Cara Membuat Pupuk Organik Tanpa Pupuk Kimia, Mudah untuk Tanaman di Rumah

Pupuk organik dapat dibuat sendiri dari limbah rumah tangga dan kotoran ternak, menjadi alternatif ramah lingkungan tanpa pupuk kimia untuk menyuburkan tanaman.

Diterbitkan 24 September 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Merawat tanaman tidak selalu membutuhkan pupuk yang dibeli di toko. Cara membuat pupuk organik tanpa pupuk kimia dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar rumah, seperti sisa sayuran, daun, kulit buah, jerami, hingga kotoran ternak yang sudah diolah dengan tepat. Selain menghemat biaya, cara ini juga membantu mengurangi limbah organik rumah tangga.

Pupuk organik bekerja dengan memanfaatkan bahan yang berasal dari makhluk hidup dan telah mengalami proses penguraian atau fermentasi. Nutrisi yang terkandung di dalam bahan tersebut kemudian dapat dimanfaatkan tanaman secara bertahap. Karena itu, proses pembuatannya membutuhkan perhatian terhadap jenis bahan, kelembapan, mikroorganisme pengurai, dan lama fermentasi.

Bagi pemilik kebun rumah, metode sederhana ini bisa menjadi pilihan untuk menjaga tanaman tetap mendapatkan tambahan nutrisi. Namun, pupuk organik bukan berarti semakin banyak diberikan akan semakin baik. Jenis tanaman, kondisi tanah, dan fase pertumbuhan tetap perlu diperhatikan agar pemberian pupuk sesuai kebutuhan. Berikut ulasan Liputan6.com, Kamis (24/9/2026).

Mengenal Pupuk Organik dan Cara Kerjanya

Pupuk organik pada dasarnya berasal dari bahan alami seperti sisa tanaman, kotoran hewan, kompos, atau limbah organik lainnya. Bahan tersebut perlu mengalami proses penguraian agar senyawa organik di dalamnya dapat berubah menjadi bentuk yang lebih mudah dimanfaatkan tanaman.

Menurut IPB Digitani, pupuk organik cair atau POC merupakan sumber hara tanaman yang diperoleh melalui fermentasi bahan-bahan alami, terutama bahan tanaman, dengan campuran air. Proses dekomposisi dapat dibantu oleh mikroorganisme pengurai atau dekomposer. Jenis bahan yang digunakan turut menentukan kandungan hara yang dihasilkan.

Sebagai contoh, IPB Digitani menjelaskan bahwa daun lebar, terutama dari kelompok kacang-kacangan, cenderung menjadi sumber bahan yang mengandung nitrogen. Sementara itu, bahan tertentu seperti kulit buah dan sayuran dapat menyumbang kalium, sedangkan cangkang telur dan tulang merupakan sumber kalsium. Artinya, mencampurkan berbagai bahan organik dapat menghasilkan pupuk dengan karakter yang berbeda.

Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng juga menjelaskan bahwa pupuk kandang dapat membantu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Kandungan haranya antara lain nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur, meskipun komposisinya dapat berbeda berdasarkan jenis hewan, umur, pakan, serta kondisi kandang.

Cara Membuat Pupuk Organik Tanpa Pupuk Kimia dari Limbah Organik

Salah satu metode yang relatif mudah dilakukan di rumah adalah membuat pupuk organik cair melalui fermentasi bahan tanaman. Metode ini tidak memerlukan pupuk kimia sebagai bahan utama. Dekomposisi dapat berlangsung dengan bantuan mikroorganisme pengurai.

Untuk skala rumah tangga, bahan yang digunakan tidak harus sama persis dengan resep skala pertanian. Yang penting adalah memilih bahan organik yang aman, mencacahnya agar lebih mudah terurai, menyediakan air, serta menggunakan dekomposer bila diperlukan.

Bahan yang perlu disiapkan

Beberapa bahan yang dapat digunakan antara lain:

  • 1 bagian bahan organik, seperti daun hijau, sisa sayuran, kulit buah, atau potongan tanaman.

  • Air bersih sebanyak sekitar 5 bagian berdasarkan volume.

  • Dekomposer atau bioaktivator sesuai petunjuk penggunaannya.

  • Wadah tertutup yang cukup besar.

  • Pisau atau alat pencacah.

  • Saringan dan botol untuk menyimpan hasil fermentasi.

IPB Digitani merekomendasikan bahan organik dicacah terlebih dahulu agar ukurannya lebih kecil sehingga proses dekomposisi dapat berlangsung lebih mudah. Dalam metode sederhana yang dijelaskan IPB, bahan organik dicampur dengan air menggunakan perbandingan sekitar 1 bagian bahan dan 5 bagian air, kemudian diberi dekomposer. Campuran ditutup dan difermentasi setidaknya selama dua minggu.

1. Pilih dan cacah bahan organik

Langkah pertama adalah memilih bahan yang akan digunakan. Sisa sayuran, daun, potongan rumput, kulit buah, atau bagian tanaman yang tidak terpakai dapat dimanfaatkan.

