Cara Melindungi Tanaman dari Siput dan Bekicot agar Daun Tetap Utuh dan Sehat

Siput dan bekicot merusak tanaman. Lindungi kebun dengan sanitasi, penghalang fisik, perangkap, predator alami, hingga moluskisida. Kenali perbedaan hama dan ca

Diterbitkan 20 Agustus 2026, 10:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tanaman di pekarangan tiba-tiba memiliki lubang-lubang tidak beraturan pada daun? Bisa jadi siput dan bekicot menjadi penyebabnya. Mengetahui cara melindungi tanaman dari siput dan bekicot penting dilakukan, terutama pada kebun yang lembap dan banyak tanaman muda dengan daun lunak.

Hama moluska ini sering bekerja tanpa terlihat karena lebih aktif pada malam hari, saat udara sejuk, atau ketika kondisi lingkungan basah. Pada pagi hari, keberadaannya biasanya baru diketahui dari jejak lendir mengilap dan daun yang sudah rusak.

Meski kerap dianggap sepele karena bergerak lambat, siput dan bekicot dapat menyebabkan kerusakan cukup besar apabila populasinya tidak dikendalikan. Kabar baiknya, perlindungan tanaman dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari menjaga kebersihan kebun hingga membuat penghalang di sekitar tanaman. Berikut ulasan Liputan6.com, Kamis (20/8/2026).

1. Periksa Tanaman pada Malam atau Pagi Hari

 

Langkah pertama dalam cara melindungi tanaman dari siput dan bekicot adalah mengetahui kapan hama tersebut muncul. Pada siang hari, siput dan bekicot cenderung bersembunyi di tempat yang teduh dan lembap.

Cobalah melakukan pemeriksaan setelah matahari terbenam dengan bantuan senter. Periksa bagian bawah daun, permukaan tanah, celah di sekitar pot, serta area di bawah batu, papan, ranting, dan tumpukan daun.

Jejak lendir berwarna keperakan juga dapat menjadi petunjuk. Jika jejak tersebut ditemukan bersama daun berlubang, kemungkinan besar siput atau bekicot sedang aktif di sekitar tanaman.

2. Ambil Siput dan Bekicot Secara Manual

Pengendalian mekanis merupakan salah satu metode sederhana yang dapat diterapkan di pekarangan. IPB Digitani merekomendasikan pengambilan hama secara langsung, kemudian mengumpulkannya untuk dimusnahkan.

Cara ini memang membutuhkan ketelatenan, tetapi cukup praktis jika jumlah hama belum terlalu banyak. Gunakan sarung tangan ketika mengambil siput atau bekicot agar tangan tetap bersih.

Garden Design juga menyarankan pemeriksaan pada malam hari atau pagi ketika hama masih aktif. Siput dan bekicot yang ditemukan dapat dikumpulkan ke dalam wadah, kemudian ditangani dengan cara yang aman dan sesuai kondisi kebun.

Pengambilan secara rutin juga membantu mencegah hama berkembang biak dan mengurangi jumlah individu yang dapat menyerang tanaman berikutnya.

3. Bersihkan Gulma dan Sisa Tanaman

Lingkungan kebun yang terlalu rimbun menyediakan banyak tempat persembunyian bagi siput dan bekicot. Gulma, daun gugur, ranting, serta sisa tanaman yang menumpuk dapat menciptakan tempat yang teduh dan lembap.

Karena itu, sanitasi lingkungan menjadi bagian penting dalam pengendalian hama moluska. IPB Digitani menyarankan membersihkan gulma di sekitar tanaman agar tempat berlindung hama berkurang.

Garden Design juga menekankan pentingnya membuang daun mati dan sisa tanaman dari area kebun. Tumpukan bahan organik yang terlalu banyak dapat menjadi tempat siput dan bekicot bersembunyi pada siang hari.

Namun, bukan berarti seluruh bahan organik harus dibuang. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai terdapat tumpukan basah dan padat tepat di sekitar tanaman yang rentan diserang.

4. Kurangi Kelembapan Berlebihan

Siput dan bekicot menyukai lingkungan yang lembap. Oleh sebab itu, pengaturan penyiraman menjadi salah satu cara penting untuk membuat kebun kurang menarik bagi hama tersebut.

