Liputan6.com, Jakarta Surat Al-Insyiqaq adalah surat ke-84 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 25 ayat dan tergolong surat Makkiyah. Nama "Al-Insyiqaq" sendiri diambil dari kata yang berarti "terbelah", merujuk pada peristiwa pembelahan langit yang menjadi gambaran utama dalam surat ini.
Dalam skripsi Izharul Irfan (2011) berjudul Pemberian catatan perbuatan dalam Surat al‑Insyiqāq (studi komparatif antara Tafsir Al‑Misbâh dan Al‑Qur’ān dan Tafsirnya), ditegaskan bahwa baik Tafsir Al‑Misbâh (M. Quraish Shihab) maupun Tafsir Departemen Agama RI sependapat bahwa setiap amal baik maupun buruk akan dibalas sesuai nilainya. Metode tafsir dan penjabaran tiap mufassir mungkin berbeda, tetapi kesimpulannya “tiap tindakan akan diperhitungkan dengan adil”.
Surat ini memberikan peringatan keras tentang hari kiamat dan pentingnya mempersiapkan diri dengan keimanan serta amal saleh. Ayat-ayatnya menekankan betapa dahsyatnya hari kiamat dan menyeru manusia untuk taat dan beribadah.
Advertisement
Berikut Liputan6.com ulas lengkap tentang surat al insyiqaq dan penjelasannya dirangkum dari berbagai sumber, Selasa (8/7/2025).
Mengenal Surah Al Insyiqaq: Apa Itu Surat Al Insyiqaq?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4862237/original/068114000_1718260727-pexels-rdne-7249762.jpg)
Surah Al-Insyiqaq adalah surah ke-84 dalam Al-Qur'an. Surah ini dinamai Al-Insyiqaq (الانشقاق, “terbelah”) karena kata tersebut muncul di awal surah(Surah 84:1).
- Dalam mushaf standar, ini adalah surah ke‑84, terdiri dari 25 ayat, dan termasuk surah-surah Makkiyah (diturunkan di Makkah).
- Terdapat konsensus umum bahwa Surah Al‑Insyiqaq memiliki 25 ayat.
- Surah ini termasuk dalam kelompok surat “Al-Mufasshalat”—surat pendek yang sering dimulai dengan ayat yang mengandung sumpah atau tanda keagungan alam seperti “idhā” (“apabila”).
- Surah ini diturunkan di Makkah (Makkiyah) pada fase akhir periode wahyu Makkiyah.
Mayoritas ulama menempatkannya setelah Surah Al-Mutaffifin (Surah 83) atau setelah Al-Taffif, sesuai urutan kronologis pewahyuan.
Advertisement
Makna Surat Al Insyiqaq: Peristiwa Dahsyat di Hari Kiamat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4787519/original/086258300_1711611336-20240328-Al_Quran_Terbesar-AFP_1.jpg)
Surah Al‑Insyiqaq (QS 84:1–25) adalah surah Makkiyah yang menegaskan kehancuran alam semesta pada Hari Kiamat. Dinamai dari kata al‑insyiqaq—“terbelah”—yang mengacu pada pembukaan langit. Surah ini membantah kaum yang mendustakan hari akhir dengan gambaran konkret kehancuran kosmik.
Ayat 1–2: “Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya…” menunjukkan langit yang dulunya stabil, kini hancur atas kehendak Allah. Ini menyorot kekuasaan mutlak-Nya, sebab “langit pun patuh” adalah hal yang wajar bagi makhluk-Nya.
Ayat 3–5: “Dan apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya…” Bumi datar menyerupai kulit, lalu melepaskan tulang-belulang dan mayat. Makna ini sesuai hadits dan sebab mufassir seperti Ibnu Katsir menyatakan bumi akan diganti dan manusia dikumpulkan di padang mahsyar.
Situs tafsiralquran.id menjelaskan pembelahan langit sebagai runtuhnya tatanan alam raya—termasuk bintang-bintang—yang memicu kekacauan kosmik.
Ayat 6: “Wahai manusia, sesungguhnya kamu kelak menemui Tuhanmu.” Riset UIN Walisongo (Ridwan & Muhaimin, 2024) menunjukkan bahwa ayat ini menegaskan bahwa keseluruhan umat manusia—baik beriman atau tidak—telah “berjuang” di dunia dan pasti akan bertemu Allah. Ini menegaskan realitas hari perhitungan bagi setiap orang.