Hindari memasukkan bahan yang tercampur minyak, deterjen, bahan kimia pembersih, plastik, atau sampah anorganik. Untuk membuat pupuk yang lebih aman digunakan di kebun rumah, bahan sebaiknya berasal dari sumber yang jelas dan tidak terkontaminasi.

Setelah itu, potong atau cacah bahan menjadi bagian kecil. Potongan yang lebih kecil memiliki permukaan lebih luas sehingga mikroorganisme pengurai lebih mudah bekerja.

2. Masukkan bahan ke dalam wadah

Masukkan bahan organik yang telah dicacah ke dalam ember atau tong yang bersih. Jangan memenuhi wadah sampai benar-benar penuh karena proses fermentasi dapat menghasilkan gas.

Tambahkan air dengan perbandingan yang sesuai. IPB Digitani menggunakan contoh sekitar satu bagian bahan organik dan lima bagian air berdasarkan volume untuk metode sederhana pembuatan POC.

Aduk bahan hingga seluruh bagian tercampur. Pastikan bahan organik cukup terendam sehingga proses penguraian dapat berlangsung secara merata.

3. Tambahkan mikroorganisme pengurai

Langkah berikutnya adalah menambahkan dekomposer atau bioaktivator. Fungsinya membantu mempercepat proses penguraian bahan organik.

Yayasan IAR Indonesia menjelaskan bahwa pembuatan POC dapat menggunakan mikroorganisme efektif seperti EM4 untuk membantu fermentasi. Salah satu contoh formulasi yang mereka sajikan menggunakan batang pisang, kotoran ternak herbivora, limbah sayuran atau kulit buah, gula merah, EM4, dan air. Fermentasi dilakukan sekurang-kurangnya 14 hari.

Namun, penggunaan bioaktivator bukan satu-satunya metode. IPB Digitani menjelaskan bahwa proses dekomposisi juga dapat dibantu dengan tanah atau pupuk kandang yang sudah matang. Karena itu, pemilihan metode dapat disesuaikan dengan bahan dan kondisi yang tersedia.

4. Aduk dan lakukan fermentasi

Setelah semua bahan tercampur, tutup wadah. Dalam metode yang dijelaskan IPB Digitani, campuran perlu diaduk setiap hari setidaknya selama satu menit atau dapat diberi udara menggunakan aerator, kemudian difermentasi paling tidak selama dua minggu.

Ada pula metode fermentasi anaerob yang menggunakan wadah tertutup dan sistem pengeluaran gas. Dalam salah satu panduan IPB Digitani, campuran bahan organik, dedak, kotoran ayam, hijauan, gula merah, bioaktivator, dan air difermentasi selama 7–10 hari. Cairan kemudian disaring sebelum digunakan.

Perbedaan lama fermentasi menunjukkan bahwa tidak semua resep pupuk organik memiliki waktu pengolahan yang sama. Karena itu, jangan hanya berpatokan pada jumlah hari. Perhatikan pula kondisi bahan, metode fermentasi, dan tanda-tanda bahwa proses penguraian berjalan dengan baik.

5. Kenali tanda pupuk organik sudah matang

Pupuk organik cair yang telah mengalami fermentasi dengan baik umumnya memiliki aroma fermentasi yang khas. IPB Digitani menyebut aroma seperti tapai sebagai salah satu tanda proses fermentasi berjalan baik.

Sebaliknya, bau busuk yang sangat menyengat dapat menjadi tanda bahwa proses tidak berlangsung sebagaimana mestinya. Wadah fermentasi juga perlu dikelola dengan hati-hati karena aktivitas mikroorganisme dapat menghasilkan gas.

Setelah fermentasi selesai, saring cairan menggunakan kain atau saringan. Ampasnya tidak perlu langsung dibuang karena masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik padat setelah diproses dengan tepat. Metode pemanfaatan ampas sebagai pupuk padat juga disebutkan dalam panduan IPB Digitani mengenai pengolahan limbah rumah tangga.

6. Simpan dan gunakan sesuai kebutuhan tanaman

Cairan hasil fermentasi dapat dipindahkan ke botol atau wadah penyimpanan yang bersih. Jangan mencampurkannya dengan bahan kimia atau cairan pembersih karena dapat mengganggu kualitas pupuk.

Penggunaan pupuk organik sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Jangan langsung menganggap pupuk hasil fermentasi dapat digunakan dalam konsentrasi tinggi. Jika akan diaplikasikan sebagai semprotan atau larutan siram, pengenceran dan dosis sebaiknya mengikuti formula yang telah teruji atau petunjuk penggunaan bahan yang digunakan.

IPB Digitani juga menekankan bahwa kebutuhan hara berbeda berdasarkan fase pertumbuhan. Untuk fase vegetatif, bahan yang relatif kaya nitrogen dapat lebih banyak digunakan, sedangkan tanaman yang memasuki fase berbunga atau berbuah membutuhkan pendekatan berbeda, termasuk perhatian terhadap sumber kalium.