IPB Digitani menyarankan penyiraman dilakukan pada pagi hari. Dengan demikian, permukaan tanah memiliki waktu lebih panjang untuk mengering sebelum malam, ketika gastropoda mulai aktif.

Hindari penyiraman berlebihan yang membuat air menggenang. Pastikan pula pot memiliki lubang drainase yang cukup sehingga kelebihan air dapat keluar dengan baik.

Jika memungkinkan, gunakan sistem irigasi yang mengarahkan air langsung ke media tanam. Garden Design merekomendasikan irigasi tetes atau selang peresap sebagai alternatif penyiraman dari atas karena dapat mengurangi air yang tertinggal pada daun dan permukaan kebun.

5. Buat Area Kebun Tidak Nyaman bagi Hama

Selain membersihkan gulma, perhatikan pula jarak antar tanaman. Tanaman yang terlalu rapat membuat sirkulasi udara buruk dan menyebabkan permukaan tanah lebih lama lembap.

Menjarangkan tanaman dan memangkas bagian yang terlalu rimbun dapat membantu memperbaiki sirkulasi udara. Area di antara tanaman pun menjadi lebih cepat kering.

Garden Design menyarankan agar mulsa tidak dibuat terlalu tebal dan tidak ditempatkan menempel pada pangkal tanaman. Mulsa yang terlalu tebal dan basah dapat menjadi tempat persembunyian siput dan bekicot.

Dengan pengelolaan lingkungan yang tepat, kebun tidak perlu dibuat benar-benar kering. Tujuannya adalah menghindari kondisi lembap berlebihan yang menjadi tempat ideal bagi hama moluska.

6. Gunakan Perangkap Sederhana

Perangkap dapat menjadi pilihan ketika jumlah siput dan bekicot mulai meningkat. Garden Design menyebut papan datar yang diletakkan sedikit terangkat dari tanah dapat menjadi tempat berlindung yang menarik bagi siput dan slug.

Pada pagi hari, bagian bawah papan dapat diperiksa untuk menemukan hama yang berkumpul di tempat teduh. Cara serupa dapat dilakukan dengan memanfaatkan kulit melon atau kulit buah tertentu sebagai tempat berlindung.

Perangkap perlu diperiksa secara rutin. Jika dibiarkan tanpa pengawasan, metode ini tidak akan memberikan hasil optimal karena hama yang terkumpul masih dapat kembali ke kebun.

7. Pasang Penghalang di Sekitar Tanaman

Penghalang fisik dapat membantu melindungi tanaman yang sangat rentan. Garden Design mencantumkan pita tembaga sebagai salah satu pilihan, terutama pada bedeng tanam atau pot tertentu. Lendir siput dan slug bereaksi dengan tembaga sehingga dapat menghalangi hama melewati permukaan tersebut.

Untuk kebun yang menggunakan bedeng, pita dapat ditempatkan pada bagian tepi yang menjadi jalur masuk hama. Pastikan tanaman tidak memiliki daun atau batang yang menjulur melewati penghalang dan menyentuh tanah di sisi luar.

Garden Design juga menyebut tanah diatom sebagai salah satu bahan penghalang dengan tekstur kasar. Namun, bahan tersebut perlu diaplikasikan kembali setelah terkena hujan atau penyiraman karena efektivitas penghalang dapat berkurang ketika basah.

8. Jangan Terlalu Mengandalkan Ampas Kopi dan Cangkang Telur

Cangkang telur yang dihancurkan dan bubuk kopi sering digunakan sebagai cara rumahan untuk mengusir siput dan bekicot. IPB Digitani memang mencantumkan cangkang telur, pasir kasar, dan kopi sebagai bahan yang dapat digunakan di sekitar tanaman.

Namun, perlu dibedakan antara metode tradisional yang digunakan sebagian pekebun dan metode yang memiliki bukti efektivitas lebih kuat. Garden Design, dengan merujuk pada informasi UC IPM, menyebut belum terdapat bukti jelas bahwa bubuk kopi atau cangkang telur benar-benar efektif sebagai penghalang siput dan slug.

Karena itu, kedua bahan tersebut sebaiknya tidak menjadi satu-satunya metode pengendalian. Lebih baik mengombinasikannya dengan sanitasi, pengambilan manual, pengaturan penyiraman, perangkap, dan penghalang fisik.

