Sukses

Gong Sekaten, Saksi Bisu Kebesaran Tradisi Islam di Cirebon Warisan Sunan Gunung Jati

Liputan6.com, Cirebon Setiap perayaan Idul Fitri dan Idul Adha Keraton Kanoman Cirebon merayakannya hari kemenangan dengan mengalunkan lantunan dari alunan sebuah alat musik yang yang berusia lebih dari 500 tahun, bernama Gamelan Sekaten.

Keraton Kanoman Cirebon rutin menabuh gong sekaten setiap momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Gamelan sekaten dikeluarkan dan dibersihkan melalui Ritual Nyiram Gong Sekaten.

Ritual Nyiram Gong Sekaten ini menyiratkan sebagai alarm bahwa bagi siapa pun untuk selalu menyucikan diri dari segala godaan.

Momen keluarnya Gong Sekaten ini menjadi salah satu kesempatan bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya untuk menyaksikan secara langsung bagaimana rupa gamelan pusaka yang hanya muncul sekali dalam setahun itu.

Lalu bagaimana Prosesi Ritual Pencucian Gong Sekaten? Berikut Ulasannya!

Juru Bicara Keraton Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina, mengatakan prosesi Nyiram Gong Sekaten atau mencuci gong pusaka peninggalan Sunan Gunung Jati, dari Bangsal Ukiran (Gedong Pejimatan) berlangsung hanya satu kali dalam setahun, tepatnya pada tanggal 07 Mulud Kalender Aboge Keraton.

"Proses keluarnya Gong Sekaten ini menjadi penanda akan dilaksanakanya prosesi Panjang Jimat," katanya.

Prosesi dimulai ketika keluarga Keraton Kanoman yang dipimpin Pangeran Patih Raja Muhammad Qadiran mengeluarkan perangkat gamelan sekaten. Gamelan tersebut terdiri dari saron, gong, dan bonang dari Bangsal Ukiran (Gong Pejimatan). 

Mereka berjalan kaki dengan seorang keluarga keraton berada di depan barisan sambil membawa kemenyan terbakar. Gamelan lalu dibawa ke Langgar Alit untuk disucikan dalam sebuah tradisi nyiram gong sekaten. 

Warga turut hadir menyaksikan tradisi tersebut. Keluarga keraton lalu membaca solawat dan doa sebelum proses pencucian pusaka itu. Sementara di luar ruangan, para abdi dalem berbaris, menjaga jalur ritual, termasuk tempat pencucian gamelan sekaten.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

Ritual Pencucian

Pencucian dimulai ketika Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran membaca doa dan membasuh gong besar yang dipegang dua abdi dalem. Setelah itu, Ki Lurah Gamelan, pimpinan nayaga, melanjutkan pencucian untuk tiga gong besar, 20 bonang, dan 6 rangkaian saron.

Pencucian menggunakan air kembang di sumur Langgar Alit, air kelapa hijau yang sudah difermentasi, dan batu bata merah yang telah dihaluskan dengan cara mengusapkan tepes (kulit kelapa kering) ke gamelan sekaten yang ditata di atas balok. 

Menurut Ratu Arimbi, alat dan bahan untuk membersihkan gamelan sekaten diyakini mampu memperlambat pusaka berkarat sehingga bunyinya tidak fals.

”Cara pembersihan alami ini sudah dilakukan ratusan tahun,” ucapnya.

Menurut Ratu Arimbi, gamelan sekaten itu merupakan pemberian Sultan Trenggono, Raja Demak Bintoro III kepada Ratu Wulung Ayu. 

Sultan Trenggono tersebut merupakan putri dari salah satu Wali Songo yakni Sunan Gunung Jati dengan istri Nyimas Tepasari dari Majapahit.

Ratu Wulung Ayu mendapat hadiah gamelan sekaten setelah ditinggal wafat suaminya, Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, Raja Demak Bintoro II. 

Gamelan diberikan ketika Ratu Wulung Ayu ingin pulang ke Cirebon. Ratu Wulung Ayu selalu membunyikan gamelan sekaten setiap Bulan Maulud, dan sejak itulah gamelan selalu dicuci hingga saat ini.

Dalam perjalanannya, pusaka tersebut juga digunakan sebagai media penyebaran ajaran Islam melalui tabuhan gamelan. Imbalan untuk dapat menyaksikan pertunjukan gamelan sekaten adalah syahadat.

Sekaten sendiri berasal dari kata syahadatain atau bersyahadat. Itulah mengapa air bekas mencuci gamelan sekaten yang sudah didoakan dan diberi solawat menjadi rebutan warga karena dianggap berkah.

3 dari 3 halaman

Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat

Setelah menjalankan tradisi nyiram gong sekaten, gong itu kembali ditata di Bangsal Sekaten. Gong kemudia ditabuh selepas Isya (7 Maulud) dan para Nayaga kembali membuyikan gong itu bersama perangkat gamelan lainnya. 

Gong ditabuh pada pagi, siang, sore, dan malam hingga atau puncak acara Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Maulud (Panjang Jimat).

"Para Nayaga yang memainkan Gamlean Sekaten merupakan keturunan dari para pendahulunya," ungkap Ratu Arimbi.

Hingga kini tradisi Nyiram Gong Skaten masih tetap terjaga untuk menghormati kelahiran Gusti Rosul dan media Islamisasi di Cirebon. Gamelan pusaka tersebut menjadi saksi bisu kebesaran tradisi Islam di Cirebon tepatnya di Keraton Kanoman Cirebon.

Maka tak heran jika Pemprov Jabar pada tanggl 23 Februari 2023 mengukuhkan Tradisi Nyiram Gong Skeaten Cirebon sebagai Warisan Budaya Takbenda 2023 bersama 54 karya budaya lainnya yang berada di Jabar.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.