Pilihan Pupuk Organik Padat dari Kotoran Ternak

Selain POC, pupuk organik dapat dibuat dalam bentuk padat. Metode ini cocok untuk tanaman yang tumbuh di tanah, kebun, maupun beberapa tanaman dalam wadah berukuran besar.

Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng memberikan contoh pengomposan menggunakan kotoran ternak, arang sekam, serbuk gergaji, dolomit, dan starter. Kotoran yang masih terlalu basah perlu ditiriskan terlebih dahulu. Bahan kemudian ditumpuk dan dibiarkan mengalami proses inkubasi sebelum dilakukan pembalikan secara berkala.

Untuk skala rumah, prinsipnya dapat diterapkan dengan jumlah bahan yang jauh lebih kecil. Kotoran ternak yang telah matang atau bahan organik dapat dicampur dengan bahan kaya karbon seperti daun kering atau sekam. Campuran kemudian dijaga kelembapannya dan dibalik secara berkala agar proses penguraian berjalan lebih merata.

IPB Digitani juga menjelaskan bahwa pembuatan kompos dari kotoran kambing dapat menggunakan jerami, abu dapur, kapur, dan starter bakteri. Tempat pengomposan sebaiknya terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung, sementara kadar air bahan perlu dikondisikan agar tidak terlalu basah.

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Membuat Pupuk Organik

Meskipun terlihat sederhana, pembuatan pupuk organik tetap membutuhkan kehati-hatian. Bahan organik yang tidak tepat atau proses fermentasi yang tidak terkendali dapat menghasilkan pupuk dengan kualitas kurang baik.

Salah satu hal penting adalah tidak menggunakan sembarang limbah hewan. IPB Digitani secara khusus menyarankan menghindari sisa dari hewan menyusui untuk pembuatan POC karena terdapat peluang membawa patogen yang dapat membahayakan manusia.

Selain itu, jangan memasukkan sampah rumah tangga yang mengandung bahan kimia, minyak dalam jumlah banyak, atau benda nonorganik. Pisahkan limbah dapur sejak awal agar bahan yang masuk ke wadah fermentasi memang sesuai untuk diolah.

Pupuk organik juga tidak selalu mempunyai kandungan hara yang seragam. Kandungan nutrisi sangat bergantung pada bahan baku dan metode pengolahannya. Karena itu, pupuk organik buatan sendiri sebaiknya dipandang sebagai salah satu sumber nutrisi, bukan jaminan bahwa semua kebutuhan hara tanaman otomatis terpenuhi.

Dengan memahami prinsip tersebut, cara membuat pupuk organik tanpa pupuk kimia dapat menjadi kegiatan sederhana yang sekaligus mengurangi limbah rumah tangga. Bahan yang sebelumnya dibuang dapat dikembalikan ke lingkungan melalui proses penguraian dan dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Pertanyaan Seputar Membuat Pupuk Organik

1. Apakah pupuk organik bisa dibuat tanpa pupuk kimia?

Bisa. Pupuk organik dapat dibuat menggunakan bahan alami seperti daun, sisa sayuran, kulit buah, jerami, kompos, dan kotoran ternak yang diolah dengan tepat. Proses penguraian dapat berlangsung dengan bantuan mikroorganisme alami atau dekomposer.

2. Berapa lama pupuk organik cair harus difermentasi?

Lama fermentasi bergantung pada metode dan bahan yang digunakan. IPB Digitani menjelaskan metode sederhana yang difermentasi setidaknya dua minggu, sedangkan metode anaerob tertentu dapat berlangsung sekitar 7–10 hari. Karena itu, tanda kematangan dan kondisi fermentasi perlu diperhatikan, bukan hanya menghitung jumlah hari.

3. Apakah sisa sayuran dan kulit buah bisa dijadikan pupuk?

Bisa. Sisa tanaman, sayuran, dan kulit buah dapat menjadi bahan pupuk organik cair setelah dicacah dan melalui proses dekomposisi. Jenis bahan yang berbeda dapat memberikan komposisi unsur hara yang berbeda pula.

4. Apakah pupuk organik cair harus menggunakan EM4?

Tidak selalu. IPB Digitani menjelaskan bahwa dekomposisi dapat dibantu menggunakan tanah atau pupuk kandang matang, dekomposer yang telah teruji, atau kombinasi keduanya. Bioaktivator seperti EM4 merupakan salah satu pilihan untuk membantu proses fermentasi, bukan satu-satunya cara.

5. Apakah pupuk organik bisa langsung diberikan dalam jumlah banyak?

Sebaiknya tidak. Kebutuhan nutrisi berbeda menurut jenis tanaman dan fase pertumbuhannya. Gunakan pupuk sesuai metode, konsentrasi, dan kebutuhan tanaman. Untuk pupuk cair hasil fermentasi rumahan, pengenceran dan pengujian pada sebagian kecil tanaman terlebih dahulu dapat menjadi langkah yang lebih aman.

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6