Penggunaan garam juga perlu sangat hati-hati. IPB Digitani menjelaskan bahwa garam dapat menarik cairan dari tubuh gastropoda, tetapi penggunaan berlebihan berisiko memengaruhi kualitas tanah. Jadi, jangan menaburkan garam secara sembarangan langsung ke area media tanam.

9. Manfaatkan Musuh Alami

Tidak semua siput dan bekicot harus dibasmi secara berlebihan. Sebagian gastropoda memiliki peran dalam ekosistem, termasuk membantu menguraikan bahan organik dan menjadi sumber makanan bagi hewan lain.

Garden Design menyebut katak, kodok, kura-kura, ular, dan burung sebagai beberapa hewan yang dapat memangsa slug. Sementara itu, IPB Digitani juga menekankan pentingnya konservasi musuh alami seperti katak, kodok, ular, dan burung.

Karena itu, kebun dapat dikelola agar tetap mendukung keberadaan predator alami. Hindari penggunaan bahan pengendali secara berlebihan yang justru dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

10. Pertimbangkan Tanaman yang Kurang Disukai Siput

Jika suatu area kebun berulang kali mengalami serangan, pemilihan tanaman juga dapat menjadi bagian dari strategi. Garden Design menyebut tanaman dengan aroma kuat seperti lavender, rosemary, dan sage cenderung kurang disukai siput dan slug dibandingkan tanaman dengan daun lunak yang menjadi favorit mereka.

Tanaman berdaun lebih keras, berbulu, atau berduri juga secara umum lebih sulit dimakan dibandingkan daun yang lembut. Strategi ini tidak berarti siput dan bekicot sama sekali tidak akan mendekati tanaman tersebut, tetapi dapat membantu mengurangi risiko kerusakan pada area tertentu.

Tanaman yang sangat disukai hama juga dapat ditempatkan secara strategis sebagai tanaman perangkap. Namun, tanaman tersebut harus tetap diperiksa dan hama yang berkumpul perlu segera dikendalikan.

11. Gunakan Pestisida Nabati dengan Bijak

IPB Digitani mencatat sejumlah bahan nabati yang berpotensi digunakan untuk mengendalikan hama moluska, seperti kriyu, sirsak, serai, lengkuas, dan kelompok bawang-bawangan. Ekstrak bawang putih, misalnya, disebut memiliki aktivitas toksik sekaligus efek antifeedant dan repellent.

Pestisida nabati dapat menjadi pilihan tambahan ketika pengendalian mekanis dan pengelolaan lingkungan belum cukup. Namun, penggunaan bahan nabati tetap perlu dilakukan secara hati-hati.

Sebaiknya lakukan uji pada sebagian kecil tanaman terlebih dahulu untuk melihat apakah terjadi gejala terbakar atau kerusakan daun. Hindari menganggap bahan alami selalu aman dalam konsentrasi berapa pun.

IPB Digitani juga mencatat penggunaan larutan amonia sebagai salah satu metode. Namun, sumber tersebut mengingatkan bahwa larutan dapat membakar daun apabila terkena semprotan. Karena risikonya terhadap tanaman, metode ini sebaiknya tidak dilakukan sembarangan.

12. Gunakan Moluskisida sebagai Pilihan Terakhir

Jika serangan sudah berat dan metode nonkimia tidak mampu menekan populasi, moluskisida dapat dipertimbangkan sesuai label dan aturan penggunaan produk. Pemilihan produk harus memperhatikan tanaman yang dilindungi, lingkungan sekitar, serta keberadaan anak-anak dan hewan peliharaan.

Garden Design menyarankan untuk berhati-hati terhadap umpan siput berbahan metaldehida karena bahan tersebut dapat beracun jika tertelan manusia atau hewan peliharaan. Sumber tersebut menyebut umpan berbahan zat besi fosfat sebagai salah satu alternatif yang digunakan untuk pengendalian siput dan slug.

Sementara itu, IPB Digitani juga membahas penggunaan moluskisida sintetik. Apa pun produk yang dipilih, ikuti dosis, cara aplikasi, dan peringatan yang tercantum pada label. Jangan meningkatkan dosis dengan anggapan bahwa semakin banyak bahan akan semakin efektif.

