Liputan6.com, Jakarta Setiap keputusan belanja, sekecil apa pun, menyimpan konsekuensi bagi kondisi keuangan dan kenyamanan hidup kita. Memahami apa saja yang perlu dipertimbangkan seseorang sebelum membeli barang menjadi kunci agar uang tidak habis untuk hal yang kurang berguna.
Godaan diskon, tren media sosial, dan kemudahan belanja daring membuat banyak orang tergelincir pada pembelian spontan. Padahal, sederet pertimbangan sebelum membeli barang bisa menyelamatkan kita dari penyesalan sekaligus utang yang tidak perlu.
Kabar baiknya, berpikir sejenak sebelum membayar di kasir tidaklah sulit. Cukup dengan mengenali sejumlah pertanyaan dan faktor kunci, kita dapat berbelanja jauh lebih bijak.
Advertisement
Dalam literatur perilaku konsumen, proses pengambilan keputusan konsumen umumnya dijelaskan melalui lima tahap: pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan evaluasi pascapembelian. Artinya, membeli barang idealnya bukan tindakan mendadak, melainkan sebuah proses yang bisa kita kendalikan.
Pengertian Pertimbangan Sebelum Membeli Barang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5025675/original/057317900_1732696722-fotor-ai-20241127153544.jpg)
Secara sederhana, pertimbangan sebelum membeli barang adalah proses menimbang manfaat, biaya, dan kebutuhan atas suatu produk sebelum uang benar-benar berpindah tangan. Proses ini menuntut kita berpikir kritis, bukan sekadar menuruti dorongan sesaat ketika melihat etalase atau iklan yang menggoda.
Inti dari pertimbangan ini terletak pada kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan sesuatu yang esensial untuk bertahan hidup, sedangkan keinginan hanya menambah kenyamanan dan sebetulnya bisa ditunda.
Kerangka lima tahap pengambilan keputusan pembelian pertama kali dirumuskan oleh filsuf John Dewey pada 1910 dan masih relevan hingga sekarang. Dalam sebuah keputusan pembelian juga dikenal beberapa peran, mulai dari pemrakarsa, pemberi pengaruh, pengambil keputusan, pembeli, hingga pengguna, yang menegaskan bahwa membeli barang bukan proses tunggal yang sederhana.
Dengan memahami definisi tersebut, kita bisa melihat bahwa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli barang bukan cuma soal punya uang atau tidak, melainkan soal apakah pembelian itu benar-benar tepat. Kesadaran inilah yang membedakan konsumen yang bijak dari sekadar pembeli yang menuruti keinginan.
Baca juga: mengenal impulse buying dan cara mencegahnya
Advertisement
Apa Saja yang Perlu Dipertimbangkan Seseorang Sebelum Membeli Barang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3221935/original/084901000_1598605805-pexels-andrea-piacquadio-975250.jpg)
Sebelum memutuskan untuk mengeluarkan uang, ada baiknya kita berhenti sejenak dan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri. Cara ini membantu memisahkan pembelian yang benar-benar penting dari sekadar dorongan sesaat.
Bob Chitrathorn dari Simplified Wealth Management menyarankan agar konsumen lebih mempertimbangkan kembali kebutuhan sebelum membelanjakan uang dan memikirkan apakah dana tersebut bisa digunakan untuk tujuan yang lebih bermanfaat.
Berikut sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli barang agar keputusan belanja terasa lebih tenang dan terukur.
- Kebutuhan atau sekadar keinginan. Tanyakan apakah barang ini benar-benar dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat. Jika hanya keinginan, pembelian biasanya masih bisa ditunda tanpa mengganggu kehidupan sehari-hari. Memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan adalah pijakan pertama.
- Anggaran dan kemampuan finansial. Pastikan harga barang sesuai dengan kemampuan, bukan memaksakan diri hingga mengganggu pos pengeluaran lain. Kebiasaan mengatur keuangan dengan baik akan membuat keputusan belanja jauh lebih aman.
