DOI adalah Identitas Digital Permanen: Pengertian, Fungsi, Struktur, dan Cara Ceknya

DOI adalah kode unik dan permanen untuk mengidentifikasi objek digital seperti artikel jurnal. Simak pengertian, fungsi, struktur, dan cara ceknya di sini.

Diterbitkan 13 Juli 2026, 14:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Dalam dunia akademik dan publikasi daring, DOI adalah istilah yang hampir selalu muncul ketika seseorang membuka sebuah artikel ilmiah. Kode ini menjadi penanda identitas yang membuat sebuah karya digital dapat dilacak secara akurat di internet.

Dilansir dari doi.org, DOI merupakan pengidentifikasi digital untuk sebuah objek, baik objek fisik, digital, maupun abstrak. Sistem ini dirancang untuk memecahkan satu masalah klasik, yakni menjaga agar setiap objek tetap dapat dilacak dari waktu ke waktu.

Secara ringkas, DOI adalah rangkaian angka dan huruf unik yang berperan sebagai alamat permanen sebuah dokumen. Berbeda dengan tautan biasa yang mudah berubah, kode ini melekat selamanya pada satu objek digital tertentu.

Apa Itu DOI? Pengertian Digital Object Identifier

DOI adalah singkatan dari Digital Object Identifier, yaitu rangkaian karakter alfanumerik unik yang melekat pada satu objek digital. Objek yang dimaksud bisa berupa artikel dalam sebuah jurnal ilmiah, buku, bab buku, kumpulan data, hingga makalah konferensi.

Berdasarkan keterangan USGS, DOI merupakan rangkaian karakter yang unik secara global dan merujuk pada objek fisik, digital, maupun abstrak. Lembaga tersebut menegaskan, "Mereka menyediakan tautan yang dapat ditindaklanjuti, interoperabel, dan permanen menuju informasi tentang objek yang dirujuk."

Sejarah sistem ini bermula ketika DOI diperkenalkan di Frankfurt Book Fair pada 1997, disusul pendirian International DOI Foundation sebagai pengelolanya. Layanan registrasi pertama mulai beroperasi pada 2000, dan sejak itulah para penerbit mulai menyematkan DOI pada dokumen daring mereka.

Fungsi dan Manfaat DOI dalam Publikasi Ilmiah

Meski tidak semua jurnal memilikinya, kehadiran DOI memberi banyak keuntungan bagi penulis, pengelola jurnal, sekaligus pembaca. Fungsinya jauh melampaui sekadar penanda, sebab kode ini menopang cara kerja ekosistem publikasi ilmiah modern.

Mengacu pada sebuah studi analitis berjudul The Importance of the Digital Object Identifier (DOI) in Enhancing the Credibility of Scientific Research, jumlah rekaman ilmiah yang terdaftar dengan DOI telah melampaui 167 juta, dengan lebih dari 30.000 prefiks yang tersebar di lebih dari 150 negara. Studi yang sama menyimpulkan, "DOI bukan sekadar alat organisasi, melainkan elemen sentral dalam struktur penerbitan ilmiah modern."

  1. Identitas unik dan permanen. Satu DOI hanya dimiliki oleh satu objek digital, sehingga risiko tertukar dengan karya lain nyaris tidak ada selama kodenya benar.
  2. Bersifat dapat ditindaklanjuti (actionable). Kode dapat langsung dimasukkan ke peramban dan mengarahkan pengguna ke halaman objek, sebuah proses yang disebut resolusi.
  3. Mencegah tautan rusak (link rot). Ketika artikel berpindah alamat, DOI tetap sama karena penerbit hanya memperbarui lokasi yang dituju, bukan kodenya.
  4. Mempermudah sitasi dan daftar pustaka. DOI menggantikan URL panjang, sehingga proses menyusun daftar pustaka menjadi lebih praktis, terutama saat merujuk jurnal daring.
  5. Meningkatkan visibilitas dan sitasi. Pencantuman DOI mendukung pembaca mengakses sumber asli, sehingga peluang sebuah karya ilmiah dikutip kembali menjadi lebih besar.
  6. Memperkuat kredibilitas dan indeksasi. Artikel ber-DOI lebih mudah terindeks di basis data bereputasi seperti Scopus, Crossref, dan Google Scholar. Sebagaimana disampaikan Crossref, layanannya menaungi lebih dari 90 persen penggunaan DOI global. Crossref menyatakan, "DOI Crossref adalah pengidentifikasi permanen yang dirancang untuk mengidentifikasi objek ilmiah secara unik."
  7. Menghubungkan metadata dan pelacakan dampak. DOI mengikat metadata seperti penulis, afiliasi, dan tahun terbit, sekaligus memungkinkan penghitungan sitasi serta metrik dampak lainnya.

Baca juga: Contoh Jurnal Ilmiah, Pengertian, Jenis, dan Cara Membuatnya

Baca juga: Contoh Paper untuk Diterbitkan di Jurnal Ilmiah

Struktur DOI dan Cara Kerja Sistem Resolusinya

Setiap DOI memiliki susunan yang khas, terdiri atas dua bagian, yaitu prefiks dan sufiks yang dipisahkan oleh tanda garis miring. Contoh paling sederhana adalah 10.1000/182, dengan angka di depan sebagai penanda lembaga pendaftar dan bagian setelahnya sebagai identitas objek yang bisa ditentukan penerbit.

Cara kerjanya bertumpu pada proses yang disebut resolusi. Ketika kode dimasukkan ke peramban melalui doi.org, sistem akan mengarahkan pengguna menuju lokasi objek terkini menggunakan teknologi Handle System. Sebagaimana diungkapkan DataCite, "DOI bersifat persisten dan unik serta menyediakan akses menuju objek yang dirujuk."

