Bulan Safar Artinya? Simak Makna dan Berbagai Peristiwa Besar yang Terjadi

Pemahaman mengenai makna historis tersebut penting untuk mendudukkan posisi Safar

Diterbitkan 01 Juli 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam kalender Hijriah ada satu bulan yang menempati posisi unik, Safar. Jatuh setelah rangkaian tiga bulan haram atau yang dimuliakan, Safar justru kerap diidentikkan dengan bulan sial. Pertanyaan yang kerap mengemuka adalah, bulan Safar artinya?

Merujuk Ebook 15 Serba Serbi Bulan Safar, Syekh Muḥammad Shāliḥ al-Munajjid, secara bahasa, kata Safar memiliki arti kosong. Penamaan ini sebenarnya merujuk pada tradisi bangsa Arab kuno yang gemar meninggalkan kediamannya untuk berperang maupun berniaga.

Pemahaman mengenai makna historis tersebut penting untuk mendudukkan posisi Safar secara tepat dan menepis mitos sial di dalamnya, karena secara tegas telah dibantah seiring kedatangan Islam.

Merangkum berbagai sumber, artikel ini akan mengulas arti bulan Safar dalam berbagai perspektif, kedudukannya dalam Islam, peristiwa penting di dalamnya, serta pernak-pernik lain terkait bulan kedua penanggalan Hijriah ini.

Makna Bulan Safar dalam Berbagai Perspektif

1. Makna Etimologis (Bahasa)

Secara bahasa, kata "Safar" (صَفَر) berasal dari akar kata tiga huruf shad-fa'-ra' yang memiliki dua makna utama: Pertama, shufrah (صُفْرَة) yang berarti "warna kuning". Kedua, shafar (صَفَر) yang berarti "kosong" atau "sepi".

Makna "kosong" inilah yang lebih dominan dalam penamaan bulan ini.

2. Makna Historis (Asal-Usul Penamaan)

Para ulama menjelaskan beberapa latar belakang historis penamaan Bulan Safar. Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) dalam Tafsîr Ibnu Katsîr menjelaskan Safar dinamakan dengan nama tersebut, karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian.

Imam Ibnu Manzhur (wafat 771 H) dalam Lisânul 'Arab menambahkan beberapa alasan tambahan bahwa masyarakat Arab memiliki kebiasaan memanen seluruh tanaman dan mengosongkan ladang pada bulan ini.

Masyarakat Arab sering menyerang kabilah-kabilah lain, memaksa mereka pergi dalam keadaan kosong tanpa bekal karena ketakutan.

Muhammad Abu Syuhbah dalam as-Sirah an-Nabawiyyah menegaskan bahwa pada bulan ini orang Arab bepergian, mengosongkan rumah dan kota untuk perang, setelah tiga bulan sebelumnya merupakan bulan-bulan haram (suci) di mana perang dilarang. Bahkan disebutkan kota Makkah nyaris kosong melompong pada bulan tersebut, kecuali orang-orang miskin yang tidak memiliki bekal untuk bepergian.

3. Makna dalam Perspektif Islam

Dalam pandangan Islam, Bulan Safar adalah bulan yang sama dengan bulan-bulan lainnya—tidak memiliki keistimewaan khusus untuk kebaikan maupun keburukan.

Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali, mengkhususkan kesialan pada bulan tertentu adalah tidak benar. Setiap bulan memiliki potensi kebaikan dan keburukan yang sama, dan segala kejadian adalah kehendak Allah semata.

Sejarah Bulan Safar

1. Bulan Safar di Masa Jahiliah

Pada masa Jahiliah, terdapat dua kemungkaran besar yang terkait dengan Bulan Safar:

Pertama, praktik an-Nasi' (pengunduran bulan haram). Orang-orang Arab Jahiliah mempermainkan bulan Safar dengan memajukan atau memundurkannya, menjadikannya pengganti bulan Muharam yang diharamkan. Allah berfirman:

"Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Orang-orang yang kafir disesatkan dengan (pengunduran) itu, mereka menghalalkannya suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain." (QS. At-Taubah [9]: 37)

Kedua, keyakinan bahwa Bulan Safar membawa kesialan (tasa'um). Anggapan ini sudah sangat masyhur di kalangan Jahiliah dan masih menyisakan pengaruh di kalangan sebagian umat Islam hingga kini.

2. Penetapan dalam Kalender Hijriah

Bulan Safar termasuk dalam dua belas bulan yang Allah tetapkan sejak penciptaan langit dan bumi, sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi." (QS. At-Taubah [9]: 36)

Dalam hadis sahih, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana bentuknya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram..." (HR. Bukhari dan Muslim)

Mitos yang Berkembang Terkait Safar dan Bantahannya

Masyarakat Arab Jahiliah meyakini Bulan Safar sebagai bulan penuh kesialan, kemalangan, dan hal-hal buruk. Sebagian masyarakat Indonesia masih mewarisi keyakinan ini; tidak berani menikah, memulai usaha, atau bepergian di bulan Safar.

