakaat, doa ini cukup dibaca sekali di awal. Jika tidak dibaca, sholat tetap sah tanpa ada kekurangan syarat atau rukun.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menyatakan bahwa doa iftitah hukumnya mustahabbah (sunnah) dalam setiap sholat. Hal ini dipertegas pula oleh para ulama lain seperti Wahbah Az-Zuhaili dalam Fiqih Islam Wa Adillatuhu.

Sementara itu, dalam Manhajus Salikin, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwa doa iftitah termasuk bacaan yang dianjurkan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.

 

Bacaan Doa Iftitah

Doa iftitah memiliki beberapa versi yang semuanya bersumber dari hadis sahih. Umat Islam boleh memilih salah satunya sesuai kebiasaan.

1. Versi Panjang (paling umum)

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

Latin:Allāhu akbaru kabīrā, walhamdu lillāhi kathīrā, wa subhānallāhi bukratan wa aṣīlā. Innī wajjahtu wajhiya lilladzī faṭaras-samāwāti wal-arḍa ḥanīfan musliman wa mā anā minal musyrikīn. Inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil-‘ālamīn. Lā syarīka lahu wa bidzālika umirtu wa anā minal muslimīn.

Artinya:“Allah Maha Besar dengan kebesaran yang sempurna. Segala puji hanya bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, sebagai seorang muslim, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan demikian aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang muslim.”

 

Versi Muhammadiyah dan Versi Pendek

2. Versi Muhammadiyah

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلٰهَ غَيْرُكَ

Latin:Subḥānaka Allāhumma wa biḥamdika, wa tabārakas-muka, wa ta‘ālā jadduka, wa lā ilāha ghairuka.

Artinya:“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu. Maha Suci nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tiada Tuhan selain Engkau.”

3. Versi Pendek

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ. اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ. اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ.

Latin:Allāhumma bā‘id bainī wa baina khaṭāyāya kamā bā‘adta baina al-masyriki wal-maghrib. Allāhumma naqqinī min khaṭāyāya kamā yunaqqats-tsaubu al-abyaḍu minad-danas. Allāhumma ighsilnī min khaṭāyāya bits-tsalji wal-mā’i wal-barad.

Artinya:“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahan sebagaimana kain putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan embun.”

 

Kapan Dibaca dalam Sholat Sunnah

Doa iftitah hanya dibaca setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama. Setelah itu, jamaah langsung melanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah.

Dalam sholat sunnah berjamaah, makmum boleh meninggalkan doa iftitah jika khawatir tertinggal bacaan imam.

Namun, jika sholat sunnah dilakukan sendiri, maka sangat dianjurkan untuk membacanya dengan sempurna.

Kitab Subulus Salam Syarah Bulughul Maram juga mencantumkan hadis-hadis sahih dari sahabat Nabi seperti Abu Hurairah dan Umar bin Khattab yang menegaskan sunnahnya doa iftitah.

 

Pentingnya Menjaga Sunnah

Meski bukan rukun sholat, doa iftitah memiliki kedudukan penting sebagai pembuka yang meluruskan niat dan menghadirkan kekhusyukan. Membacanya berarti mengikuti sunnah Nabi, sehingga ibadah sholat semakin sempurna.

Dengan demikian, apakah sholat sunnah membaca doa iftitah? Jawabannya, sangat dianjurkan untuk membacanya karena menjadi bagian dari penyempurna sholat meskipun tidak wajib.

Kesimpulannya, doa iftitah adalah sunnah muakkadah yang lebih baik untuk selalu diamalkan, baik dalam sholat wajib maupun sunnah, tanpa memandang apakah sholat dilakukan sendiri atau berjamaah.

 

People Also Talk

1. Apakah doa iftitah wajib dibaca dalam sholat?Tidak wajib, hukumnya sunnah. Sholat tetap sah meski tidak dibaca.

2. Apakah doa iftitah sama pada sholat wajib dan sunnah?Ya, bacaan doa iftitah sama saja, hanya dibaca pada rakaat pertama setelah takbiratul ihram.

3. Bolehkah doa iftitah dipendekkan?Boleh, terutama jika menjadi makmum dan imam sudah memulai Al-Fatihah.

4. Apakah anak kecil perlu diajarkan doa iftitah?Sangat dianjurkan agar sejak dini terbiasa dengan sunnah Rasulullah SAW.

5. Apakah sholat sunnah membaca doa iftitah meskipun terburu-buru?Ya, tetap dianjurkan, tetapi boleh memilih bacaan yang singkat agar tidak mengganggu kekhusyukan.