Di sinilah letak perbedaan mendasar DOI dengan URL biasa. Alamat web umum dapat berubah atau bahkan hilang seiring waktu, sedangkan DOI tetap konsisten karena penerbit berkomitmen memperbarui halaman tujuan yang tertaut pada kode tersebut.

Dari sisi penulisan, ada beberapa format yang lazim dijumpai, mulai dari gaya lama doi:xxxx hingga bentuk tautan penuh. Format yang paling dianjurkan saat ini adalah bentuk hyperlink seperti https://doi.org/10.1000/182, karena langsung dapat diklik dan mengarahkan pembaca ke sumber aslinya.

Cara Cek dan Mendapatkan DOI Jurnal

Mengecek DOI berguna untuk memastikan sebuah artikel benar-benar ada dan dapat diakses, terutama saat kode itu hendak dicantumkan dalam referensi. Prosesnya mudah dan bisa dilakukan melalui situs resmi penyelesai (resolver) DOI.

Merujuk laporan EBSCO, DOI dipelihara oleh International DOI Foundation dan diberikan melalui agen registrasi, sehingga catatan setiap kode tetap akurat dan terbarui. Berikut langkah praktis untuk mengeceknya:

  1. Buka situs resolver. Kunjungi doi.org atau dx.doi.org melalui komputer maupun ponsel, lalu tunggu hingga halaman utama terbuka sempurna.
  2. Masukkan kode DOI. Salin atau ketik kode unik pada kolom pencarian yang tersedia, kemudian tekan tombol submit atau enter.
  3. Buka artikel hasil pencarian. Sistem otomatis mengarahkan ke halaman objek. Jika artikel bersifat open access, biasanya tersedia opsi untuk mengunduh berkas PDF.
  4. Cek ulang bila tidak ada hasil. Apabila halaman tidak muncul, pastikan kode diketik dengan benar. Jika sudah tepat namun tetap nihil, berarti DOI tersebut tidak valid.

Adapun untuk mendapatkan DOI, pengelola jurnal perlu bekerja sama dengan agen registrasi resmi seperti Crossref atau DataCite. Prosesnya mencakup pendaftaran keanggotaan, penyiapan metadata artikel, penyediaan halaman tujuan (landing page), serta pembayaran biaya layanan. Setelah terdaftar, kode DOI tidak dapat diubah atau dihapus, meski metadata yang menyertainya masih bisa diperbarui kapan saja.

Penulisan DOI dalam referensi juga menyesuaikan gaya sitasi yang dipakai, misalnya APA atau Chicago. Panduan lengkapnya bisa disimak melalui cara menulis daftar pustaka dari buku, jurnal, dan artikel, cara membuat daftar pustaka dari buku, hingga format daftar pustaka dari internet dengan gaya MLA.

Baca juga: Cara Membuat Daftar Pustaka Lengkap yang Benar

Baca juga: Cara Membuat Daftar Pustaka dari Jurnal, Buku, Skripsi, dan Website

Baca juga: Beragam Cara Membuat Daftar Pustaka, Sesuaikan Sumber yang Digunakan

Sekilas Makna "Doi" dalam Bahasa Gaul Indonesia

Perlu dicatat bahwa kata "doi" juga punya makna berbeda dalam percakapan sehari-hari anak muda Indonesia. Berbeda dengan istilah akademik, "doi" dalam ranah ini merupakan bahasa gaul yang sudah lama populer.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata doi memiliki tiga arti, yakni uang yang merujuk pada kata klasik, pacar atau kekasih, dan ia atau dia. Dalam praktiknya, istilah ini paling sering dipakai untuk menyebut pacar tanpa harus menyebut namanya secara langsung.

Bagi yang penasaran dengan sisi lain kata ini, ulasan tentang arti doi dalam bahasa gaul dan berbagai kepanjangan doi ala netizen bisa jadi bahan menarik. Ada pula bahasan soal istilah pacaran dalam bahasa gaul, arti gacor, deretan kata gaul bahasa Inggris, sampai kumpulan kata-kata gaul jaman sekarang.

Baca juga: Ciri-ciri Karya Ilmiah dan Strukturnya yang Ideal

Baca juga: Tujuan Penulisan Karya Ilmiah, Lengkap dengan Struktur dan Manfaatnya

Pertanyaan dan Jawaban Seputar DOI

Apakah DOI sama dengan URL?

Tidak sama. DOI adalah pengidentifikasi unik yang tidak berubah dan menandai satu objek digital secara permanen, sedangkan URL merupakan alamat web yang bisa berubah atau rusak seiring waktu. Jika sebuah sumber memiliki DOI, kode itulah yang sebaiknya diprioritaskan ketimbang URL.

Apakah semua jurnal wajib memiliki DOI?

Tidak wajib. DOI bukan bagian dari standar baku publikasi, sehingga wajar bila ada artikel yang tidak memilikinya, terutama karya yang terbit sebelum sistem ini populer. Namun, kepemilikan DOI biasanya menandakan jurnal dikelola secara serius dan menambah kredibilitasnya.

Di mana letak DOI pada sebuah artikel jurnal?

DOI umumnya tercantum di bagian atas halaman artikel bersama judul, nama penulis, dan informasi publikasi lainnya. Pada berkas PDF hasil unduhan, kode ini kerap muncul di halaman sampul atau di bagian bawah setiap halaman.

Dengan memahami bahwa DOI adalah kunci identitas sebuah karya digital, penulis maupun pembaca dapat lebih cermat dalam menelusuri, mengakses, dan mengutip sumber ilmiah. Semakin terbiasa mengenali dan memanfaatkan kode ini, semakin rapi pula tata kelola referensi yang Anda susun di setiap tulisan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6