- Kualitas dan daya tahan barang. Barang yang murah belum tentu hemat bila cepat rusak. Pertimbangkan bahan, konstruksi, dan usia pakai, karena kualitas yang baik biasanya memberi kenyamanan sekaligus kesan positif dalam jangka panjang.
- Perbandingan harga di beberapa tempat. Harga produk yang sama bisa berbeda jauh antartoko. Luangkan waktu untuk membandingkan harga sebelum memutuskan agar kita mendapat penawaran terbaik.
- Frekuensi pemakaian dan fungsi. Perkirakan seberapa sering barang akan dipakai. Barang yang hanya digunakan sekali dalam setahun sering kali berakhir menganggur di gudang, sehingga fungsinya perlu benar-benar jelas.
- Ulasan pembeli dan reputasi merek. Terutama saat belanja online, ulasan menjadi jendela untuk melihat pengalaman nyata konsumen lain. Membiasakan diri membaca ulasan produk dan memeriksa reputasi penjual membantu menghindari kekecewaan.
- Biaya tambahan dan perawatan. Jangan lupakan ongkos kirim, biaya servis, baterai, atau aksesori pelengkap. Saat berbelanja kebutuhan bulanan pun, biaya tambahan seperti ongkos kirim wajib dihitung dalam perbandingan harga.
- Ketersediaan alternatif. Kadang tujuan kita bisa tercapai tanpa membeli baru, misalnya dengan menyewa, meminjam, atau membeli barang bekas berkualitas. Menimbang alternatif ini kerap menghemat lebih banyak daripada yang kita bayangkan.
- Nilai jangka panjang dan potensi investasi. Beberapa barang punya nilai yang bertahan lama, bahkan bisa dijual kembali. Untuk kategori ini, membeli barang berkualitas sebagai bagian dari strategi pengelolaan keuangan yang cerdas bisa dibenarkan.
- Waktu pembelian yang tepat. Setiap produk punya siklus harga. Bila tidak mendesak, menunggu masa promo atau musim diskon dapat menghemat pengeluaran secara signifikan.
Membedakan Kebutuhan dan Keinginan Sebelum Membeli Barang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5417351/original/036772900_1763530484-IMG-20251119-WA0006.jpg)
Dari sekian banyak pertimbangan, membedakan kebutuhan dan keinginan adalah fondasi yang paling menentukan. Kebutuhan berhubungan langsung dengan kelangsungan hidup, seperti makanan, tempat tinggal, dan kesehatan, sementara keinginan bersifat pelengkap yang memberi kenyamanan tetapi tidak krusial. Kegagalan memenuhi kebutuhan dasar bisa berdampak serius, sedangkan tidak memenuhi keinginan umumnya hanya menimbulkan kekecewaan sesaat.
Persoalannya, banyak keinginan menyamar sebagai kebutuhan, apalagi ketika status sosial ikut bermain. Dalam piramida ekonomi dikenal kebutuhan tersier yang bersifat prestise dan baru muncul setelah kebutuhan primer serta sekunder terpenuhi. Menyadari posisi sebuah barang dalam piramida ini membantu kita menahan diri dari belanja demi gengsi semata.
Peringatan soal bahaya mengejar keinginan tanpa kendali disampaikan banyak tokoh keuangan. Warren Buffett, investor kawakan dan mantan CEO Berkshire Hathaway, sering dikaitkan dengan nasihat: "Jika Anda membeli barang yang tidak Anda butuhkan, tak lama lagi Anda akan menjual barang yang Anda butuhkan."
Salah satu cara praktis mengelola godaan adalah dengan menerapkan aturan anggaran yang membagi pemasukan ke dalam pos kebutuhan, keinginan, dan tabungan. Dengan batasan yang jelas, keinginan tetap bisa dinikmati sesekali tanpa mengorbankan kestabilan finansial. Kebiasaan ini pula yang membuat kita lebih mudah berbelanja lebih hemat tanpa merasa terkekang.