Kandungan Surat Al Insyiqaq: Perbedaan Nasib Orang Beriman dan Kafir
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2248311/original/090358200_1528800308-20180612-Berkah-Ramadan-4.jpg)
Tafsir Jalalain karya Jalaluddin Al‑Mahalli & Jalaluddin As‑Suyuthi: menjelaskan tugas alam semesta saat kiamat, manusia bertemu amalnya. Firanda Andirja dalam bukunya berjudul Tafsir Juz ’Amma, makna “patuh” langit‑bumi adalah mendengar & menaati Rabb selama-lamanya.
Surah ini dimulai dengan gambaran alam semesta saat kiamat: langit terbelah dan bumi diratakan, memuntahkan isi perutannya, lalu keduanya “patuh kepada Rabb-nya” (QS 84:1‑5). Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa “patuh” di sini berarti mendengar dan tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah, menunjukkan bahwa alam semesta melaksanakan kehendak Ilahi hingga akhir zaman.
Allah mengingatkan bahwa manusia telah “berusaha menuju Rabbnya” (ayat 6), dan akan menemuinya dengan catatan amal. Mereka dibagi dua golongan:
- Catatan dari sebelah kanan: tanda orang beriman dan beramal baik. Mereka akan dihisab ringan dan kembali ke keluarga secara gembira.
- Catatan dari belakang/punggung (kiri): tanda orang ingkar, yang akan menjerit: “Celakalah aku!” dan memasuki neraka yang menyala‑nyala.
Allah bersumpah atas fenomena alam (senja, malam, purnama, dsb) lalu bertanya retoris: “Mengapa mereka tidak mau beriman?” Ini menegaskan bahwa manusia memiliki kesadaran untuk memilih, tapi sebagian tetap mengingkari meski jelas realitas.
Ayat 20–22 menjelaskan sikap orang kafir: ketika Al‑Qur’an dibacakan, mereka tidak bersujud dan bahkan mendustakannya. Mereka ingkar dan menyembunyikan niat buruknya dalam hati, padahal Allah Maha Mengetahui.
Advertisement
Pesan Kehidupan dalam Surat Al Insyiqaq untuk Muslim Masa Kini
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4374406/original/051837800_1679988684-rachid-oucharia-2d1-OSHkHXM-unsplash.jpg)
1. Kesadaran atas Hari Pembalasan & Pertanggungjawaban
Ayat 6–10 menggambarkan manusia sebagai “kādḥị̣hun ila rabbika”: berjuang menuju Tuhan. Siapa yang menerima kitab amal dari kanan akan dimudahkan perhitungan dan kembali dengan penuh sukacita; sebaliknya, yang menerima di belakang akan menyesal dan masuk neraka .Relevansi modern: dalam era sibuk dan konsumtif, kesadaran akan pertanggungjawaban akhirat mendorong integritas dalam bidang profesi, interaksi sosial, dan etika digital.
2. Introspeksi, Muhasabah, dan Perbaikan Diri
Surat ini menekankan refleksi pribadi secara mendalam: amal manusia dicatat dan akan dipertanggung jawabkan. Tafsir modern oleh Mas’ulil Munawaroh menegaskan spiritualitas Qur’ani mendorong “muhasabah”—evaluasi diri dan pengawalan moral terhadap tuntutan zaman Implementasi masa kini: praktik muhasabah bisa diperkuat lewat jurnal, meditasi Qur’ani, dan aplikatif melalui aplikasi Islami yang menekankan remider ibadah, evaluasi harian, serta tadabbur ayat .
3. Kesabaran & Optimisme Menghadapi Ujian
Ayat 19 (“tingkat demi tingkat”) mengingatkan manusia akan fase kehidupan: kelahiran, perjuangan, kematian, dan akhirat . Dalam konteks modern, kesabaran menjadi penting ketika menghadapi tekanan pekerjaan, ekonomi, dan krisis psikologis. Tafsir Al-Maraghi (dikutip dalam Nisa’ & Masrury) menekankan spiritual Qur’ani sebagai fondasi self-healing dan kesejahteraan jiwa
4. Kerendahan Hati & Ketaatan terhadap Tanda-Tanda Allah
Ayat 16–18, dengan sumpah atas fenomena alam (senja, malam, bulan purnama) mengajarkan sikap tawadhu’ dan penghormatan atas keberhasilan alam sebagai bukti kekuasaan Allah . Tafsir kontemporer, seperti Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah, mendorong penggunaan nilai Qur’ani lewat pendekatan kontekstual agar relevan dengan perkembangan sosial dan ilmiah Saat ini, sikap rendah hati dan rasa takwa menghindarkan kita dari kesombongan digital, FOMO, dan kesalahan etika online.
