Kumpulan Hadits Doa Iftitah Allahu Akbar Kabiro: Makna dan Keutamaannya

Pahami makna mendalam dan keutamaan hadits doa iftitah Allahu Akbar Kabiro yang membuka pintu langit, meningkatkan kekhusyukan salat Anda.

Diperbarui 22 Agustus 2025, 10:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Doa iftitah merupakan salah satu sunnah yang dianjurkan dalam salat, dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca surat Al-Fatihah. Salah satu bacaan yang populer dan memiliki keutamaan adalah yang akan dibahas kali ini, hadits doa iftitah allahu akbar kabiro.

Bacaan "Allahu Akbar Kabiro walhamdulillahi katsiro wasubhanallahi bukrotan wa ashila" adalah bagian dari doa iftitah yang memiliki arti mendalam tentang kebesaran dan pujian kepada Allah SWT. 

Menurut Muhammad Mawaidi dalam bukunya Sudah Sahalat, Kok Tetap Maksiat, doa iftitah berfungsi untuk mengingatkan umat muslim tentang kuasa Allah SWT dan hakikat di dunia. Dengan menghayati maknanya, seorang muslim dapat lebih memahami tujuan hidup yang telah digariskan oleh Allah SWT.

Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Jumat (22/8/2025).

Keutamaan Membaca Doa Iftitah

Membaca doa iftitah memiliki beberapa keutamaan yang disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Salah satu keutamaan yang paling menonjol adalah dibukanya pintu-pintu langit bagi orang yang membacanya. Ini menunjukkan betapa agungnya doa ini di sisi Allah SWT.

Keutamaan ini diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA. Ia mendengar Rasulullah SAW menyatakan kekaguman beliau terhadap bacaan "Allahu akbaru kabiro, walhamdulillahi katsiro wasubhanallahi bukrotan wa ashila" karena doa tersebut membuka pintu-pintu langit.

Ibnu Umar RA sendiri tidak pernah meninggalkan doa tersebut setelah mendengar keutamaannya dari Rasulullah SAW, menegaskan pentingnya hadits doa iftitah Allahu Akbar Kabiro ini.

Bacaan Doa Iftitah dalam Hadits

Terdapat beberapa versi bacaan doa iftitah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan dalam berbagai hadits. Variasi ini menunjukkan kekayaan sunnah Nabi dan memberikan pilihan bagi umat muslim untuk mengamalkannya.

Doa Iftitah dari Aisyah RA:

"سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ"

(Subhanakalla humma wabihamdika watabarokasmuka wata’ala jadduka wala ilaha ghoiruka).

Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ad-Daru Quthni)

Doa Iftitah dari Abu Said Al-Khudri RA (dengan sisipan Allahu Akbar Kabiro):

"سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ"

(Subhanakalla humma wabihamdika watabarokasmuka wata’ala jadduka wala ilaha ghoiruka. Allahu Akbaru kabiro. A’udzubillahis sami’il alimi minas syaithonir rojim min hamzihi wanafkhihi wanaftsihi).

Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Allah Maha Besar. Aku berlindung kepada Allah swt dari syaitan yang terkutuk, dari gurisannya, dari tiupannya dan dari hembusannya. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i)

Doa Iftitah dari Jabir RA:

"سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ. وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ"

(Subhanakalla humma wabihamdika watabarokasmuka wata’ala jadduka wala ilaha ghoiruka. Wajjahtu wajhiya lilladzi fatoros samawatiwal ardh, hanifan wama ana minal musyrikin, inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘alamin. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin).

Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Aku hadapkan wajahku kepada Allah Yang menciptakan langit dan bumi, dengan lurus dan berserah diri dan aku bukan bagian dari orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tiada sekutu baginya dan dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku termasuk bagian dari orang-orang muslim. (HR. Al-Baihaqi)

Doa Iftitah dari Ibnu Umar RA (dengan Allahu Akbar Kabiro):

"اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا"

(Allahu akbaru kabiro, walhamdulillahi katsiro wasubhanallahi bukrotan wa ashila).

Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang. (HR. Muslim)

Doa Iftitah dari Abu Hurairah RA:

"اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ"

(Allahumma ba’id baini wabaina khothoyaya kama ba’adta bainal masyriqi walmaghrib. Allahumma naqqini minal khotoya kama yunaqqos tsaubul abyadhu minad danas. Allahummaghsil khothoyaya bilma’i was tsalji walbarodi).

Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari semua kesalahan sebagaimana Engkau mensucikan pakaian dari kotoran. Ya Allah, mandikanlah aku dengan air, salju dan embun. (HR. Bukhari dan Muslim)

Doa Iftitah dari Ibnu Abbas RA (untuk shalat malam):

"اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ قَيَّامُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ حَكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ"

(Allahumma lakal hamdu, anta nurus samawati wal ardh, walakal hamdu, anta qayyamus samawati wal ardh waman fihin, antal haq, waqaulukal haq, wawa’dukal haq, waliqa’ukal haq, waljannatul haq, wannaru haq, wassa’atu haq, allahumma laka aslamtu, wabika amantu, wailaika hakamtu, faghfirli ma qaddamtu wama akhkhartu wama asrartu wama a’lantu, antalladzi la ilaha illa anta).

Ya Allah, hanya milik-Mu lah segala pujian, Engkau adalah pemberi cahaya langit-langit dan bumi. Hanya milik-Mu lah segala pujian, Engkau-lah pemelihara langit-langit dan bumi. Engkau adalah al-Haq (Dzat yang pasti wujudnya), janji-Mu benar, ucapan-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, dan hari kebangkitan itu benar (akan terjadi). Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakkal, hanya kepada-Mu aku kembali, dan demi-Mu aku berdebat (terhadap para pengingkarmu), hanya kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosa yang telah kuperbuat dan yang belakangan kuperbuat, ampunilah apa yang aku rahasiakan dan apa yang kutampakkan. Engkaulah Tuhanku, tiada tuhan selain Engkau. (HR. Ahmad)

Doa Iftitah dari Abu Salamah bin Abdurrahman RA (untuk shalat malam):

"اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ"

(Allahumma rabba jibril wamika’il waisrafil, fathiris samawati wal ardh, ‘alimil ghaibi wasy syahadah, anta tahkumu baina ‘ibadika fima kanu fihi yakhtalifun, ihdini limakhtulifa fini minal haq bi idznika wainnaka latahdi ila shiratim mustaqim).

Ya Allah, wahai Rabb Jibril, Mikail dan Israfil! Wahai Yang memulai penciptaan langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya! Wahai Dzat Yang mengetahui yang gaib dan yang tampak! Engkau memutuskan di antara hamba-hamba-Mu dalam perkara yang mereka berselisih di dalamnya. Tunjukilah aku mana yang benar dari apa yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberikan hidayah kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus. (HR. Ibnu Majah)

Doa Iftitah "Allahu Akbar Kabiro" dan Maknanya

Bacaan "Allahu akbar kabiro walhamdulillahi katsiro wasubhanallahi bukrotan wa ashila" adalah salah satu versi doa iftitah yang sangat dikenal dan diamalkan oleh banyak umat muslim. Doa ini merupakan bentuk pengagungan dan pujian yang mendalam kepada Allah SWT, serta pengakuan akan keesaan-Nya.

Secara harfiah, "Allahu akbar kabiro" berarti "Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaran-Nya", yang menegaskan keagungan Allah yang tiada tara. Dilanjutkan dengan "walhamdulillahi katsiro" yang berarti "segala puji hanya kepunyaan Allah dengan pujian yang banyak", menunjukkan bahwa segala bentuk pujian hanya layak ditujukan kepada-Nya.

Kemudian, "wasubhanallahi bukrotan wa ashila" yang berarti "Maha Suci Allah pagi dan petang", menggambarkan kesucian Allah yang abadi sepanjang waktu.

Bagian selanjutnya dari doa ini, "Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha haniifan musliman wa maa anaa minal musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin. Laa Syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin," merupakan ikrar seorang hamba yang menghadap sepenuhnya kepada Allah, pencipta langit dan bumi, dengan lurus dan berserah diri.

Ini juga menegaskan bahwa salat, ibadah, hidup, dan mati hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.

Muhammad Mawaidi dalam bukunya Sudah Sahalat, Kok Tetap Maksiat menjelaskan bahwa doa iftitah ini mengingatkan umat muslim tentang kekuasaan Allah SWT dan hakikat keberadaan di dunia. 

Hukum Membaca Doa Iftitah dalam Salat

Membaca doa iftitah dalam salat hukumnya adalah sunnah, bukan wajib. Ini berarti bahwa salat tetap sah meskipun doa iftitah tidak dibaca. Namun, sangat dianjurkan untuk membacanya karena terdapat keutamaan dan pahala di dalamnya.

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam Kitab Minhajul Muslim menyatakan bahwa hukum membaca doa iftitah adalah sunnah ghairu muakkad, sebuah pandangan yang juga disepakati oleh ulama Syafi'iyah.

Dalil kesunnahan ini diperkuat oleh hadits riwayat Abu Hurairah RA, di mana Rasulullah SAW biasa berdiam sejenak antara takbir dan bacaan Al-Fatihah, dan ketika ditanya, beliau menyebutkan bacaan doa iftitah.

Meskipun ada berbagai versi doa iftitah, Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Ashlu Shifati Shalaatin Nabiyyi shalallahahu 'alaihi wa sallam menyebutkan bahwa doa iftitah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim adalah yang paling shahih dari segi sanadnya. Ini menunjukkan pentingnya merujuk pada hadits-hadits yang sahih dalam praktik ibadah.

Waktu dan Posisi Membaca Doa Iftitah

Doa iftitah dibaca pada awal salat, tepatnya setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca surat Al-Fatihah. Posisi ini adalah standar untuk salat fardhu maupun sunnah, memastikan setiap ibadah dimulai dengan pengagungan kepada Allah.

Selain itu, doa iftitah juga memiliki relevansi khusus dalam salat malam (qiyamul lail). Aisyah Ummul Mukminin pernah ditanya tentang bacaan yang digunakan Nabi Muhammad SAW saat memulai salat malamnya, dan beliau menjawab bahwa Rasulullah SAW membaca doa iftitah. Hal ini menunjukkan bahwa doa iftitah juga sangat dianjurkan dalam ibadah salat malam, menambah kekhusyukan.

Daftar Sumber

  • Teks Instruksi Pengguna
  • Sudah Sahalat, Kok Tetap Maksiat oleh Muhammad Mawaidi (2015)
  • Kitab Minhajul Muslim oleh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi
  • Kitab al-Fiqhu al-Madzahib al-Arba'ah, al-Juz' al-Awwal, Kitab ash-Shalah
  • Ashlu Shifati Shalaatin Nabiyyi shalallahahu 'alaihi wa sallam oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani
  • Kitab Adzkaar al-Muttaqin min Kitaabillah wa Shahih al-Haditsi Imam oleh Syekh Irfan bin Sulaim al-Asya Hasunah al-Dimasyqiy

FAQ

Apa itu doa iftitah?

Doa iftitah adalah bacaan sunnah yang dilafalkan setelah takbiratul ihram dan sebelum Al-Fatihah saat salat.

Apakah membaca doa iftitah wajib?

Tidak, doa iftitah bersifat sunnah ghairu muakkad; salat tetap sah jika ditinggalkan.

Apa keutamaan membaca doa iftitah?

Salah satu keutamaannya adalah membuka pintu-pintu langit dan meningkatkan kekhusyukan dalam salat.

Kapan waktu membaca doa iftitah?

Dibaca tepat setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca surat Al-Fatihah, termasuk dalam salat fardhu maupun sunnah.

Apa arti bacaan "Allahu Akbar Kabiro walhamdulillahi katsiro wasubhanallahi bukrotan wa ashila"?

Artinya: "Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah pagi dan petang."

Apakah ada variasi doa iftitah?

Ya, terdapat beberapa versi doa iftitah dari sahabat Nabi seperti Aisyah RA, Abu Said Al-Khudri RA, Ibnu Umar RA, dan lainnya.

Mengapa doa iftitah penting diamalkan?

Doa ini membantu mengingat kebesaran Allah, menata niat sebelum salat, serta membersihkan hati dari dosa dan kesalahan.