Advertisement
Menghitung Biaya Sebenarnya Sebelum Membeli Barang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5199398/original/082750900_1745581824-business-asian-women-records-income-expenses-home_7861-1769.jpg)
Banyak orang hanya menatap angka di label dan lupa bahwa harga beli sering kali baru permulaan. Sebuah barang bisa menuntut biaya perawatan, servis, listrik, hingga aksesori pelengkap sepanjang masa pakainya.
Sebagaimana dijelaskan NetSuite, total cost of ownership (TCO) mencakup seluruh biaya langsung dan tidak langsung selama siklus hidup suatu barang, sehingga tidak terbatas pada harga yang dibayarkan saat pembelian awal. Bahkan, banyak analisis keuangan menunjukkan bahwa harga beli awal sering kali hanya merupakan sebagian dari total biaya kepemilikan, sedangkan biaya perawatan, operasional, energi, dan penggunaan jangka panjang dapat menyumbang porsi yang signifikan.
Konsep lain yang membantu adalah biaya per pemakaian (cost per use), yaitu total biaya dibagi jumlah pemakaian aktual. Dalam konteks fesyen, berbagai survei dan laporan keberlanjutan menunjukkan bahwa banyak pakaian dipakai relatif sedikit sebelum jarang digunakan lagi, dan sebagian isi lemari sering tidak terpakai secara rutin. Dengan logika ini, barang berkualitas yang lebih mahal namun awet sering kali justru lebih murah per pemakaian dibandingkan barang murah yang cepat rusak.
Perhitungan semacam ini juga membantu menyingkap biaya peluang (opportunity cost), yaitu manfaat lain yang dikorbankan ketika kita memilih membeli sesuatu. Perencana keuangan Preston D. Cherry menekankan pentingnya mempertanyakan apa yang harus dikorbankan dari tujuan keuangan lain saat mengambil keputusan pengeluaran. Kebiasaan mencatat dan mengatur keuangan pribadi serta lebih sering memakai uang tunai akan membuat biaya-biaya tersembunyi ini lebih terasa nyata.
Cara Menghindari Belanja Impulsif agar Tidak Menyesal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4932095/original/003130400_1724986408-Ilustrasi_belanja_online__belanja__shopping__refund.jpg)
Sebagus apa pun daftar pertimbangan, semuanya bisa buyar oleh satu hal, yaitu belanja impulsif. Perilaku ini merupakan keputusan spontan tanpa perencanaan yang kerap dipicu diskon, iklan, atau suasana hati. Meski begitu, kebiasaan ini bisa diperbaiki secara bertahap. Brian Walsh, Certified Financial Planner (CFP) di SoFi, mengatakan bahwa kebiasaan belanja yang buruk umumnya tidak bisa diperbaiki sepenuhnya dalam semalam, sehingga perubahan kecil dan konsisten lebih realistis untuk dilakukan.
Berikut beberapa cara sederhana untuk menahan dorongan membeli barang secara impulsif.
- Terapkan masa tunda. Beri jeda beberapa jam hingga beberapa hari sebelum membeli barang yang tidak mendesak. Jika keinginan itu memudar setelah masa tunggu, berarti barang tersebut memang tidak terlalu penting.
- Buat daftar belanja dan patuhi. Menyusun daftar sebelum berangkat membantu kita fokus pada yang benar-benar diperlukan. Langkah ini juga efektif untuk menghindari kebiasaan belanja berlebihan.
- Tetapkan anggaran yang realistis. Tentukan batas pengeluaran dan berkomitmen untuk tidak melewatinya. Dengan cara ini, kita tidak mudah tergoda membeli sesuatu di luar kemampuan, sebagaimana ditekankan dalam berbagai strategi mengontrol keuangan.
- Kenali pemicu emosional dan sosial. Belanja sering dijadikan pelarian dari stres atau cara membuktikan status. Dalam buku Love People, Use Things, Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus membahas bagaimana tekanan sosial dan budaya konsumtif dapat mendorong orang terus membeli barang baru, seolah kepemilikan lebih banyak barang akan membuat hidup terasa lebih utuh.
- Ajukan pertanyaan sebelum membayar. Sebelum ke kasir, tanyakan apakah barang ini memberi manfaat nyata dan sebanding dengan harganya. Memahami perbedaan belanja impulsif dan kompulsif membantu kita mengenali pola diri sendiri.
