Sukses

Kisah Malaikat Penjaga Gunung Marah dan Hendak Musnahkan Penduduk yang Zalim

Liputan6.com, Lumajang - Ahad, 4 Desember 2022 Gunung Semeru, Jawa Timur kembali meletus. PVMBG mencatat, dalam waktu enam jam antara pukul 12.00-18.00 WIB, Gunung Semeru erupsi 22 kali.

Letusan Gunung Semeru kali ini barangkali bukanlah yang terdahsyat. Pun, bukan pula erupsi Semeru yang menimbulkan korban jiwa dalam jumlah signifikan.

Mitigasi bencana letusan gunung berapi adalah salah satu kunci. Ini adalah ikhtiar pemerintah dan masyarakat agar Allah SWT menyelamatkan nyawa penduduk di sekitar gunung.

Terlepas dari erupsi Semeru, bicara gunung, ada satu kisah menarik yang terjadi pada masa awal kenabian Muhammad SAW. Ini adalah kisah antara Rasulullah SAW dengan malaikat penjaga gunung.

Dari kisah ini, terbukti bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok penyabar dan penyayang. Meski disakiti berkali-kali dan bahkan nyaris dibunuh, Rasulullah SAW tetap tawakal dan menghadapi semua permasalahan dengan hati dingin dan sabar.

Alikisah, ketika mendapatkan perundungan dari kaum kafir Quraisy di Mekkah usai wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib, Rasulullah SAW merasa perlu mencari dukungan dari kota Thaif sekaligus membawa misi dakwah.

Karena pentingnya misi itu, Rasulullah SAW tidak mengirim utusan melainkan beliau sendirilah yang menuju ke kota tersebut dengan ditemani oleh Zaid bin Haritsah RA.

Perjalanan Dakwah ke kota Thaif di awal masa kenabian adalah pertama kalinya Rasulullah SAW menyampaikan wahyu di luar kota Makkah.

Sayangnya, orang-orang Thaif menolak dakwah Rasulullah SAW, dan mereka mengusir Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah RA dengan lemparan batu hingga terluka parah.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Malaikat Penjaga Gunung Hendak Musnahkan Penduduk Thaif

Saat dikejar oleh penduduk Thaif,Rasulullah SAW dan Zaid bin Haritsah RA bersembunyi di kebun milik Uthbah bin Rabi’ah untuk menghindari kejaran orang-orang Thaif. Di sana, Rasulullah SAW memanjatkan doa.

Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?

Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)

Mendengar doa Rasulullah SAW, Allah SWT mengutus malaikat Jibril AS untuk menyampaikan bahwa Allah SWT menerima doa beliau. Bersama Jibril AS turut serta malaikat penjaga gunung yang berkata,

Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.”

Rasulullah SAW menolak hal tersebut. Bahkan, beliau berharap bahwa suatu saat nanti orang-orang Thaif akan memeluk Islam dan beriman kepada Allah SWT. Rasulullah SAW kemudian berdoa, “Ya Allah! Tunjukkanlah kaumku (ke jalan yang lurus), karena sesungguhnya mereka itu tidak mengerti.”

Sekalipun sudah dilempari batu hingga terluka parah, Rasulullah SAW tidak menyimpan dendam kepada para penduduk Thaif. Di kemudian hari, penduduk Thaif akhirnya menjadi pengikut Rasulullah SAW dan memeluk agama Islam. (sumber: fpscs.uii.ac.id)

Tim Rembulan

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS