60 Peribahasa Jawa dan Artinya, Lengkap dengan Jenis dan Makna untuk Pedoman Hidup

Kumpulan 60 peribahasa Jawa dan artinya, lengkap dengan jenis paribasan, bebasan, saloka, manfaat, serta cara memaknainya sebagai pedoman hidup sehari-hari.

Diterbitkan 07 Juli 2026, 20:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Bahasa Jawa adalah bahasa daerah dengan penutur terbanyak di Indonesia, mencapai puluhan juta orang. Namun sebuah paradoks terjadi, semakin banyak yang bisa berbahasa Jawa, semakin jarang peribahasanya terdengar dalam obrolan sehari-hari generasi muda.

Padahal, satu kalimat sependek alon-alon waton kelakon menyimpan filosofi hidup yang tak lekang zaman. Untuk itu, di kesempatan ini, kami merangkum 60 peribahasa Jawa beserta artinya, jenis-jenisnya, manfaatnya menurut riset, sampai cara memaknainya agar benar-benar bisa Anda pakai.

Kenapa Peribahasa Jawa Masih Relevan Dipelajari Sekarang

Peribahasa Jawa bukan sekadar hiasan bahasa, melainkan warisan lisan yang memadatkan nilai hidup ke dalam kalimat singkat. Ia lahir dari pengalaman berabad-abad dan diwariskan turun-temurun sebagai pedoman bersikap.

Merujuk kajian yang dipublikasikan Atlantis Press, nilai kearifan lokal dalam peribahasa Jawa mencakup kesabaran, kebijaksanaan, penghormatan kepada yang lebih tua, kejujuran, keadilan, hingga menghindari kesombongan. Nilai-nilai itu bersifat universal dan tetap terpakai di ruang kerja, keluarga, maupun media sosial.

Momennya juga tepat. Ketika algoritma dan tren berubah cepat, banyak orang justru mencari pijakan yang membumi. Mempelajari kata-kata pepatah Jawa yang penuh pesan menjadi cara sederhana merawat identitas sekaligus menambah wawasan. Anda juga bisa menelusuri kata bijak Jawa yang penuh nilai kehidupan untuk memperkaya perbendaharaan.

Mengenal Peribahasa Jawa dan Jenis-Jenisnya

Menurut ahli bahasa S. Prawiroatmojo, peribahasa Jawa adalah perumpamaan, ungkapan, atau pepatah yang tidak menggunakan arti sesungguhnya. Dalam bahasa Jawa, ungkapan semacam ini dikenal sebagai paribasan, bebasan, dan saloka.

Berdasarkan penelitian linguistik, telah dipetakan enam jenis unen-unen, yakni paribasan, bebasan, saloka, sanepa, panyandra, dan pepindhan, masing-masing dengan ciri pembeda bentuk dan makna yang khas. Untuk pemula, tiga jenis pertama adalah fondasi paling penting untuk dipahami.

Jenis Ciri Utama Contoh Makna
Paribasan Ungkapan tetap, bermakna kias, tanpa kata perumpamaan Sepi ing pamrih, rame ing gawe Giat bekerja tanpa pamrih
Bebasan Mengandung pengandaian atas suatu keadaan atau sifat Kegedhen empyak kurang cagak Keinginan melebihi kemampuan
Saloka Orang diibaratkan sebagai hewan atau benda Kebo nusu gudel Orang tua bergantung pada yang lebih muda

Memahami perbedaan ini membantu Anda menangkap nuansa tiap ungkapan. Bila ingin menyelami kosakata yang lebih tua, koleksi kata bahasa Jawa yang jarang diketahui bisa jadi titik awal, begitu pula belajar contoh tulisan aksara Jawa untuk memahami akar tulisannya.

Manfaat Mempelajari Peribahasa Jawa

Belajar peribahasa bukan kegiatan nostalgia belaka. Ada manfaat kognitif yang nyata di baliknya. Mengacu pada riset yang terhimpun di ResearchGate, peribahasa sebagai bentuk bahasa kiasan menawarkan manfaat kognitif berupa penguatan berpikir kritis, penalaran abstrak, dan daya ingat, karena pembelajar dituntut melampaui makna harfiah untuk menangkap makna metaforis. Struktur peribahasa yang ritmis dan padat juga membuatnya mudah melekat di memori jangka panjang, sehingga berfungsi sebagai semacam "jangkar" ingatan.

Manfaat lain bersifat karakter dan sosial. Peribahasa seperti aja dumeh atau eling lan waspada berperan sebagai petunjuk moral yang menuntun perilaku. Berdasarkan laporan yang dipublikasikan ERIC, peribahasa memberi individu identitas budaya dan memperkuat ikatan dengan masyarakat, sekaligus menjadi alat pedagogis untuk mengonkretkan konsep abstrak dan menanamkan nilai.

Secara praktis, penguasaan peribahasa juga bernilai untuk profesi kreatif, mulai dari penulis, pendidik, pembuat konten, hingga perancang produk budaya. Banyak orang menjadikannya bahan kata mutiara bahasa Jawa untuk motivasi hidup atau kata-kata motivasi Jawa sebagai pegangan hidup yang dibagikan di media sosial.

60 Peribahasa Jawa dan Artinya Berdasarkan Tema

Agar mudah diingat dan diterapkan, 60 peribahasa berikut dikelompokkan ke dalam enam tema kehidupan. Silakan mulai dari tema yang paling dekat dengan situasi Anda.

Kepemimpinan, Kerendahan Hati, dan Tahu Diri

  • Adigang, adigung, adiguna. Jangan menyombongkan kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian.
  • Aja dumeh. Jangan mentang-mentang punya kelebihan atau kedudukan.
  • Aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa. Jangan merasa bisa, tetapi bisalah merasa (mawas diri).
  • Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.
  • Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana. Nilai diri dari ucapan, nilai penampilan dari pakaian.
  • Sapa sira sapa ingsun. Jangan menggurui atau merendahkan orang tanpa tahu posisi diri.
  • Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Berjuang tanpa banyak pasukan, menang tanpa merendahkan lawan.
  • Aja kaya jambu mete kang kumawani pamer wijine. Jangan gemar memamerkan kepandaian.
  • Ngono ya ngono ning aja ngono. Boleh saja begitu, tetapi jangan sampai berlebihan.
  • Sepi ing pamrih, rame ing gawe. Bekerja giat dan bersemangat tanpa mengharap imbalan.

Kerja Keras, Rezeki, dan Ketekunan

  • Ana dina ana upa. Ada hari ada nasi; selalu ada rezeki bagi yang mau berusaha.
  • Ora obah ora mamah. Tidak bergerak (bekerja), tidak makan.
  • Jer basuki mawa bea. Setiap keberhasilan membutuhkan pengorbanan.
  • Alon-alon waton kelakon. Pelan-pelan asalkan terlaksana dengan baik.
  • Sapa nandur bakal ngunduh. Siapa menanam, dia yang akan menuai.
  • Sapa wani rekasa bakal nggayuh mulya. Siapa berani bersusah payah akan meraih kemuliaan.
  • Kalah cacak menang cacak. Baik atau buruk hasilnya, sebaiknya dicoba dulu.
  • Ngelmu iku kelakone kanthi laku. Ilmu baru terwujud jika dijalani dan dipraktikkan.
  • Dhuwur wekasane, endhek wiwitane. Mulia di akhir meski sederhana di awal.
  • Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Segala penghalang akan disingkirkan; pantang menyerah.

Kebersamaan, Kerukunan, dan Sosial

  • Crah agawe bubrah, rukun agawe santosa. Perselisihan membawa kehancuran, kerukunan membawa kekuatan.
  • Mangan ora mangan ngumpul. Tetap bersatu dalam suka maupun kekurangan.
  • Urip iku urup. Hidup hendaknya menyala dan memberi manfaat bagi sekitar.
  • Tuna satak bathi sanak. Rugi sedikit tidak apa asalkan bertambah saudara.
  • Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan. Meski bukan kerabat, kepergiannya tetap terasa sebagai kehilangan.
  • Desa mawa cara, negara mawa tata. Tiap daerah punya adat dan aturannya sendiri.
  • Memayu hayuning bawana. Berusaha memperindah dan menjaga keindahan dunia.
  • Sadumuk bathuk sanyari bumi. Kehormatan dan tanah, walau sejengkal, layak dipertahankan.
  • Mikul dhuwur mendhem jero. Menjunjung tinggi kebaikan orang tua dan memendam keburukannya.
  • Manunggaling kawula gusti. Bersatunya hamba dengan sifat-sifat Tuhannya.

Nilai kebersamaan ini kerap muncul pula dalam kata bijak bahasa Jawa kuno dan pesan bijak leluhur dalam kata-kata Jawa kuno yang menekankan gotong royong.

Kehati-hatian, Kewaspadaan, dan Kebijaksanaan

  • Becik ketitik ala ketara. Yang baik maupun buruk pada akhirnya akan terlihat.
  • Eling lan waspada. Selalu ingat (kepada Tuhan) dan waspada.
  • Yitna yuwana, lena kena. Yang berhati-hati akan selamat, yang lengah akan celaka.
  • Ana catur mungkur. Menghindari pergunjingan dan perdebatan tak berguna.
  • Angon mangsa. Pandai memilih waktu yang tepat untuk bertindak.
  • Kebat kliwat, gancang pincang. Tindakan tergesa-gesa hasilnya tidak sempurna.
  • Kakehan gludhug kurang udan. Terlalu banyak bicara namun minim bukti.
  • Mburu uceng kelangan deleg. Mengejar hal kecil hingga kehilangan yang besar.
  • Kegedhen empyak kurang cagak. Keinginan atau cita-cita melebihi kemampuan.
  • Nglungguhi klasa gumelar. Menikmati hasil atau kedudukan tanpa bersusah payah.

Sebab-Akibat dan Tanggung Jawab

  • Ngundhuh wohing pakarti. Memetik buah dari perbuatan sendiri.
  • Anak polah bapa kepradhah. Ulah anak, orang tua ikut menanggung akibatnya.
  • Kacang ora ninggal lanjaran. Sifat anak tidak akan jauh berbeda dari orang tuanya.
  • Sapa salah seleh. Yang berbuat salah pada akhirnya akan kalah dan mengakuinya.
  • Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti. Segala angkara murka akan luruh oleh kebaikan.
  • Nabok nyilih tangan. Mencelakai orang dengan meminjam tangan orang lain; pengecut.
  • Kriwikan dadi grojogan. Masalah kecil yang dibiarkan berubah menjadi besar.
  • Utang lara nyaur lara, utang pati nyaur pati. Perbuatan akan berbalas setimpal dengan yang diperbuat.
  • Gusti Allah ora sare. Tuhan tidak pernah tidur; tak ada yang luput dari pengawasan-Nya.
  • Ana daulate ora ana begjane. Nyaris memperoleh keberuntungan, tetapi akhirnya tidak jadi.

Cinta, Keluarga, dan Pandangan Hidup

  • Witing tresna jalaran saka kulina. Cinta tumbuh karena terbiasa bersama.
  • Bibit, bebet, bobot. Menilai seseorang dari asal-usul, latar belakang, dan kualitas dirinya.
  • Swarga nunut neraka katut. Baik-buruk kehidupan keluarga saling terikat dan ikut ditanggung bersama.
  • Wani ngalah luhur wekasane. Berani mengalah justru berujung mulia.
  • Nrima ing pandum. Menerima dengan ikhlas apa yang telah menjadi bagian.
  • Sabar iku ingaran mustikaning laku. Kesabaran adalah permata dalam laku kehidupan.
  • Cebol nggayuh lintang. Mengharapkan sesuatu yang mustahil diraih.
  • Nguyahi banyu segara. Melakukan hal yang sia-sia, seperti menggarami air laut.
  • Aja golek wah, mengko dadi owah. Jangan bekerja demi mencari pujian, agar tidak berujung celaka.
  • Golek banyu apikulan warih, golek geni adedamar. Mencari kebaikan pun harus berbekal kebaikan.

Kata Ahli tentang Kekuatan Peribahasa

Para pakar telah lama menaruh perhatian pada peribahasa sebagai objek kajian serius yang disebut paremiologi. Salah satu definisi klasik datang dari abad ke-19. Lord John Russell, dikutip dari Forbes, menyebut, "Peribahasa adalah kecerdasan satu orang, dan kebijaksanaan orang banyak."

Sementara itu, ahli paremiologi Wolfgang Mieder, mendefinisikan, "Peribahasa adalah kalimat pendek yang umum dikenal masyarakat, berisi kebijaksanaan, kebenaran, moral, dan pandangan tradisional dalam bentuk metaforis, baku, dan mudah diingat, yang diwariskan dari generasi ke generasi."

Dua pandangan ini menegaskan bahwa peribahasa Jawa berdiri sejajar dengan tradisi kebijaksanaan dunia. Ia ringkas, mudah diingat, dan sarat pesan, persis seperti yang kita temui dalam kata bijak bahasa Jawa yang berisi nilai luhur.