Rasulullah SAW dengan tegas membantah keyakinan ini dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim:

"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak benar adanya tiyarah (mengaitkan nasib buruk), tidak ada burung hantu (membawa sial), dan tidak benar beranggapan sial di bulan Safar." (HR. Bukhari no. 5387 dan Muslim no. 2220)

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Munajjid dalam karyanya Pelajaran di Bulan Shafar menekankan bahwa zaman (waktu) tidak ada sangkut pautnya dengan pengaruh dan takdir Allah. Ia sama seperti waktu-waktu lainnya, di dalamnya ada takdir buruk dan takdir baik.

Ibnu Rajab al-Hanbali menegaskan, meyakini kesialan secara khusus pada waktu tertentu, seperti bulan Safar dan selainnya, tidaklah dibenarkan. Karena sesungguhnya waktu itu seluruhnya ciptaan Allah, di dalamnya terjadi perbuatan anak Adam.

Peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Safar

Banyak peristiwa bersejarah justru terjadi di Bulan Safar, membuktikan bahwa bulan ini tidak identik dengan kesialan:

1. Pernikahan Rasulullah dengan Khadijah

Pernikahan ini berlangsung sebelum masa kenabian.

2. Hijrah Rasulullah ke Madinah

Beberapa riwayat menyebutkan Rasulullah SAW keluar untuk hijrah dari Makkah ke Madinah pada bulan Safar.

3. Perang Al-Abwa (Waddan)

Perang pertama yang diikuti Rasulullah, terjadi pada bulan Safar tahun kedua Hijriah.

4. Tragedi Bi'r Ma'unah

Terjadi pada bulan Safar tahun ke-4 Hijriah, di mana 70 sahabat penghafal Al-Qur'an gugur syahid.

5. Penaklukan Khaibar

Terjadi pada bulan Safar tahun ke-7 Hijriah.

6. Pengiriman Pasukan Usamah bin Zaid

Rasulullah mengutus Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan melawan Romawi pada akhir bulan Safar tahun ke-11 Hijriah, beberapa hari sebelum wafat.

7. Penaklukan Madain (Ibu Kota Persia)

Terjadi pada bulan Safar tahun ke-16 Hijriah, menandakan runtuhnya kerajaan Persia.

Kedudukan Safar dalam Islam

1. Bukan Bulan Haram (Suci)

Bulan Safar termasuk bulan biasa, bukan termasuk empat bulan haram (Muharam, Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijah).

2. Tidak Ada Ibadah Khusus

Tidak ada ibadah khusus yang disyariatkan di bulan Safar, berbeda dengan Muharram yang memiliki keutamaan puasa 'Asyura.

3. Status Hukum

Secara historis dan syariat, hukum Bulan Safar adalah netral—tidak ada larangan khusus, sehingga umat Islam bebas melakukan akad nikah, memulai usaha, atau melakukan perjalanan di bulan ini.

4. Larangan Tathayyur

Menganggap sial Bulan Safar (tathayyur atau tasya'um) tidak dibenarkan dalam Islam karena tidak didasarkan pada Al-Qur'an dan Sunnah.

Hikmah Memahami Arti Bulan Safar

Memahami hakikat Bulan Safar memberikan beberapa pelajaran berharga:

1. Meneguhkan Tauhid: Keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, bukan karena pengaruh waktu atau bulan.

2. Membersihkan Diri dari Takhayul: Islam mengajarkan umatnya untuk tidak terpengaruh oleh kepercayaan yang tidak berdasar.

3. Optimisme dalam Beraktivitas: Tidak perlu menunda-nunda kebaikan atau aktivitas penting karena ketakutan akan kesialan.

4. Setiap Waktu adalah Kesempatan Beribadah: Bulan Safar, seperti bulan lainnya, adalah kesempatan untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah.

Pertanyaan Seputar Bulan Safar

Apa arti Bulan Safar secara bahasa?

Bulan Safar berasal dari kata Arab yang berarti "kosong" atau "sepi", merujuk pada kebiasaan masyarakat Arab yang meninggalkan rumah kosong untuk bepergian atau berperang.

Mengapa bulan ini dinamakan Safar?

Dinamakan Safar karena sepinya rumah-rumah penduduk yang pergi berperang atau bepergian, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir.

Apakah Bulan Safar dianggap sial dalam Islam?

Tidak. Rasulullah ﷺ secara tegas membantah anggapan bahwa Bulan Safar membawa kesialan dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim.

Bagaimana hukum menikah di Bulan Safar?

Hukumnya boleh dan tidak ada larangan sama sekali. Anggapan bahwa menikah di Bulan Safar membawa sial adalah mitos yang tidak berdasar.

Apa saja peristiwa penting yang terjadi di Bulan Safar?

Beberapa di antaranya: Perang Abwa (perang pertama dalam Islam), penaklukan Khaibar, hijrah Nabi, dan pernikahan Rasulullah dengan Khadijah.