5. Peringatan Tegas & Harapan Tanpa Batas
Surah ini menyeimbangkan peringatan untuk orang ingkar dengan motivasi besar kepada orang beriman. Ayat 24–25 menegaskan bahwa hanya orang mukmin yang istiqomah dan beramal saleh memperoleh ganjaran kekal . Dalam kehidupan modern, ini menumbuhkan semangat produktivitas spiritual, menghindari fatalisme, dan percaya bahwa setiap kebaikan—sekecil apa pun—akan menghitung.
6. Pendidikan Karakter Spiritual Qur’ani
Beberapa kajian menjelaskan bahwa mengaji beserta tafsir (bukan sekadar hafalan) mampu mengembangkan kecerdasan spiritual: kesadaran diri, empati, kontrol moral, dan kecerdasan emosional.
Al-Mustaqbal Journal menyoroti konteks spiritual Qur’ani sebagai dasar pendidikan karakter dan moral yang holistik
QnA Seputar Surat Al Insyiqaq
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3381464/original/038287100_1613720800-quran-central-religious-text-islam_53876-57381.jpg)
Berikut adalah beberapa pertanyaan dan jawaban seputar surat Al Insyiqaq:
1. Apa arti “Al-Insyiqaq” dan mengapa dinamakan demikian?
“Al-Insyiqaq” berarti “terbelah”, diambil dari kata “insyaqqa” pada ayat pertama yang menjelaskan terbelahnya langit pada hari kiamat sebagai tanda kehancuran alam semesta. Ini menggambarkan kedahsyatan hari kiamat dan perubahan besar yang terjadi pada ciptaan Allah.
2. Surat ke berapa Al-Insyiqaq dalam Al-Qur’an dan terdiri dari berapa ayat?
Surat Al-Insyiqaq adalah surat ke-84 dalam Al-Qur’an dan terdiri dari 25 ayat. Termasuk golongan Makkiyah karena turun sebelum hijrah, dengan tema utama tentang hari kiamat dan balasan amal manusia.
3. Apa keunikan Surat Al-Insyiqaq dalam bacaan salat?
Nabi ﷺ sering membaca Surat Al-Insyiqaq bersama Al-Infithar, Al-Muthaffifin, dan Al-Infitah dalam salat Isya dan salat sunnah, karena berisi pengingat tentang hari kiamat dan hisab, agar umat mengingat akhirat dalam kesehariannya.
4. Pelajaran apa yang bisa diambil dari Surat Al-Insyiqaq untuk kehidupan sehari-hari?
Surat ini mengingatkan bahwa setiap amal kita akan diperlihatkan di hari kiamat: 🌿 Yang menerima catatan amal dari sebelah kanan akan memperoleh hisab yang mudah dan kembali ke keluarganya dengan gembira. 🌿 Yang menerima catatan amal dari belakang akan menjerit dan masuk neraka. Ini mengajak kita untuk menjaga amal baik dalam keseharian agar kelak dimudahkan hisabnya.
5. Apa hubungan Surat Al-Insyiqaq dengan ilmu astronomi?
Surat ini menyebut langit akan terbelah dan bumi akan diratakan serta mengeluarkan semua isinya, yang juga dipahami sebagai tanda-tanda kehancuran alam semesta. Hal ini menjadi pengingat bagi manusia yang mempelajari ilmu astronomi bahwa alam semesta memiliki awal dan akan memiliki akhir atas izin Allah.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6210955/original/079363800_1779089133-cek_fakta_BLT_umkm.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295706/original/066644800_1783939615-cek_fakta_-_prasetyo_hadi_umumkan_dana_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317894/original/043579200_1786076765-Screenshot_2026-08-07_110222.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318485/original/050923200_1786098399-Cek_fakta_-_blt_umkm_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3403886/original/091287400_1615978933-quran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2241544/original/039258100_1528334197-20180606-Muslim-Afghanistan-Berburu-Berkah-Lailatul-Qadar-AP-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5553186/original/075515900_1775911814-IMG-20260410-WA0016_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5530858/original/024083900_1773495896-WhatsApp_Image_2026-03-14_at_07.01.28__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519665/original/044511200_1772592972-unnamed__44_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5523352/original/069144700_1772804015-WhatsApp_Image_2026-03-06_at_16.21.40__1_.jpeg)