13. Terapkan Beberapa Metode Sekaligus

Tidak ada satu cara yang selalu cocok untuk semua kondisi kebun. Pengendalian siput dan bekicot akan lebih efektif apabila dilakukan secara terpadu.

Misalnya, kebun dapat dibersihkan dari gulma dan tumpukan daun, kemudian penyiraman dipindahkan ke pagi hari. Pada malam hari, tanaman diperiksa dan siput atau bekicot yang terlihat diambil secara manual. Penghalang fisik dapat ditambahkan pada tanaman yang paling sering menjadi sasaran.

Pendekatan seperti ini membuat lingkungan kurang mendukung kehidupan hama sekaligus mengurangi jumlah individu yang menyerang tanaman. Dengan pemeriksaan rutin, tindakan pengendalian juga dapat dilakukan sebelum kerusakan menjadi parah. 

 

Mengenali Siput dan Bekicot sebagai Hama Tanaman

Siput dan bekicot termasuk kelompok moluska dari kelas Gastropoda. Berdasarkan penjelasan IPB Digitani, gastropoda bercangkang umumnya disebut siput, sedangkan jenis yang tidak memiliki cangkang dikenal sebagai siput telanjang atau slug. Beberapa spesies yang dapat menyerang tanaman antara lain Achatina fulica, Filicaulis bleekeri, dan Parmarion pupillaris.

Serangan hama ini relatif mudah dikenali. Daun tanaman yang sebelumnya sehat dapat berubah menjadi berlubang dengan bentuk tidak beraturan. Pada serangan berat, bagian daun dapat habis dimakan sehingga tanaman kehilangan permukaan untuk melakukan fotosintesis.

Tanaman sayuran, tanaman hias, bunga-bungaan, hingga tanaman dengan daun muda dapat menjadi sasaran. Garden Design juga menjelaskan bahwa siput dan slug aktif terutama pada malam hari atau ketika kondisi mendung, sejuk, dan lembap. Karena itu, pemeriksaan tanaman sebaiknya tidak hanya dilakukan pada siang hari.

Pertanyaan Seputar Siput dan Bekicot

1. Mengapa siput dan bekicot sering muncul setelah hujan?

Siput dan bekicot menyukai kondisi lembap. Setelah hujan, permukaan tanah dan tanaman menjadi basah sehingga kondisi lingkungan lebih mendukung aktivitas mereka. Karena itu, pemeriksaan tanaman setelah hujan dapat membantu mendeteksi serangan lebih cepat.

2. Kapan waktu terbaik mencari siput dan bekicot?

Waktu yang baik adalah malam hari setelah matahari terbenam atau pagi hari. Hama ini cenderung bersembunyi ketika siang dan panas, kemudian menjadi lebih aktif ketika kondisi sejuk dan lembap.

3. Apakah garam aman untuk membasmi bekicot?

Garam dapat menyebabkan tubuh gastropoda kehilangan cairan, tetapi penggunaannya harus hati-hati. Terlalu banyak garam dapat memengaruhi kualitas tanah dan berpotensi merugikan tanaman. Karena itu, garam sebaiknya tidak digunakan secara berlebihan di area media tanam.

4. Apakah bubuk kopi dan cangkang telur efektif mengusir siput?

Keduanya populer sebagai metode rumahan. IPB Digitani mencantumkan kopi dan cangkang telur sebagai bahan yang dapat digunakan, tetapi Garden Design yang merujuk pada UC IPM menyatakan belum ada bukti jelas bahwa kedua bahan tersebut efektif sebagai penghalang. Sebaiknya gunakan metode tersebut hanya sebagai pelengkap, bukan satu-satunya cara pengendalian.

5. Bagaimana cara mencegah siput dan bekicot kembali?

Kurangi tempat persembunyian dengan membersihkan gulma, daun mati, dan tumpukan bahan organik yang terlalu dekat dengan tanaman. Siram tanaman pada pagi hari, perbaiki drainase, jaga sirkulasi udara, dan periksa tanaman secara rutin pada malam hari. Untuk tanaman yang sangat rentan, tambahkan penghalang fisik atau gunakan metode pengendalian lain yang sesuai.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6