- Utamakan uang tunai daripada kartu kredit. Membayar tunai membuat kita lebih sadar akan jumlah uang yang keluar. Cara ini kerap dianjurkan untuk mereka yang sedang menjaga keuangan agar tidak amburadul.
- Batasi paparan promosi. Notifikasi diskon dan konten belanja terus-menerus memancing keinginan yang sebenarnya tidak ada. Mengurangi paparan ini adalah cara ampuh menghindari belanja impulsif.
Baca juga: mengenali alasan seseorang belanja karena emosi
Baca juga: cara mengatur keuangan rumah tangga secara sederhana
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Pertimbangan Sebelum Membeli Barang
Apa hal pertama yang harus dipertimbangkan sebelum membeli barang?
Hal pertama adalah memastikan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat. Jika sifatnya kebutuhan dan dana tersedia, pembelian bisa dilanjutkan. Namun bila hanya keinginan, sebaiknya tunda dulu dan pertimbangkan faktor lain seperti anggaran, kualitas, serta frekuensi pemakaian.
Bagaimana cara membedakan kebutuhan dan keinginan saat belanja?
Kebutuhan adalah sesuatu yang esensial untuk menjalani hidup, seperti makanan, tempat tinggal, dan kesehatan, sedangkan keinginan hanya menambah kenyamanan dan bisa ditunda. Cara termudah membedakannya adalah bertanya, "Apa yang terjadi jika saya tidak membelinya?" Jika hidup tetap berjalan normal, kemungkinan besar itu adalah keinginan.
Bagaimana agar tidak menyesal setelah berbelanja?
Kuncinya adalah berpikir sebelum membayar, memberi jeda pada pembelian yang tidak mendesak, dan menghitung biaya secara keseluruhan, bukan hanya harga di label. Membuat daftar belanja, menetapkan anggaran, serta membandingkan pilihan juga sangat membantu mengurangi risiko penyesalan dan pemborosan.
Pada akhirnya, berbelanja bijak bukan berarti menahan semua keinginan, melainkan belajar mengambil keputusan finansial secara sadar. Dengan membiasakan diri menimbang setiap hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli barang, kita bisa menikmati apa yang dibeli tanpa dibayangi penyesalan sekaligus menjaga kondisi keuangan tetap sehat.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4562108/original/018876600_1693790769-cek_fakta_gizi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314568/original/051669400_1785750475-cek_fakta_-_prabowo_gibran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5321099/original/046540500_1755663228-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__75_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256352/original/040260500_1781154176-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-11T120248.984.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309233/original/030878200_1785221442-qIkLwPbjIk7VPxw7OzFMRoLrnqMQTgboerP9MXWU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4473583/original/010189000_1687242103-Emi_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5269743/original/092797600_1751358995-Gianni_Infantino.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302387/original/003320700_1784544976-Argentina_s_Nicolas_Otamendi__19__and_Nahuel_Molina__26__scuffle_with_Spain___s_Rodri__16_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294318/original/065079400_1783829517-063_2285706113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9245742/original/085478200_1783138991-verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314843/original/002184700_1785808245-Memilih_Melon_yang_Matang_dan_Manis.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314827/original/029215700_1785807694-fcd04097-5275-428d-8019-faa7aa305cd5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309365/original/028939600_1785225641-85fe5CoPkb7XeiN7PcGJSrLW2KsyrhWe9NkSUe4q.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4681527/original/029738600_1702271706-pexels-sam-lion-6001192.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314675/original/050077800_1785758688-Gemini_Generated_Image_wfc8jewfc8jewfc8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314705/original/022478400_1785762573-2148817315.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314618/original/022873000_1785754289-429eeddc-d0d0-4af5-a09b-9f710ec7831b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5235847/original/008548600_1748436881-horny-short-haired-lady-glasses-with-red-lipstick-is-emotionally-exulting-while-sitting-working-place-with-laptop-croissant.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314594/original/030955300_1785753426-cover_kamar_ma2.jpeg)