Cara Memaknai dan Menerapkan Peribahasa Jawa

Menghafal saja tidak cukup. Agar peribahasa benar-benar hidup, ikuti langkah sederhana berikut.

  • Pahami arti harfiahnya lebih dulu. Terjemahkan kata per kata, misalnya ngundhuh (memetik) dan woh (buah).
  • Gali makna kiasnya. Tanyakan pelajaran hidup apa yang disampaikan di balik gambaran itu.
  • Kaitkan dengan konteks nyata. Cocokkan satu peribahasa dengan situasi yang sedang Anda hadapi hari ini.
  • Gunakan dalam percakapan. Selipkan saat berkirim pesan, menulis caption, atau menasihati dengan halus.
  • Ajarkan kembali. Cara tercepat menguasai sesuatu adalah menjelaskannya kepada orang lain.

Kesalahan pemula yang paling umum ada tiga. Pertama, memaknai peribahasa secara harfiah sehingga pesannya hilang. Kedua, salah menempatkan konteks, misalnya memakai sindiran keras pada momen yang tidak tepat. Ketiga, berhenti di hafalan tanpa pernah mempraktikkannya.

Untuk latihan ringan, Anda bisa memulai dari kata-kata Jawa singkat yang menghibur, lalu naik ke kata-kata bijak kehidupan untuk motivasi, dan merenungkan kata mutiara bijak kehidupan sebagai bahan refleksi harian.

Melestarikan Peribahasa Jawa di Era Digital

Kabar baiknya, pelestarian kini bisa dimulai dari ponsel. Generasi muda bahkan menciptakan unen-unen baru bernuansa humor, sebuah tanda bahwa tradisi ini masih bernapas dan beradaptasi.

Anda bisa ikut berkontribusi dengan membagikan satu peribahasa disertai artinya di media sosial, membuat konten edukatif, atau menyisipkannya dalam tulisan. Referensi kreatif banyak tersedia, mulai dari kata mutiara bahasa Jawa yang lucu, kata mutiara gokil bahasa Jawa, hingga kata-kata motivasi lucu Jawa untuk status.

Untuk menegur secara halus, tradisi Jawa mengenal seni sindiran yang tetap menjaga tata krama, seperti terlihat pada kumpulan kata sindiran bahasa Jawa yang halus. Selain lewat konten, pelestarian juga bisa didukung dengan membaca kamus peribahasa, mengikuti komunitas budaya Jawa di media sosial, serta memanfaatkan muatan lokal bahasa Jawa di sekolah.

Pada akhirnya, satu peribahasa yang dipahami dan diamalkan jauh lebih berharga daripada seratus yang sekadar dihafal. Mulailah dari satu yang paling menyentuh Anda hari ini, lalu jadikan ia penuntun langkah, karena seperti pesan para leluhur, urip iku urup, hidup memang seharusnya menyala dan memberi manfaat.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Peribahasa Jawa

Apa perbedaan paribasan, bebasan, dan saloka?

Ketiganya sama-sama peribahasa Jawa yang bentuknya tetap, tetapi berbeda cara berkiasnya. Paribasan bermakna kias secara lugas tanpa perumpamaan, bebasan memakai pengandaian atas suatu keadaan atau sifat, sedangkan saloka mengibaratkan seseorang sebagai hewan atau benda. Contohnya, sepi ing pamrih rame ing gawe tergolong paribasan, sementara kebo nusu gudel termasuk saloka.

Apa contoh peribahasa Jawa yang paling terkenal beserta artinya?

Beberapa yang paling sering dipakai adalah alon-alon waton kelakon (pelan-pelan asalkan terlaksana), becik ketitik ala ketara (kebaikan dan keburukan akhirnya akan terlihat), ngundhuh wohing pakarti (memetik buah perbuatan sendiri), dan urip iku urup (hidup harus memberi manfaat). Peribahasa-peribahasa ini populer karena maknanya universal dan mudah diterapkan sehari-hari.

Mengapa peribahasa Jawa penting dipelajari generasi muda?

Peribahasa Jawa memuat nilai kesabaran, kerendahan hati, kerja keras, dan kerukunan yang tetap relevan sampai kini. Selain menjaga identitas budaya, mempelajarinya melatih berpikir kritis dan penalaran metaforis karena menuntut pemahaman melampaui makna harfiah. Menguasainya juga bermanfaat untuk menulis, mengajar, maupun membuat konten yang lebih bermakna.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6